Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 104


__ADS_3

STOP PLAGIAT


" Sayang, tolong ambil laptop sama berkas di mobil dong " pinta Dimas pada istrinya yang sedang membereskan sampah air mineral gelas bersama Andin, Sonya dan Siska serta beberapa tetangganya usai acara kirim doa neneknya.


" Iya mas, ada lagi ?" tanya Rena menghentikan kegiatannya.


" Ada, ini buat semangat " ucap Dimas menyodorkan pipinya ke arah Rena yang sudah beranjak hendak pergi keluar.


" Genit " seru Rena tersenyum sambil memukul tipis lengan suaminya yang tersenyum ke arahnya.


Rena melangkahkan kaki menuju mobil Dimas yang masih terparkir di halaman rumah Nenek Rena seperti ketika Dimas datang kemarin lusa. Ia mengambil laptop serta beberapa berkas yang ada di sana lalu kembali dengan wajah kesal pada suaminya karena melihat adanya blazer wanita di jok belakang mobilnya.


" Nih " sinis Rena memberikan tas laptop juga dokumen ke suaminya dengan wajah kesal membuat Dimas merasa heran dan berdiri untuk mengejar Rena yang langsung meninggalkan suaminya begitu selesai menyerahkan barang barang suami nya.


" Kamu kenapa sih ?" tanya Dimas heran menarik pergelangan tangan Rena yang sudah masuk ke kamar karena jengkel.


" Aku mau kerja dulu " sahut Rena dengan nada tak enak dan mengambil beberapa barang yang sudah Ia siapkan untuk mengerjakan desain dan akan segera ia kirimkan ke asisten papa nya di Paris.


" Kamu marah, kamu engga enak kaya gini ada apasih ?" tanya Dimas yang merasa heran dengan sikap Rena usai kembali dari mobilnya.


" Mas, kamu habis jalan sama perempuan kan ? kamu jujur sama aku " seru Rena menatap ke arah suami yang memasang wajah heran dan penuh tanya tentang sikap Rena.


" Engga ada, kamu ngomong apa sih sayang aku engga ngerti. Perempuan siapa ? kamu bisa ngomong gitu alasannya apa ?" sahut Dimas sama sekali tak mengerti.


" Aku lihat blazer perempuan di jok belakang, engga mungkin kamu atau Auli yang pakai ?" jelas Rena karena terkejut ketika melihat adanya blazer berwarna hijau tosca terlipat rapi di jok belakang mobil suaminya.


Dimas yang masih merasa heran mencoba mengingat ingat tentang blazer yang dimaksud oleh istrinya. Ketika mulai mengingat sesuatu, Dimas melebarkan senyumnya ke arah Rena yang masih cemberut dengan wajah makin kesal ketika suaminya mulai tersenyum.

__ADS_1


" Oh itu ? itu emang punya perempuan sayang mana mungkin aku pakai blazer kaya gitu. Kamu cemburu ya ?" goda Dimas masih tersenyum ke arah Rena.


" Punya siapa ? Ana ? atau siapa ? pacar baru kamu ? " ucap Rena kesal dan melipat tangan di depan dada makin membuat Dimas gemas melihat kecemburuan istrinya.


" Istri aku cemburuan banget sih " seru Dimas tersenyum memeluk Rena yang masih melipat tangannya dan membalikkan tubuh dari suaminya tersebut.


" Mau aku kenalin sama dia ?" tambah Dimas yang masih memeluk Rena dari belakang sambil tersenyum.


" Engga " singkat Rena dengan nada sinis.


" Oke, kalau gitu aku ke depan ya udah di tunggu papa sama kakek. Kamu kerja aja sayang " seru Dimas beranjak meninggalkan Rena yang membulatkan matanya heran karena Dimas yang terlihat sangat santai.


Rena menggerutu kesal sambil terus mendengus memasang wajah tak enak karena suami yang langsung ingin keluar tanpa menjelaskan apapun dan malah tersenyum dengan puasnya menampakkan wajah bahagia membuat Rena heran. Rena mengambil pekerjaannya dengan menunjukkan kekesalannya yang membanting buku desain miliknya di atas meja sebelum ia kerjakan dengan mulut terus mengomel membuat Dimas tersenyum geli melihat tingkah istrinya lalu menghampirinya dan mencium kilas bibir Rena sambil berjongkok di samping tubuh istrinya dengan mata membulat tajam.


" Jangan suka ngomel sayang, cepat tua " goda Dimas menggelitik perut Rena hingga istrinya merasa sangat geli namun menahan tawanya.


" Nih, yang punya blazer mau ngomong sama kamu " seru Dimas meletakkan ponselnya ke telinga Rena yang terdengar suara perempuan yang sangat familiar di telinganya.


Siska menjelaskan tentang blazernya yang tertinggal karena di pinjamkan pada Aulia yang kala itu dijemput Dimas malam hari dari rumah Tyo. Karena memang cuaca yang dingin setelah hujan, Siska memaksa Aulia untuk mengenakan blazer milik Siska karena Aulia yang tak membawa jaket membuat Siska takut jika keponakannya akan kedinginan dan demam. Mendengar penjelasan Siska, Rena merasa malu sendiri karena suaminya yang langsung menghubungkan telfonnya padahal Siska sedang ada di depan. Rena menutup sambungan telfon dan memberikannya pada Dimas dengan wajah memerah.


