Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 88


__ADS_3

" Pa, Papa mau bawa Aku kemana? " tanya Rena begitu mereka kembali melajukan kendaraan usai mengambil barang Erwin serta pasport Rena dan melarang putrinya membawa apapun dari rumah Dimas.


" Kita ke Paris " singkat Erwin setelah meminta sekretarisnya memesan tiket dengan penerbangan malam ini melalui pesan singkat dalam perjalanan ke rumah Dimas.


" Aku engga mau Pa, Aku engga mau pisah sama mas Dimas ataupun Aulia " seru Rena yang terkejut dengan perkataan Erwin.


" Rena cukup! engga ada bantahan untuk ini! " teriak Erwin tegas untuk pertama kali nya ia membentak Rena.


Rena hanya tertunduk dalam tangis tak berani untuk melawan keinginan Erwin yang mengatakan dengan begitu tegas. Ia ingin sekali pergi ke dalam pelukan Dimas saat ini, hingga tak ada satu orang pun yang mampu memisahkan mereka berdua. Rena ingin menghubungi Dimas, namun ponsel nya di buanh oleh Erwin karena tak ingin putri nya membawa apapun dari pemberian Dimas yang membuat Natalie semakin berpikir jika putrinya hanya menginginkan harta.


Sampai nya di bandara, Rena di genggam erat oleh Erwin memasuki bandara sebelum dua jam lagi pesawat akan membawa mereka pergi menjauh dari kebusukan hati Natalie yang mampu mengatakan Rena seorang wanita murahan hingga membuat Erwin sangat terluka sampai memtuskan hal yang begitu besar untuk putrinya. Ia tak ingin putrinya merasakan kesedihan dan tak bahagia hidup bersama mertua yang tak pernah ingin mengakui dirinya.


" Pa, ijinin Aku telfon mas Dimas. Aku cuma mau pamit ke mas Dimas untuk terakhir kali, Aku akan ikuti semua kemauan Papa tapi tolong kasih Aku waktu sedikit buat bicara sama mas Dimas " pinta Rena di dalam ruang tunggu bandara yang membuat Erwin menghembuskan nafas kasar.


" Baiklah, hanya sebentar " tegas Erwin memberikan ponsel milik nya.


Rena mulai menekan nomor suami nya dengan ragu karena tak ingin mengucapkan perpisahan pada lelaki yang sangat Ia cintai. Namun Rena harus bersedia menuruti Papa nya dengan harapan ketika Papa nya sudah reda emosi nya makan Ia akan mengijinkan Rena krmbali pada suami dan anak nya apalagi kondisinya yang kini tengah hamil anak Dimas.

__ADS_1


Sementara di rumah Dimas yang baru saja sampai langsung berlari ke dalam dan mendapati barang Erwin yang sudah tidak ada, Ia melihat serpihan ponsel Rena yang di lempar Erwin hinga hancur di ruang tamu. Dimas yang menjadi sangat lemas dengan hatinya merasakan sakit tak sanggup untuk berdiri lagi mengejar istri yang tak tahu sekarang berada dimana. Tangan nya yang terkulai lemas meraih ponsel yang berdering di dalam saku celananya.


" Mas " terdengar suara Rena sendu dari ujung telfon dengan ponsel Erwin.


" Sayang Kamu dimana? aku jemput Kamu sekarang" seru Dimas dengan mengumpulkan semua tenaga nya.


" Aku di bandara, Papa ajak aku ke Paris malam ini, maafin Aku Mas " seru Rena dengan suara tangis yang terdengar begitu sedih.


" Engga, Kamu engga boleh pergi. Aku kesana sekarang Kamu tunggu Aku " sahut Dimas beranjak dari duduk nya.


" Percuma Mas pergi sekarang, rumah kita terlalu jauh sampai bandara dan penerbangan tinggal satu jam lagi. Kita hanya bisa menuruti Papa sekarang, Aku akan coba bicara sama Papa saat Dia sudah tenang " jelas Rena membuat Dimas begitu putus asa.


