
STOP PLAGIAT DAN HARGAI KELUARGA SAYA YANG MEMILIKI KISAH INI! JIKA MAU MENCARI UANG, CARILAH YANG HALAL.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Rena turun menuju dapur untuk melihat menu makanan malam itu. Tanpa di minta, ia mulai membantu kedua asisten rumah tangganya untuk menyiapakan makanan di meja makan.
Memastikan lebih dulu jika semua telah siap, Rena beranjak untuk memanggil anak dan suaminya yang tengah asik berbincang di ruang tamu. Entah apa yang mereka bincangkan hingga suara tawa mereka terdengar sampai dapur dan membuat semua orang yang mendengarnya ikut tersenyum.
"Sayang, sudah yuk bercandanya. Sekarang waktunya makan," lembut Rena pada Aulia sembari duduk disamping putri tengah digelitik perutnya hingga terpingkal.
"Iya, Mami." Aulia menjawab lalu memberikan pelukan juga ciuman sebelum ia berlari mendahului ke ruang makan.
"Sayang, engga boleh lari lari di dalam rumah!" teriak Rena khawatir melihat anaknya berlari menuju meja makan, hanya dilihat oleh Dimas dengan senyum senyum melihat tingkah anaknya.
"Pak, mari makannya sudah siap. Kasihan Aulia kalau nunggu kelamaan nanti," ucap Rena kepada suaminya dan beranjak dari duduk dengan membawa kue yang dibawanya dari pulang kantor untuk Aulia.
Tanpa menjawab perkataan Rena, Dimas menarik pergelangan Rena hingga ia terjatuh dengan posisi duduk di atas paha. Dengan reflex tangan kiri Rena bertumpu pada dada bidang Dimas agar tidak lebih jatuh lagi ke arah suaminya, tangan kiri Dimas memegangi pinggang Rena untuk menahan.
Dimas tidak menyangka jika istrinya akan terjatuh dengan posisi seperti itu, karena ia hanya ingin menarik istrinya pelan. Namun Rena yang kehilangan keseimbangan akhirnya terjatuh pada posisi yang membuat mereka berdua kini saling beradu mata canggung.
"Jangan panggil saya Pak, jangan bicara formal sama Saya, kamu istri Saya bukan bawahan Saya!" ucap Dimas pada Rena sambil menatap tajam kedua mata indah dekat dengan wajahnya.
Tanpa menjawab apa pun, Rena segera bangkit dari posisinya dengan wajah merah padam merasa sangat malu. Ia menyisipkan rambutnya di belakang telinga dan bergegas cepat menghampiri Aulia yang sudah teriak teriak ingin makan.
__ADS_1
Dimas benar benar ingin mencoba menjalani kehidupannya kini. Memberikan apa yang seharusnya di dapatkan Rena sebagai seorang istri tanpa ada syarat ataupun bayang bayang dari seseorang telah memutus hubungan dengan mengganti nomor usai mengatakan segala diinginkan.
"Apa yang aku lakukan? dan apa ini?" batin Dimas mengusap usap dada dengan tangan kanannya, merasa sangat sesak dengan degupan hadir tanpa diketahui maksudnya. Ia merasakan sedikit hawa panas yang berdesir dari dalam tubuh, mencoba menyadarkan diri dengan menarik dalam dalam napas lalu menghembuskannya kasar kemudianmulai bangkit dari duduk untuk melangkah menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan, Dimas menarik kursi yang terdapat dibawah meja makan dan segera duduk. Dengan sigap Rena mengambilkan makanan untuk suami dan anak tersayangnya.
"Ini buat sayangnya Mami," ucap Rena meletakkan piring berisi makanan untuk Aulia dan mendaratkan ciuman di ujung kepala putrinya.
"Terimakasih, Mami. Auli makan sendiri saja," ucap Aulia pada menatap perempuan berdiri disampingnya.
"Oh, anak Mami hebat sekarang." Puji Rena tersenyum mengelus rambut putri juga melemparkan senyum.
Setelah memberikan makan untuk Aulia, kini Rena mulai menyodorkan piring berisi makanan lengkap dengan lauk pada Dimas beriringan perasaan canggung setelah apa yang terjadi tadi di ruang tamu barusan.
"Ini, Pak. Silahkan makan," sopan Rena menundukkan pandangan, dengan cepat Dimas menahan pergelangan tangan Rena di hadapannya.
"Kamu panggil apa?" tanya Dimas menatap mata perempuan tampak gugup dan semakin menundukkan wajahnya.
"Ehm, itu maksud Saya.. Pak, eh mas," sahut Rena gugup dan wajah kembali bersemu merah.
Dimas tersenyum bahagia mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan mas, panggilan sama sempat dilontarkan seseorang yang memilih untuk melepaskan demi kebahagiaan Dimas.
__ADS_1
Ketiganya menikmati makanan mereka bersama, dengan Rena dan Dimas tetap merasa sedikit malu akan apa yang telah terjadi di antara mereka. Keduanya saling memalingkan pandangan ketika pandangan mereka tanpa sengaja mulai bertemu.
Sesuap demi seuap makanan mereka nikmati lahap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga selelsai. Namun perut Aulia nampaknya masih ingin diisi kembali, ia pun meminta temani Maminya untuk menikmati acara kartun favorit sembari menikmati kue tadi dibelikan.
Sementara mereka asik di depan TV, Dimas sudah lebih dulu memasuki ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Ia harus memeriksa beberapa dokumen keuangan kantor, sebelum akhirnya diserahkan pada Kakeknya sebagai laporan.
"Kapanpun kamu kembali, semua pasti akan tetap sama." Dimas bergumam menatap sebuah foto tersimpan dalam laci.
Waktu terus berjalan, jan di dinding berdetak tanpa berhenti. Satu jam susah, Aulia dan Rena menikmati acara TV sembari menikmati kudapan. Hingga akhirnya perempuan berkaos putih itu mematikan TV.
"Sekarang sudah habis waktu nonton TV nya, Sayang. Berarti waktunya__" ucap Rena tanpa melanjutkan perkataan, karena ingin putri kecilnya menjawab agar mengetahui sendiri apa yang harus dilakukan.
"Tidur," sahut Aulia mengangkat ke dua tangan ke atas agar di gendong menuju kamar.
Rena tersenyum meraih tubuh putrinya, beranjak dari ruang TV menuju ke kamar Aulia untuk mengganti pakaian tidur juga menggosok gigi serta mencuci kaki tangan lebih dulu. Kemudian Rena menggendongnya kembali masuk kedalam kamar yang ia tempati bersama Dimas.
Rena merebahkan tubuh sedikit gemuk putrinya itu di atas tempat tidur besar biasa ia tempati dengan suaminya. Ia pun ikut merebahkan diri disamping putrinya, menarik selimut untuk membalut tubuh bersama.
Sambil memeluk tubuh putri yang ikut memeluknya, Rena mengajarkan doa tidur dan di ikuti oleh Aulia. Sangat bangga karena putrinya mampu menikuti dengan baik, Rena memberikan sebuah kecupan hangat tepat di kening Aulia.
Mengusap lembut rambut putrinya untuk membantu terlelap, ia pun mulai menguap. Sayup sayup kedua mata indah Rena terpejam, mengarungi sebuah mimpi bersama orang dicintai dengan tetap saling memeluk.
__ADS_1