
STOP PLAGIAT!
Lelaki yang masih memegang pinggang serta sisi wajah istrinya tersebut sedikit membungkukkan tubuh dan mendekatkan wajahnya ke Rena, namun tubuh istri yang masih menyisakan trauma tersebut memerintahkan tubuh perempuan yang dengan cepat memejamkan mata serta menaikkan kedua bahunya mundur ketika suaminya mulai mendekat hendak mencium bibir lembutnya. Penolakan dari tubuh istrinya membuat Dimas menatapnya sendu dan mengurungkan niat untuk mendekat pada Rena yang terlihat ketakutan. Hatinya serasa hancur ketika mendapat penolakan dari gerakan refleks tubuh istrinya.
" Kamu ganti baju dulu aja ya " ucap lelaki yang merasa terluka melihat ekspresi takut istrinya ketika Ia mendekat.
" I...i...iya mas " sahut Rena terbata dan bergegas mengambil pakaian yang sudah Ia keluarkan dari almari sebelum suaminya mengobati punggungnya.
Rena berjalan cepat ke arak kamar mandi untuk mengganti pakaian meninggalkan suami yang duduk di tempat tidur menatap sendu istrinya. Rena yang terbiasa mengganti pakaian di depan suaminya, sekarang memilih mengganti pakaian di kamar mandi juga refleks rasa takut Rena membuat Dimas memenuhi kepalanya dengan banyak pikiran tentang sikap istrinya.
Dimas berpindah ke sofa menunggu istrinya selesai mengganti pakaian untuk menyandarkan tubuh serta kepala yang penuh akan pertanyaan pertanyaan namun tak mampu untuk Ia temukan sendiri jawabannya. Perempuan yang sudah mengenakan jumpsuit krem tersebut keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang membalut rambut basahnya lalu melangkah ke arah meja rias untuk mengeringkan rambut dengan handuk di sana. Melihat suaminya memejamkan mata dengan memijat kening Ia pun langsung menghampiri dan duduk di samping suaminya.
" Kamu sakit mas ?" tanya Rena karena wajah lesu yang ditunjukkan suaminya.
" Engga sayang, oh iya ini laptop baru buat ganti punya Kamu yang Aku rusak " jawab Dimas meraih laptop berwarna putih di atas meja.
" Aku udah pindah semua data di laptop Kamu ke sini " tambah Dimas menyerahkan laptop tersebut ke Rena.
" Sebenarnya engga usah beli mas, Aku udah engga kerja lagi. Aku udah serahin semua ke Papa dan selesaiin tanggung jawab Aku ke klien, jadi ini Kamu pakai aja ya " sahut Rena yang menyelesaikan cepat pekerjaannya ketika Dimas bekerja dan mengirimnya melalui ponsel ke Erwin serta meminta ijin untuk tak lagi mengerjakan apapun memilih lebih fokus ke keluarga yang di mengerti oleh Papanya tanpa bertanya apapun tentang keputusan putri semata wayangnya.
" Maafin Aku, gara gara Aku semua jadi kaya gini. Aku cuma engga mau kehilangan Kamu lagi, Aku engga mau Kamu balik kerja di Paris dan lanjutin semua yang sudah Kamu capai di sana " ucap Dimas dengan nada sendu penuh perasaan bersalah yang dibalas senyuman oleh perempuan dengan rambut panjang setengah basah di sampingnya.
" Aku ngerti mas, Aku engga akan tinggalin Kamu lagi " sahut Rena menggenggam suami yang terlihat sedih mencerminkan rasa bersalah yang teramat.
__ADS_1
" Lebih baik mas mandi biar terlihat segar, Aku buatkan minum hangat buat Kamu ya " tambah Rena tersenyum ke arah suaminya.
Lelaki yang ingin memastikan pemikirannya tersebut kembali mencoba untuk mendekatkan diri pada istrinya dengan melingkarkan tangan kiri ke pinggang istri yang dengan cepat menyandarkan tubuh di sandaran sofa ketika suaminya mulai mendekat yang lagi lagi tubuhnya masih tak mau menerima sentuhan dari Dimas dan langsung memalingkan wajahnya. Meski hatinya sudah memaafkan sepenuhnya atas kelakuan kasar suaminya, namun Ia tak mengerti kenapa setiap kali suaminya mendekat tanpa ada yang memerintah tubuhnya dengan refleks untuk menghindar.
