
STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, namun belum sempat Dimas atau pun Rena membuka, Aulia langsung masuk dan mendapati Maminya tengah memeluk. Tyo yang berada di luar kamar pun menjadi sedikit canggung karena merasa bersalah sudah membawa Aulia ke kamar kakaknya meski itu adalah permintaan Aulia sendiri.
Rena melepaskan pelukan pada tubuh suaminya, mengusap air mata cepat dan mencoba melebarkan senyum memasang wajah baik baik saja. Pasti akan sulit menjelaskan pad bocah selalu ingin tahu tersebut jika sampai tahu.
"Mami nangis ya?" tanya Auli yang melihat mata Mami nya memerah, usai memberikan pelukan dan memberikan ucapan selamat pagi pada orangtuanya.
"Engga sayang, tadi ada yang masuk ke mata Mami." jelas Rena pada putrinya, mencoba melebarkan senyum.
"Papi, Mami, Auli boleh engga pergi sama tante Siska sama Bi Lastri ke taman?" tanya Auli, langsung di raih tubuhnya untuk di gendong oleh Dimas.
"Boleh, asal janji engga boleh buat repot tante sama bibi dan harus nurut tante sama Bibi juga. Engga boleh pisah sama tante sama Bibi," terang Dimas, mendapat ciuman dari putri kecilnya dan berganti mencium perempuan disamping papi nya berdiri.
Setelah mendapat izin dari kedua orangtuanya, Auli bergegas turun untuk menemui tante dan pengasuhnya. Tyo hendak menyusul keponakannya, namun dipanggil cepat oleh seseorang keluar dari kamar. Tanpa lupa, Dimas menutup rapat pinyu, meninggalkan istrinya seorang diri di kamar.
"Dek!" panggil Dimas, menoleh Tyo seketika.
"Mas bisa minta tolong?" tanya Dimas pada adiknya.
"Iya, Mas. Kenapa?" sahut Tyo bertanya, sudah berhadapan dengan kakaknya.
"Hari ini Mas ada meeting, tapi engga bisa tinggalin Rena dengan kondisinya sekarang. Kamu bisa gantikan mas gak? nanti semua materi meeting bisa Kamu ambil di sekretaris," terang Dimas meminta tolong, tidak mau meninggalkan istrinya karena takut akan melakukan banyak pekerjaan rumah lagi.
"Iya bisa, Mas." Tyo menyanggupi cepat.
__ADS_1
"Dan ini tolong kamu telpon nomor ini untuk minta izin ke kantor magang Rena, minta izin untuk beberapa hari." pinta Dimas menyerahkan kertas berisi nomor telpon tempat dia magang dengan menunjukkan HP istrinya.
Tetap berdiri di dekat kamar tertutup, Tyo melihat ke arah ponsel dan menekan nomor pada ponsel sudah diraihnya dalam saku celana. Betapa terkejutnya Tyo begitu melihat jika yang keluar adalah kontak amat familiar bagi dirinya
"Mas yakin mbak Rena magang disini?" tanya Tyo memastikan dengan wajah masih terkejut.
"Iya, Dek. Memang kenapa?" sahut Dimas merasa aneh.
"Lihat ini, Mas!" ucap Tyo menunjukkan nama kontak yang keluar saat ia mengetikkan nomor pada ponsel kakak iparnya.
Kedua mata Dimas terbelalak hebat mendapati nomor perusahaan muncul pada ponsel adiknya. Mereka berdua saling menatap heran, tak menyangka jika Rena magang di sebuah perusahaan tengah dipegang saat ini. Dimas memang diberikan tanggungjawab untuk mengurus perusahaan oleh kakeknya.
Rena pun tak pernah mengetahui tentang Dimas, karena memang tak pernah bertanya sehingga Dimas tidak pernah bercerita takut dikira menyombongkan harta keluarga dan berlindung dibalik ketiak kelauarga. Meski sebenarnya perusahaan itu dikembangkan olehnya semenjak duduk dibangku kuliah, dan baru benar benar dipegang setelah lulus.
"Mas engga tahu?" tanya Tyo heran melihat kakaknya terkejut.
"Berarti udah jelas dapat ijin dong ya?" goda Tyo tersenyum.
