
Versi Indo hanya di Mangatoon, kalau ada di tempat lain entah itu youtube atau platform lain tolong langsung****dilaporkan ya. Karena aku nulis versi 3 bahasa dengan alur cerita berbeda 100% dari alur Indo, makasih banyak.
Tidak melepaskan tanggungjawab begitu saja, Dimas masih setia menemani hingga rena keluar rumah sakit. Di tempat kost pun, Dimas masih menyuruh pelayan rumanya untuk mengirimkan makanan sehat serta memastikan kondisi kaki Rena. Ia benar benar merasa bersalah dan bertanggungjawab sampai kaki Rena sembuh total dan sanggup beraktifitas normal.
Waktu yang berlalu, kasih sayang dari sahabat serta tekat mampu menyembuhkan kaki Rena lebih cepat. Banyak hal harus diselesaikan, termasuk mencari tempat magang yang mengharuskan Rena pulih lebih cepat dan menyelesaikan semua pendidikannya sebelum kembali ke tempat kelahiran dan berkarir.
Ketiga sahabat itu magang di tempat berbeda, namun tak membuat mereka saling melupakan. Andin dan Sonya magang di luar Kota, dan hanya Rena yang tetap tinggal di tempat kost. Terkadang ia juga didatangi oleh Aulia untuk sekedar bermain bersama Bi Lastri.
Tak jarang bocah kecil itu meminta agar Papinya mengajak rena menikmati makan malam bersama. Dengan terpaksa, Dimas menuruti saja kemauan dari putri kesayangannya. tentu saja setelah ia membiacarakan dan mendapat persetujuan dari seseorang tinggal jauh darinya untuk sebuah study juga karir ingin diraih dalam usia muda.
***
Suatu sora, Aulia mengunjungi Rena ketempat kost dan mengajaknya untuk berjalan sore ke taman kompleks. Rena yang tak memiliki kegiatan, menuruti saja kemauan bocah kecil yang datang bersama pengasuh seperti biasa. Dimas tak pernah mengijinkan Aulia keluar rumah tanpa penjagaan, itu juga selalu ditekankan oleh orang yang dicintai Aulia.
Duduk di sebuah taman, membiarkan Aulia berkumpul dan bermain dengan teman teman satu lingkungan yang kebetulan disana. Bi Lastri tidak berani meninggalkan terlalu jauh, usai kejadian di taman Kota dulu. Ia duduk bersama Rena dengan mata mengamati tanpa lepas.
"Bi, maaf. Boleh Saya bertanya?" ragu ragu Rena membuka pembicaraan untuk bertanya.
"Boleh, Neng. Mau tanya apa?" sahut Bi Lastri menoleh sejenak.
"Kenapa Mami Aulia tidak pernah kelihatan ya, Bi? apa beliau bekerja di luar Kota?" tanya Rena memberanikan diri mengungkapkan pertanyaan terpendam dalam hati.
"Bapak itu duda, Mba. Setahu Bibi mereka sudah pisah waktu Non Aulia baru umur 10 bulan, itupun Saya tahunya karena sudah cukup lama bekerja di tempat Bapak. Dulu Saya merawat Non Aulia sama seseorang, tapi karena pendidikan juga pekerjaan beliau pergi atas ijin bapak." Bi Lastri bercerita panjang lebar tanpa mengatakan kejujuran diketahui sepenuhnya.
__ADS_1
"Duda? lalu siapa orang yang Bibi maksud?" tanya rena kembali, semakin penasaran namun hanya di jawab senyuman Bi Lastri.
Dari senyuman ditunjukkan, Rena dapat menyimpulkan jika Bi Lastri tidak mau menjawab. Ia pun diam dan membalas senyum, mengamati kembali Aulia tengah bermain riang di taman. Dimas memang memiliki seorang istri bernama Kiara dulu, mereka berpisah karena Kiara ingin menjadi seorang model dan mengembangkan karir di luar Negri.
Lagipula, Kiara juga tidak pernah bermimpi untuk memiliki seorang anak, usai melahirkan ia sering bolak-balik luar Negri dan baru resmi bercerai sekitar 10 bulan usia Aulia. Kepergian Kiara, membuat seseorang masuk dalam hati Dimas yang tak pernah di duga sebelumnya untuk memiliki perasaan lebih.
Ia membantu menjaga dan merawat Aulia dan membuat Dimas jatuh hati. tapi perbedaan usia sangat jauh membuat keadaan tak mungkin untuk mereka bersama, dan di akhir keluarga Dimas mengirim seseorang itu menempuh pendidikan dan tanpa diketahui ternyata memiliki sebuah karir untuk diraih.
Hanya Dimas yang tahu jika seseorang terus tinggal dalam hatinya itu mencoba memiliki sebuah karir, dan tak menyetujui di awal. Dimas tak mengatakan pada keluarga karena jika sampai tahu maka semua akan hancur tanpa sisa karena sebuah amarah diberikan.
