
STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA DAN KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH.
Meeting terus berlanjut, dengan perasaan aneh Tyo melirik sesekali ke arah kakaknya. ia tidak tahu mengapa kakaknya tiba tiba datang karena tadi sudah menyerahkan segalanya pada dirinya. Tapi tidak mungkin untuk bertanya sekarang dihadapan para karyawan, Tyo kembali memimpin meeting sudah berjalan daritadi..
Berjam jam meeting berlangsung, hingga semuanya selesai dibahas. Dimas mengucapkan terima kasih pada karyawan untuk meeting hari ini, dan mulai berdiri meletakkan map hitam tadi dibawa sembari menyimak. Ia mengamati setiap wajah di dalam ruangan meeting satu persatu dan sukses membuat semuanya sedikit takut juga aneh.
"Siapa disini yang menangani anak magang?!" tanya Dimas tegas, segera seorang laki laki memakai kemeja putih dibalut jas hitam mengacungkan jari.
"Saya, Pak!" jawab tegas seseorang tak terlalu tua atau muda itu menunjuk jari ke atas.
"Ke ruangan Saya setelah ini!" tegas Dimas memerintah.
"Baik, Pak." Sigap orang berdiri tak jauh dari posisi Dimas berdiri itu menjawab.
Tyo menangkap sesuatu tidak beres dari kedatangan mendadak juga cara bicara kakaknya yang lebih dulu keluar usai memberikan perintah. Segera Tyo membereskan berkas di meja dan menyusul kakaknya keluar, mulai membuka pembicaraan akan tanya terus mengembang dalam pikiran.
"Ada masah apa sih, Mas?" tanya Tyo berjalan disamping kakaknya.
__ADS_1
"Tadi pagi Rena dapat telpon dari kantor dan dimarahi suruh kirim surat Dokter ke kantor sama marah marah," jelas Diams tanpa menghentikan langkah.
"Ha?" melongo Tyo terkejut.
Keduanya memasuki ruangan kerja sangat luas milik Dimas, menantikan kehadiran orang tadi diminta menghadap. Tyo berpikir jika mungkin saja sikap emosi kakaknya akan meledak hari ini mengetahui sistem kerja kantor yang dengan tega memarahai seseorang tengah sakit, apalagi itu adalah istrinya sendiri.
Belum hangat mereka duduk, terdengar ketuka pintu dari arah luar dan segera Dimas mempersilahkan masuk. Seorang lelaki berwajah cemas memasuki ruangan dan menghadap di depan meja kerja dimana seseorang sudah duduk melepas topi memasang wajah serta sorot mata mematikan.
"A, a, ada yang bisa saya bantu, Pak?" gugup pria tetap berdiri itu bertanya.
"Kamu yang menangani anak magang bernama Rena?" tanya Dimas tanpa basa basi.
"Bukankah dia sedang sakit hari ini? kenapa kamu menyuruhnya masuk dan memarahi dia?!" bentak Dimas membuat manager takut namun bingung kenapa sampai bos nya itu marah hanya karena anak magang. Tyo hanya diam memperhatikan, sambil duduk di sebuah sofa panjang dalam ruang kerja kakaknya.
"Dia hanya anak magang, Pak. mungkin saja dia beralasan dengan sakitnya, karena memang tidak ada surat dokter yang ia kirimkan." Jelas manager yang membuat Dimas semakin marah.
"Berapa banyak surat Dokter yang Kamu mau?!" tanya Dimas menekan, membuat manager terdiam masih bersama ekspresi heran menyelimuti wajahnya.
__ADS_1
"Saya tidak suka saat Saya bicara tapi tidak di jawab!" tegas Dimas, menyentak pria di hadapannya.
"Ha, ha, hanya satu, Pak." Cepat manager tersebut menjawab dengan suara gemetar.
"Kenapa kamu jadi gemetar sekarang?! Bukankah tadi saat Kamu menelpon istri Saya, Kamu marah dengan begitu kerasnya?!" tanya Dimas, lagi lagi mengejutkan pria di hadapannya.
"Maksud Bapak, Rena anak magang itu istri bapak?" semakin bergetar ketakutan untuk bertanya.
"Iya! orang yang sedang sakit dan Kamu marahi untuk tetap kembali bekerja itu adalah istri Saya!" ucap Dimas dengan penuh penekanan pada kata istri saya.
"Maaf kan saya, Pak. Saya tidak tahu," sahut manager ketakutan.
"Pergi Kamu dari ruangan Saya, sebelum Saya melakukan lebih ke Kamu! dan jangan pernah Kamu berani membocorkan identitas Rena ke karyawan lain atau pun Rena sendiri!" tegas Dimas seraya mengancam
"Ba, baik, Pak. Saya permisi." pamit manager tersebut melangkah keluar dari ruangan Dimas masih dalam rasa takut dan terguncang akan apa yang ia dengar.
Setelah puas dengan makian meluapkan emosi, Dimas berdiri dan pindah duduk bersama adiknya di sofa. Membuang napas kasar dan memejamkan mata kila, Dimas berusaha meredakan emosi yang menggebu menguasi dirinya hari ini.
__ADS_1
Sementara manager yang memarahi Rena itu pun menghampiri Rena ketempat Rena dan meminta maaf. Lalu menyuruh Rena untuk kembali pulang saja sampai dia sembuh baru boleh kembali magang lagi. Rena terheran namun ia berterimakasih dan beranjak untuk kembali pulang.
Setelah membereskan kembali tas juga barang barang, Ia menelpon suaminya dan mengatakan jika akan pulang karena sudah mendapat ijin cuti sakit. Dengan cepat Dimas berpamitan pada adiknya dan kembali turun meninggalkan Tyo di ruangannya untuk menemui Rena dan kembali pulang bersama.