"Tapi mas minta jangan bilang apapun ke Rena, karena dia engga tahu apa apa. Yang dia tahu mas hanya seorang pemain musik" minta Dimas pada Tyo, membuat Tyo heran kenapa kakaknya malah merahasiakan identitas aslinya pada istri sendiri. Bukankah jika istrinya tahu dari orang lain maka akan ada masalah nanti. Namun Tyo hanya mengangguk mengerti dan tidak berani mengatakan apapun, meyakini ada tujuan dalam kerahasiaannya tersebut.
Tyo turun untuk bersiap siap menuju kantor menggantikan Dimas meeting, sedangkan Dimas kembali lagi ke kamar untuk menemui istrinya yang sudah mengganti baju seragam magang dengan baju rumahan karena suaminy tidak mengijinkan untuk pergi sebelum kondisinya benar benar pulih.
"Auli sudah berangkat, Mas?" tanya Rena membuka pembicaraan sambil mengikat rambutnya dengan ikatan ekor kuda di depan meja rias.
Dimas menghampiri Rena yang tengah duduk di depan meja rias dan menatapnya dari kaca.
__ADS_1
"Maaf, aku engga ada maksud untuk marahin Kamu tadi. Tolong jangan terlalu Kamu masukkan ke hati," sesal Dimas berdiri dibalik tubuh Rena dan memegang kedua pundaknya.
"Iya, Mas. Aku janji bakal nurutin Kamu Aku bakal urus Kamu sama Auli mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Kamu, meski Mas belum bisa untuk menerima Aku sebagai istri. Aku akan selalu berusaha memenuhi tugas dan kewajiban sebagai istri," ucap Rena menatap dalam mata suami langsung membungkuk untuk memeluknya.
"Ada orang lain, Ren. Di hati Aku ada orang lain, dan bukan Kamu satu satunya." Jujur Dimas mendapatkan momen pas, tanpa mau mengatakan siapa nama perempuan itu.
"Siapa? apa Mas akan ninggalin Aku dan kembali ke dia? Aku harap jangan pernah tinggalin Aku," berubah Rena sendu, tetap Dimas tak mau jujur siapa namanya.
"Aku sayang kamu Ren, aku mau kamu jadi istri dan ibu buat Aulia juga ibu dari anak anak kita." Tulus Dimas tiba tiba tanpa mau membahas lebih banyak lagi, mengalihkan pembicaraan cepat dan coba dimengerti Rena.
"Kamu serius mas?" tanya Rena memastikan dan melepaskan pelukan.
"Aku serius, aku juga engga tahu mulai kapan perasaan ini ada, tapi semakin aku mencoba menghindar perasaan ini menjadi semakin kuat." terang Dimas, menitikkan air mata bahagia Rena mengesampingkan apa yang diucapkan suaminya tadi.
"Kamu kok nangis? tangan kamu sakit lagi?" tanya Dimas khawatir namun Rena malah langsung memeluk suaminya.
"Terimakasih, Mas. Aku nangis karena bahagia sekarang Kamu sudah bisa menerima Aku," ucap Rena tersenyum.
"Maaf karena kamu harus menunggu selama ini, aku janji mulai hari ini bakal kasih kamu juga Aulia keluarga yang utuh dan akan selalu bahagia." ucap Dimas mengusap punggung istrinya dan di angguki oleh Rena yang masih memeluk.
"Aku juga mau punya anak dari kamu Ren," goda Dimas agar istrinya berhenti menangis.
Rena melepaskan pelukan suaminya, menatap ke arah lelaki kini berpindah berjongkok di samping kursi meja ria. Rena tahu mungkin akan sangat egois ketika mengesampingkan perasaan lain suaminya, dan mungkin hubungannya juga menghancurkan orang lain. Namun bagaimanapun juga ia tak bisa kehilang suami sudah sangat dicintai, dan tak lagi mau tahu akan apa yang terjadi.
Apapun akan rela dilakukan demi mempertahankan keluarga kecilnya, walau harus menjadi wanita egois yang mencoba menutup mata juga telinga rapat akan mas lalu tak ingin diketahui. Entah itu sudah menjadi mas lalu atau belum, Rena tak perduli lagi asalkan tetap bersama dengan Dimas melalui hari hari dalam hidupnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Dimas memang ingin membahagiakan Rena karena telah begitu baik menjalankan kewajiban sebagai istri. Awalnya memang hanya sebuah rasa tak enak, tapi berubah menjadi rasa sayang tanpa menghapus seseorang memang memiliki hak istimewa dalam hatinya.