" Kenapa engga di jelasin aja sih mas, gini kan aku malu sama Siska " gumam Rena jengah ke arah Dimas yang menertawainya.


" Kalau aku ngomong emangnya kamu percaya ? mending gitu dong sayang biar jelas sekalian daripada kamu salah paham dan bilang aku bohong terus kerjasama sama Siska buat bohongi kamu kan aku juga nanti yang susah " jelas Dimas panjang lebar dengan menatap wajah memerah Rena yang menggigit bibir bawahnya.


" Sayang, aku tuh cinta sama kamu jadi udah engga ada pikiran buat jalan sama perempuan lain. Biarpun kita terpisah dua tahun ini aku engga pernah sekalipun jalan sama perempuan lain kamu bisa tanya siapa aja terserah kamu kalau kamu engga yakin sama aku. Kamu lihat Brian, itu bukti cinta kita dan juga calon anak kita nanti " ucap Dimas meyakinkan Rena karena memang sudah tak ada niat untuk memiliki wanita lain selain Rena meski ia sudah terpisah dan memiliki surat cerai.


" Maafin aku mas, aku udah nuduh kamu macam macam. Aku cuma takut kalau ternyata kamu udah punya pengganti aku dan kamu pulang engga akan kembali lagi buat jemput aku " sahut Rena menundukkan wajahnya.

__ADS_1


" Ya udah aku cancel buat pulang besok ya, kita nikah disini terus pulang bareng biar kamu yakin " sahut Dimas menggenggam tangan Rena.


" Engga mas, kamu harus tanggungjawab sama pekerjaan kamu jangan gara gara aku terus perusahaan yang sudah di bangun dari nol jadi hancur " jawab Rena.


Dimas mengambil nafasnya dalam lalu memeluk istrinya mengusap lembut punggung Rena dengan perasaan mendalam yang ia rasakan saat ini.


" Aku cinta kamu sayang, kamu ibu dari anak anak aku dan engga mungkin akan ada orang lain lagi " seru Dimas masih memeluk Rena.


" Aku juga cinta sama kamu mas, aku engga mau kehilangan kamu lagi " ucap Rena mengeratkan pelukannya pada Dimas.


" Engga usah kerja yuk, kita tidur aja " goda Dimas membuat Rena langsung melepaskan pelukannya dan mencubit hidung mancung suaminya gemas.


" Udah mas keluar sana biar cepat selesai " seru Rena tersenyum pada suaminya.


" Udah engga tahan ya sayang ? " tambah Dimas menggoda istrinya agar tak lagi merasa malu.


" Mas..." seru Rena menatap suaminya yang cengengesan.


Dimas beranjak meninggalkan Rena untuk menemui Siska lebih dulu agar tak membahas maslah blazer yang akan membuat istrinya merasa sangat malu yang dipahami oleh Siska. Usai mengatakan hal itu, Dimas kembali bergabung dengan Tyo, Erwin, Dedrick serta Teddy untuk membahas permasalahan kantor dan mencari jalan keluarnya bersama yang rencana nya Erwin akan membantu Dimas untuk perusahaannya dengan membatalkan perjalanannya kembali ke Paris karena juga ingin menjadi saksi atas pernikahan Rena dengan Dimas yang akan mereka langsungkan begitu kembali ke rumah usai masalah kantor selesai agar Dimas mendapatkan ijin cuti dari Dedrick untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.


Sementara Rena yang berusaha menyelesaikan pekerjaan nya lebih cepat sebelum suaminya kembali terus mencoba konsentrasi agar bisa langsung mengirimnya setelah ini.


Pukul 10 malam, Rena yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan dan mengemailnya ke asisten papa nya, menyiapkan barang barang Dimas agar suaminya tak perlu repot berkemas. Ia sengaja meninggalkan beberapa pakaian kotor suaminya untuk ia cuci esok hari. Hingga pukul 11 malam, Dimas belum juga kembali sementara mata Rena sudah tak bisa lagi untuk terjaga. Ia masih berusaha membuka mata dengan duduk di kursi kamarnya sambil menunggu Dimas yang tanpa Ia sadar mulai terlelap di atas kursi tersebut dengan kepala menyandar di meja hingga membuat tubuhnya begitu membungkuk.


Dimas yang kembali ke kamar pukul 11.45 mendapati istrinya tertidur menghela napasnya panjang lalu mengangkat tubuh Rena agar tidur di atas ranjang. Rena yang memang sangat lelah dan mengantuk dari sore hari sudah sangat terlelap hingga tak menyadari suaminya yang menggendong tubuhnya.


" Malam sayang " ucap Dimas usai merebahkan tubuh Rena dan mencium lembut kening istrinya.

__ADS_1


Dimas mulai memakaikan selimut pada Rena dan merebahkan diri di samping Aulia karena posisi tidur yang sudah di rubah Rena agar muat untuk empat orang meski tubuh tinggi Dimas harus ia ganjal dengan bantuan kursi agar bisa lurus. Dimas mulai terlelap bersama istri dan anak anaknya usai memasang alarm agar bisa terbangun esok harinya. Meski sangat ingin menghabiskan malam bersama Rena namun melihat kondisi istrinya begitu lelap dengan wajah leleh, Ia tak sampai hati untuk membangunkan istrinya demi egonya sendiri.


__ADS_2