
Dimas meninggalkan Rena sendirian di kamar, sementara ia menuju ke ruang kerja nya. Ia mulai menyandarkan diri di kursi kerja yang berada di balik meja besar di ruangan itu. Kepala yang ia letakkan di ujung kursi empuk tersebut mulai ia pijat perlahan bersama pikiran kalut yang penuh setiap ucapan Natalie. Perasaan takut akan kehilangan istri yang teramat ia cintai membuat dada lelaki dengan wajah kacau itu terasa sangat sesak. Perasaan khawatir akan Rena yang mengetahui tentang permintaan Natalie dan mungkin akan di setujui saja oleh Rena yang terlalu perduli dengan perasaan dan kebahagiaan orang lain di atas diri nya sendiri. Terlebih lagi ucapan Rena yang akan mengikhlaskan pernikahan demi kebahagiaan Natalie semakin membuat nya gusar. Ia takut jika memang pengacara yang di minta Natalie mengirimkan surat cerai ke rumah dan Rena yang menerima itu, maka tanpa pikir panjang pasti Rena akan menyetujui hal itu.
Pukul 02.00 dini hari, Rena yang tengah terbangun dan tak mendapati suaminya di samping tidur lelapnya. Ia beranjak dari tempat tidur menyusuri tiap sudut rumah demi menemukan Dimas. Ia mencoba memasuki ruang kerja Dimas yang terlihat tanpa penerangan di dalam. Rena menekan tombol lampu yang berada di samping pintu tersebut hingga mata sayu yang masih mengantuk mampu membuat Rena tersentak ketika mendapati suami nya yang menyandarkan diri di kursi dengan kepala yang masih berada di ujung atas sandaran kursi dan tangan menggenggam di atas kening.
Perlahan ia melangkah menghampiri suami yang tengah memejamkan mata di atas kursi tersebut. Jari lembut Rena membelai rambut Dimas yang terlihat berantakan.
" Kamu kok belum tidur? " tanya Dimas terkejut mendapati tangan berada di kepala nya membelai lembut.
" Aku kebangun mas, Kamu kenapa tidur di sini? " tanya Rena lembut dengan jari masih membelai rambut suami yang tak menyadari kehadiran nya tadi.
" Aku engga tidur sayang, aku cuma lelah habis cek semua laporan " kilah Dimas menarik tangan Rena untuk ia genggam.
" Kamu bohong, kamu kenapa ?" ucap Rena ketika mata nya melihat ke arah meja tak terdapat satu pun dokumen di atas nya.
" Aku baik aja, aku cuma lelah sayang. Kamu jangan banyak pikiran ya " sahut Dimas masih berusaha menutupi apa yang terjadi.
__ADS_1
" Kalau kamu kaya gini aku pasti bakal mikir mas, kamu kenapa? apa yang sebenar nya terjadi di rumah kakek? aku tahu kamu engga akan kesini kalau bukan karena mau menenangkan pikiran" sahut Rena yang sangat memahami jika suami nya selalu duduk diam di ruang kerja ketika ia sedang stres.
" Engga ada sayang, aku beneran baik aja. Kita tidur sekarang ya, aku engga mau kamu begadang kaya gini " jawab Dimas menyunggingkan senyum lalu bangkit dari duduk nyaman nya mengajak Rena menuju kamar.
Rena memeluk tubuh Dimas dari belakang ketika suami nya tersebut berjalan mendahului Rena hingga membuat Dimas terkejut.
" Aku engga mau kamu bohong sama aku, apapun itu tolong kamu jujur sama aku mas. Aku engga mau benci sama kamu karena kamu yang selalu saja berbohong sama aku " pinta Rena merasakan jika suami nya tengah menghadapi sebuah masalah yang terlukis jelas pada wajah lesu Dimas.
Dimas menghela nafas nya panjang dan teringat akan pertengkaran mereka ketika Rena tahu tentang diri nya dari orang lain, seberapa sakit dan kecewa nya Rena kala itu membuat Dumas ingin mengatakan semua.
Di dalam kamar, Diman membantu Rena untuk merebah kan diri dengan diri nya yang berada di samping tubuh Rena. Tangan Dimas menarik lengan Rena meletakkan kepala Rena di atas dada bidang nya.
" Aku bakal jujur dan cerita semua ke kamu, tapi janji kamu harus percaya sama aku dan jangan terbebani dengan semua yang akan aku katakan. Kamu harus percaya aku mampu mengatasi semua " pinta Dimas sembari memegang lengan Rena yang melingkar di perut nya.
" Aku janji mas " sahut Rena dengan menganggukkan kepala di atas dada Dimas yang setengah bersandar pada sandaran tempat tidur.
__ADS_1
" Aku engga baik aja sayang, mama juga masih marah sama aku. Mama meminta pengacara mengurus perceraian kita hari ini " ucap Dimas dengan hati yang terasa sangat sakit.
Rena sangat terkejut dengan perkataan suami nya mengangkat kepalanya dari dada Dimas lalu menatap lekat wajah cemas Dimas dengan tangan kiri memegang sebelah kanan wajah suaminya.
" Aku engga tahu harus ngomong apa, tapi kalau itu yang terbaik buat kita menurut mama maka aku akan melakukan hal itu mas. Aku bersedia dan aku siap " sahut Rena mencoba tegar meski hati nya begitu sakit seakan nyawa dalam diri nya melayang saat ini juga.
Dengan cepat Dimas meraih tubuh Rena dan memeluk nya sangat erat.
" Hati aku sakit banget kamu ngomong kaya gitu, aku engga akan biarin mama lakuin apapun sama pernikahan kita. Kamu percaya sama aku, jangan bilang kamu mau kita cerai karena aku engga bisa " ucap Dimas
" Aku juga sakit mas, aku engga tahu harus gimana tanpa kamu nanti. Tapi kalau memang perceraian kita membuat mama bahagia aku ikhlas " sahut Rena yang mulai mengurai air mata dalam dekapan Dimas.
" Engga akan ada perceraian, engga ada yang bisa pisahin kita. Aku akan lakukan apapun untuk kita bisa terus bersama membesarkan anak anak kita dan bahagia sampai maut sendiri yang pisahkan kita. Kamu cuma harus jaga diri kamu sama anak dalam kandungan kamu dan percaya sama aku" jelas Dimas.
" Aku cinta sama kamu " tambah Dimas dengan mengecup lama ujung kepala Rena.
__ADS_1
Rena hanya mengangguk untuk menjawab semua perkataan Dimas, seakan bibir nya terkunci rapat karena tubuh yang terasa sangat lemas dalam dekapan suami yang masih ingin melanjutkan hubungan meski harus menentang keinginan wanita yang telah mengandung dan melahirkan nya. Rena yang juga tak bisa berpisah dengan Dimas dan Aulia merasakan kebingungan dalam hati nya karena ia juga tak ingin Dimas melawan orang tua yang akan menjauhkan diri nya dari keluarga.