Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 174


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Kiara yang tiba setengah jam tak lama usai Dimas tiba, tak diijinkan untuk masuk dan malah meminta Pak Adi mengunci rapat pagar. Teriakan juga pukulan dari balik pagar membuat Aulia ketakutan, hingga dia ajak oleh kedua orang tuanya ke kamar atas agar tak bisa lagi mendengar suara yang membuatnya gemetar.


Sampai malam hari, Dimas tak mengijinkan putrinya turun dan terus membiarkan pagar tergembok rapat dari dalam. Kedua orang tua yang tak mengatakan sebenarnya itu, menemani kedua anaknya tidur bersama agar mereka tenang tanpa rasa takut lagi, dan kembali ke kamar mereka setelah memastikan jika kedua buah hatinya sudah lelap bersama Bi Lastri yang sudah diminta untuk menemani.


" Apa tadi Dia melakukan sesuatu ke Kamu? " khawatir Dimas tak sempat menanyakan hal itu tadi.


" Engga Mas, mba Kiara engga ngapa ngapain Aku kok " lembut Rena sudah membaringkan tubuh bersama suaminya.


" Sayang, Aku minta jangan keluar sendiri dulu ya, Aku engga mau Kamu sama anak anak kenapa kenapa. Dia bisa saja melukai Kamu nanti " pinta lembut suami yang selalu membelai perut besar istrinya.


" Iya mas " singkat Rena dengan tersenyum.

__ADS_1


Rena tak ingin suaminya cemas dan terbebani akan hadirnya Kiara, dan bersedia untuk melakukan apapun yang bisa menenangkan hati juga pikiran suami yang sudah mendekatkan wajah pada perutnya itu. Setiap malam sebelum tidur, sudah menjadi rutinitas baru Dimas untuk mengajak anak dalam kandungan istrinya berbicara. Tak jarang Ia juga sering memainkan lagu klasik dan meminta istrinya duduk mendengarkan.


Sengaja Rena ataupun Siska tak mencari tahu jenis kelamin buah hati mereka, karena ingin menjadi kejutan ketika mereka melahirkan nanti. Dimas, Tyo dan lainnya tak mempermasalahkan apapun jenis kelamin dari calon anggota baru keluarga mereka. Terlebih Dimas yang sudah memiliki anak laki laki juga perempuan. Bagi mereka yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi nya buka jenis kelamin.


" Geli mas " pekik Rena ketika jari jari suaminya menyusup ke dalam daster membelai langsung perut istrinya.


" Sayang, Aku tuh heran sama Kamu ya selalu aja geli tiap di sentuh perutnya " jengkel Dimas tak pernah bisa bermesraan dengan memeluk perut istrinya dari dulu, karena selalu membuat perempuan cantik itu tertawa geli.


" Sayang, Aku pengen. Tapi engga nyaman perut Kamu besar banget " manja Dimas selalu kesusahan mengatur posisinya ketika menjalankan kewajiban.


" Ditahan dulu deh mas sampai nanti habis lahiran " goda Rena tersenyum, juga ingin mengalihkan perhatian suaminya tentan Kiara.


" Ya sekalian aja nunggu sampai anaknya kuliah sayang, biar beku engga bisa dipakai lagi " gerutu Dimas mengembangkan tawa istrinya.

__ADS_1


" Hamil malah tambah cantik ya Kamu " puji lelaki yang mengamati tawa istrinya.


" Gombal " singkat Rena mengubah posisi agar lebih nyaman karena tak bisa menahan untuk merebahkan diri dalam satu posisi yang cepat membuatnya lelah.


" Serius sayang, kok gombal sih " tatapan dalam ditujukan Dimas kedalam mata istri yang sudah memiringkan tubuh ke arahnya.


Entah hanya perasaan Dimas atau memang istrinya memang lebih terlihat cantik selama hamil, namun yang jelas Ia semakin tak pernah bosan menatap wajah istrinya. Bahkan selalu merindukan perempuan dengan berat badan terus naik itu setiap hari dan membuatnya ingin cepat cepat pulang ketika bekerja.


Momen kehamilan, dimana tak dilewatkan Aulia juga Dimas menggoda tubuh gemuk Rena memberi kebahagiaan berlipat dalam keluarga kecilnya. Aulia begitu antusias menyambut kehadiran Adik barunya, bahkan sudah ikut repot bersama Neneknya membeli banyak keperluan untuk kedua calon Adiknya.


Kehamilan Maminya yang sudah membesar, membuat Aulia semakin perhatian bahkan terus cerewet agar Maminya tak melakukan pekerjaan berat. Setiap pulang sekolah Ia yang menemani Brian bermain, tanpa memperbolehkan Adiknya meminta gendong sesuai pesan dari Papinya.


Terkadang juga Aulia rela menyuapi Brian ketika Dimas di luar Kota, dan membantu membuatkan susu untuk Maminya juga Brian. Seorang Papi yang merasa lucu akan perubahan sikap putrinya hanya membiarkan saja namun tetap mengawasi ketika bersama. Membayangkan akan memiliki tiga orang Adik membuat Aulia bersikap seperti seorang Kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang. Bahkan kini menjadi lebih cerewet kepada Brian melebihi Maminya. Tak jarang sikapnya malah membuat Brian menangis karena semua larangan yang Ia berikan pada Adik kecilnya. Sikap Aulia selalu menjadi sebuah pemandangan lucu bagi seluruh penghuni rumah Dimas setiap hari nya.

__ADS_1


__ADS_2