Hari semakin sore, mereka pun memutuskan kembali pulang dengan Rena mengantarkan Aulia sampai rumah dan kembali seorang diri ke kost. Tempatnya tinggal tak terlalu jauh dari rumah Aulia, ia juga ingin pergi kesebuah toko untuk membeli perlengkapan mandi sudah hampir habis.
Setibanya di rumah, Aulia dimandikan Bi Lastri sebelum menikmati makan malam. Belum terlihat Dimas di rumah hingga bocah kecil itu menyelesaikan mandi, ia meminta agar pengasuhnya menyalakan TV dan menunggu kepulangan Papinya.
"Anak Papi, seharian ini ngapain aja? nakal gak?" tanya Dimas.
"Tadi Auli pergi ke taman buat main sama Bibi. Tadi juga ada Tante rena," cerita Aulia.
"Hm, seneng banget dong hari ini? tapi engga boleh sering sering repotin Tante ya, pasti dia juga repot." Dimas menasehati putrinya yang mengangguk.
"Oke, sekarang kamu disini dulu, Papi mau mandi. Masa anaknya udah harum tapi Papinya bau banget?' senyum Dimas meletakkan tubuh putrinya pada sofa bed depan TV.
Meletakkan tubuh putri semata wayangnya, Dimas memanggil Bi Lastri untuk menemani sebelum ia pergi ke kamar untuk menyegarkan diri. Tubuhnya terasa begitu lengket dengan rasa lelah mendera, ingin rasanya segera mengguyur menyegarkan tubuh.
__ADS_1
Sebelum mandi, seperti biasa ia melakukan panggilan untuk beberaoa menit mengabarkan tentang dirinya, Aulia dan kesibukan dilakukan seperti biasa. Sementara Aulia tengah asik kembali menikmati acara kartun bersama Bi Lastri menemani.
Entahlah, Dimas hanya merasa ada yang kurang jika tak menghubungi seseorang yang sering dimintanya kembali. Namun tetap ia berusaha mengerti akan kesibukan dijalani, walaupun terkadang ia tak setuju ketika tahu waktu istirahat yang kurang untuk menjalani semua kegiatan ditempat jauh.
Usai menelpon, Dimas segera melepas pakaian dan mandi. Ia harus menemani putrinya seperti hari hari sebelumnya, tanpa perduli rasa lelah dirasakan. Tapi bagi Dimas rasa lelah itu seketika memudar saat senyum tulus diberikan padanya oleh sang putri.
"Papi, bisakah aku punya Mami? Auli mau tante Rena jadi mami Auli, boleh?" tanya Aulia tiba tiba ketika papinya baru tiba dan duduk disampingnya.
"Ha?!" terkejut Dimas menoleh pada putri disampingnya.
"Bisa gak kalau tante rena jadi mami aku?" tanya Aulia kembali.
"Bukannya kamu mau.." ucap Dimas tak melanjutkan ketika wajah putrinya berubah sendu seolah teringat sesuatu.
Dimas terkejut akan permintaan seseorang yang mungkin belum tahu fakta sebenarnya tentang kehidupannya. Aulia memang tak secara langsung berkata padanya dulu tentang seorang mami, namun ada orang lain memberitahunya dan Dimas juga belum terpikirkan untuk menikah kembali sebelum semua hubungan dimiliki menjadi jelas adanya.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Besok kamu juga harus sekolah kan, sayang?" lembut Dimas memaksa senyum lebar.
Sengaja Dimas mengalihkan pembicaraan yang tak tahu harus dijawab apa olehnya. Ia meminta Bi Lastri membawa Aulia ke kamar dan menemani beristirahat, lalu pergi ke kamarnya sendiri dengan pikiran tak menentu.
Apa yang diminta oleh Aulia, berhasil mengusik pikirannya kini. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur dengan kedua tangan menjadi tumpuan kepala. Mata tertuju ke arah langit langit kamar memusatkan pikiran pada permintaan putrinya.
Bukan tidak mau menuruti, namun rasa trauma dalam hati juga belum hilang sepenuhnya akan sebuah perceraian. belum lagi seseorang begitu diharapkan belum memberikan sebuah kepastian, dan Dimas masih dengan setia menanti sembari berusaha menata hati kembali akan perceraian dulu terjadi.
__ADS_1
Lagipula, Rena juga masih kuliah jadi tidak mungkin untuknya menuruti dan menikah begitu saja. Berpikir harus mengatakan segalanya pada seseorang jauh di mata, Dimas meraih ponsel untuk menghubungi dan mendiskusikan permintaan putrinya. Semuanya terasa sulit dan menghimpit jika berhubungan dengan hati.