" Kenapa ? Kamu engga mau Aku dekati lagi ?" tanya Dimas menatap mata istrinya dengan tatapan sedih.
" Engga mas bukan gitu, jangan marah " sahut Rena dengan nada sedikit gemetar takut akan kemarahan suaminya lagi.
" Aku engga akan marah lagi sama Kamu, kenapa sekarang Kamu jadi takut sama Aku ?" ucap Dimas pilu mendengar suara gemetar dengan tatapan penuh ketakutan istrinya.
" Jangan kaya gini, Aku engga bisa lihat Kamu ketakutan sama Aku. Sakit sayang lihat Kamu kaya gini " tambah Dimas kembali duduk menyandarkan diri di samping istrinya dengan dada yang terasa sesak.
" Maaf mas " pungkas Rena dan pergi keluar dari kamar meninggalkan suaminya.
Dimas yang masih menyandarkan diri dengan kepala yang menatap ke langit langit kamar seraya tangan memijat keningnya dengar air mata yang tak sengaja mengalir melalui ujung matanya. Perasaan sakit yang mendera batinnya tak kuasa Ia tahan lagi mengingat istri yang dulu sangat mencintai dan dekat dengan dirinya kini menunjukkan sorot mata takut ketika Ia mendekat membuatnya begitu tersiksa.
Hari hari bersama yang dulu mereka alami serasa telah hilang karena kesalahan juga kebodohan yang Ia buat hingga melukai istrinya dengan begitu parah. Tubuh penuh memar Rena mungkin bisa untuk Ia obati, namun luka batin yang tak bisa Ia lihat seberapa parah itu tak tahu apakah bisa untuk Ia sembuhkan atau tidak. Rasa ingin kembali dekat dengan Rena seperti dulu semakin menyiksa batinnya.
Lelaki yang masih duduk bersandar dengan pikiran penuh tersebut tersadarkan oleh ketukan pintu beriringan suara putrinya dari luar yang Ia ijinkan untuk masuk usai mengusap wajah lesunya lebih dulu.
" Papi diminta Mami turun buat makan malam " ucap Aulia begitu Ia masuk dan berdiri di depan Dimas.
" Engga sayang, Papi belum lapar kalian makan dulu aja ya " sahut Dimas kehilangan nafsu makannya karena pikiran tentang Rena.
__ADS_1
" Papi sakit? " tanya Aulia memegang sisi wajah Dimas yang terlihat lesu.
" Engga sayang, Papi cuma engga lapar " sahut Dimas tersenyum meraih tangan putrinya untuk Ia pegang.
" Papi nanti sakit kalau engga makan, Aku bawa makannya ke sini ya " sahut Aulia yang menjadi begitu dewasa dari usianya semenjak kepergian Rena.
" Engga usah sayang, nanti kalau Papi lapar pasti makan kok. Kamu turun ya makan sama Mami, Papi mau mandi terus istirahat " sahut Dimas mengembangkan senyum memegang sisi wajah putrinya lembut.
" Iya Papi " jawab Aulia memeluk Dimas dan mencium pipi lelaki yang tak henti mengembangkan senyum menerima semua perhatian putrinya.
Rena yang tengah menyuapi Brian melihat putrinya kembali sendiri dan duduk di meja makan lalu mengambilkan makanan untuk putrinya seraya bertanya tentang suami yang Ia minta untuk panggilkan makan bersama.
" Papi mana sayang? " tanya Rena sambil mengisi piring Aulia dengan makanan.
" Papi engga lapar Mi, katanya mau mandi terus istirahat tapi kelihatannya Papi sakit " jelas Aulia.
" Ya udah biar Mami yang lihat Papi ya, Kamu makan yang banyak " ucap Rena meletakkan piring penuh makanan di hadapan putrinya.
" Bi, tolong bantu Brian makan sebentar ya. Aku mau panggil Bapak dulu di atas " pinta Rena ke arah Bi Lastri yang langsung menghampiri majikannya.
" Sebentar ya sayang " pamit Rena kepada dua anaknya lalu melangkah menuju anak tangga untuk menghampiri suaminya di kamar.
Meski sedikit ragu untuk kembali menemui suaminya usai penolakan yang Ia lakukan, Rena tetap mencoba menepis rasa takutnya dan menghampiri Dimas untuk melihat kondisi suaminya di kamar.
__ADS_1