" Jangan dulu mas, kita tunggu sampai Papa tenang dulu. Aku yakin Papa akan ijinin Kita bersama lagi, Aku cinta Kamu sama Auli " seru Rena dengan isakan tangis tak berdaya.


" Sayang? Rena? " teriak Dimas karena sambungan telfon yang di putus oleh Erwin paksa.


Dimas membanting keras ponsel nya seraya berteriak sangat kencang mengejutkan semua pekerja rumah nya. Ia beranjak pergi ke rumah Dedrick untuk menemui Natalie dengan emosi yang sangat memuncak.

__ADS_1


" Pak Adi, tolong ikuti Bapak. Saya khawatir terjadi sesuatu " pinta Bi Ijah pada Pak Adi yang berjalan masuk untuk bertanya ada apa dengan majikan nya.


Pak Adi dengan terburu buru mengejar mobil Dimas yang melaju sangat cepat hingga tak mampu terkejar oleh Pak Adi. Ia pun menghubungi Tyo untuk membantu mencari majikan nya yang oergi dalam keadaan marah. Tyo yang membawa Aulia kerumah nya bersama Siska langsung keluar mencari keberadaan Dimas dengan menghubungi Teddy agar memberikan kabar jika Dimas ke rumah kakaeknya. Tyo yang merasa sangat khawatir dengan kakak nya terus membelah jalanan tanpa tujuan mencari keberadaan mobil Dimas.


Sementara Dimas yang sudah sampai di rumah Dedrick dengan wajah terlihat begitu marah menemui Natalie yang menangis dengan penyesalan nya usai di marahi oleh Teddy dan Dedrick.


" Puas Anda sekarang nyonya Natalie? setelah Anda menghancurkan hidup saya lalu apalagi yang ingin Anda lakukan? Anda mau membunuh Saya? silahkan! " seru Dimas dengan nada berteriak ke arah Natalie yang masih duduk dalam air mata nya.


" Dimas, maafkan mama nak " seru Natalie belum menuntaskan perkataan nya sudah di sela oleh Dimas.


" Mama? apa pantas Anda di panggil dengan sebutan itu? bahkan Saya terlalu jijik mendengar kata itu dari mulut Anda. Jika Saya bisa memilih, Saya tidak akan pernah mau dilahirkan oleh orang tidak memiliki hati seperti Anda " ucap Dimas memotong perkataan Natalie dan menghempaskan tangan Natalie yang hendak meraih tangan Dimas.


" Jangan pernah ganggu hidup Saya lagi " pungkas Dimas langsung pergi dan di kejar oleh teddy dengan segera sementara Dedrick memarahi Natalie dan meminta menantunya bertanggung jawab atas apa yang sudah Ia perbuat.


Teddy yang mengejar Dimas tak mampu menghentikan putranya yang sudah lebih dulu melajukan kendaraan nya pergi. Teddy menghubungi Tyo dan mencari tahu apa yang terjadi pada putra pertama nya.


Sementara Rena yang sudah berada di dalam pesawat terus mengenakan jas yang dipakaikan suami nya ketika pesta. Bau parfum Dimas yang melekat kuat pada jas nya semakin membuat Rena tak mampu menahan kesedihan hatinya yang makin mengurai air mata sambil menatap ke arah luar pesawat.

__ADS_1


Erwin tak kuasa melihat putrinya yang bersedih dengan terus mencium aroma suaminya pada jas yang Ia kenakan. Namun di sisi lain Erwin juga tak ingin jika putrinya harus menerima penghinaan dari Natalie terus menerus.


Rena terus memanjatkan doa dalam hati sambil tangan memegangi janin dalam perutnya. Ia berharap jika Ia tak akan terpisah dengan anak dan suaminya yang harus melahirkan anak dalam kandungan nya tanpa seorang Papi. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Dimas ataupun Aulia.


__ADS_2