
Dimas memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar tempat kost Rena dulu begitu ia sampai. Bergegas Dimas turun dan menekan bel rumah kost yang berada tak jauh dari rumah nya.
" Eh Pak Dimas? " sapa seorang Ibu paruh baya dengan tubuh gemuk yang membukakan pintu pagar untuk Dimas.
" Maaf bu, saya mau tanya apa Rena ada di sini ya? " tanya Dimas kepada ibu penjaga tempat kost.
" Wah saya engga tahu Pak, coba saya lihat dulu di kamar teman nya ya" ucap wanita yang memakai daster batik tersebut.
" Iya, terimakasih " jawab Dimas menunggu di depan pintu pagar menunggu ibu tersebut melihat ke dalam.
Dimas menunggu dengan gusar dan penuh harap jika Rena ada di dalam sana bersama dengan teman teman nya.
" Ada apa? " tanya Rena dingin begitu ia keluar dari pagar terpaksa menemui Dimas karena tak ingin lainnya tahu jika ia sedang ada masalah dengan suami nya.
" Kamu kemana aja sih, aku cari kamu seharian. Sekarang kita pulang, kita bisa bicarakan semuanya di rumah" pinta Dimas meraih pergelangan tangan Rena.
" Engga mau, ini tempat yang cocok untuk orang seperti aku " jawab Rena melepaskan tangan Dimas.
" Aku bilang pulang, kamu sedang hamil dan jangan macam macam" seru Dimas penuh penekanan.
" Engga " singkat Rena menolak ajakan Dimas.
__ADS_1
" Pulang! " tekan Dimas sedikit membentak membuat Rena terkejut.
" Iya! aku ambil tas dulu " jawab Rena kesal dan beralih menuju ke dalam untuk mengambil tas dan berpamitan pada teman teman nya.
Tak lama Rena yang sudah kembali menemui Dimas di depan pagar dengan tas di bahu nya berjalan mendahului Dimas untuk masuk ke dalam mobil yang dengan segera disusul oleh Dimas. Selama perjalanan Rena hanya menatap ke arah luar jendela tanpa mengatakan apa pun, Dimas yang menarik dalam nafas nya terus mengemudikan mobilnya sampai ke rumah tanpa membuka kata sama sekali yang ia rasa akan percuma bicara jika Rena tak ingin bicara dengan nya.
Sampai nya di rumah, Rena dengan cepat membuka pintu mobil dan berjalan menuju kamar nya mendahului Dimas. Rena berjalan setengah berlari hingga tak menyadari adanya Tyo dan istrinya di ruang tamu memperhatikannya. Tyo dan Siska keluar menuju teras untuk menemui Dimas yang berjalan masuk ke dalam.
" Mas, selesaikan semua dengan baik baik. Ingat mba Rena sedang hami muda" coba Tyo meminta pada Dimas karena sangat faham bagaimana kakaknya yang mudah tersulut emosi.
" Iya dek, Auli kemana? " tanya Dimas.
" Dia udah tidur mas dari tadi sama bi Lastri. Kalau gitu aku pulang dulu ya mas, besok pagi harus ke lapangan light proyek" jelas Tyo.
" Kalau ada apa apa hubungi aku mas" pinta Tyo sebelum meninggalkan rumah kaka nya.
" Iya pasti. Kalian hati hati" ucap Dimas.
Tyo dan Siska berjalan menuju kendaraan mereka yang terparkir di sebelah teras rumah Dimas lalu mulai menyalakan mesin dan melajukan kendaraan nya meninggalkan rumah Dimas di iringi senyum Kakaknya yang masih menunggu mereka di teras.
Usai memastikan Tyo dan Siska keluar dari pagar rumah, Dimas bergegas menyusul Rena ke dalam kamar. Di kamar Rena yang sudah mengganti pakaian nya karena tadi sempat mandi di kost berjalan ke arah tempat tidur untuk beristirahat karena masih tak ingin berbicara dengan suaminya.
__ADS_1
" Rena, kita butuh bicara. Aku engga suka kamu kaya gini" seru Dimas begitu memasuki kamar.
Rena yang seakan tak mendengar ucapan suami nya malah memilih untuk naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti diri nya.
" Aku lagi ngomong Rena " seru Dimas berjalan ke arah tempat tidur dan berdiri di samping ranjang.
" Aku capek " singkat Rena lalu berganti posisi membelakangi Dimas.
Dimas menutup mata nya sekejap sembari menghela nafas panjang lalu menarik pelan pundak Rema agar istri nya menghadap ke arah nya.
" Lepasin aku " protes Rena berusaha menyibakkan tangan Dimas di bahunya.
Dengan cepat Dimas naik ke atas ranjang mengapit kedua paha paha Rena dengan kaki dimas menekuk di samping kanan kiri paha istri nya yang sudah terlentang lalu menahan kedua tangan Rena ke atas bantal tempat Rema bersandar hingga kini Dimas berada tepat di atas tubuh Rena menyisakan jarak diantara tubuh mereka.
" Aku bisa jelaskan semuanya, kita harus ngomong" seru Dimas dengan wajah di atas wajah Rena yang memalingkan pandangan nya.
Tangan kanan Dimas menarik pipi kiri Rena yang menempel di bantal memalingkan wajah. Dengan cepat Dimas mencium bibir istrinya yang terus meronta untuk di lepas.
" Kamu masih belum mau ngomong? " tanya Dimas melepas ciuman nya dan tak mendapat respon dari Rena yang kemudian melumat bibir istrinya lembut dan di hentikan Rena dengan mengatupkan bibir nya paksa.
" Iya kamu mau ngomong apa" seru Rena karena tak ingin suaminya melakukan hal itu lagi.
__ADS_1
" Dengar aku, aku engga ada niat bohong sama kamu tapi memang kamu yang engga pernah tanya sama aku. Aku memang enggak ngomong karena memang menurut aku itu engga penting, dan juga bukan sengaja aku tutupin semua nya dari kamu. Aku minta maaf kalau itu buat kamu marah dan merasa di bohongi, tapi tolong kamu jangan seperti ini. Kamu lagi hamil emosi seperti engga akan baik buat kandungan kamu" jelas Dimas panjang lebar yang tak ingin menyebutkan alasan sebenar nya.
" Engga semua harus di tanyakan baru ada penjelasan. Berapa banyak lagi kebohongan kamu? Apa perasaan kamu ke aku juga bohong? mungkin memang benar kata mbak Kiara kalau aku memang cuma pemuas nafsu kamu aja" seru Rena mengingat kata kata Kiara waktu mereka bertemu.