Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 132


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Pria yang melepas pelukan erat istrinya tersebut menatap dalam dengan mengutarakan kata kata penuh kasi sayang untuk terus meyakinkan istri yang kini dilanda rasa khawatir akan dirinya yang mungkin akan terpikat pada sekretaris cantik yang terus berusaha menggoda dan mendekati dirinya. Meski tak pernah ada sedikitpun niat untuk mengkhianati istri yang begitu Ia cintai, namun itu tak membuat perasaan Rena merasa tenang mengingat manusia hanyalah seorang makhluk biasa yang mungkin akan terlena dengan godaan apalagi wanita secantik dan seseksi Ana.


Rena meletakkan kedua telapak tangan di sisi wajah suami yang menatap dalan matanya lalu mengecup lembut dan hangat penuh perasaan pada Dimas yang amat Ia rindukan. Ia tak ingin suaminya mencari kehangatan di luar dan mencoba berkompromi dengan tubuh yang masih merasakan trauma tersebut. Tatapan lembut dan dalam Dimas arahkan ke dalam mata istri dengan pancaran perasaan cinta yang juga tengah Ia rasakan. Rasa saling merindukan antara keduanya mendorong mereka untuk menikmati bibir satu sama lain dengan begitu lembut mencurahkan segala kerinduan yang terpendam selama satu bulan lebih lamanya.


" Sayang? " seru pria yang menghentikan aktifitas bibirnya seakan mengisyaratkan sebuah pertanyaan persetujuan dari Rena sebelum Ia melanjutkan hasrat yang sudah mendera dalam dirinya.


Dengan anggukan kepala serta senyum yang mengembang di bawah tubuh suaminya mengisyaratkan jika Dirinya mengijinkan suaminya untuk kembali menikmati tubuhnya. Setiap sentuhan lembut dari tangan Dimas membuatnya seakan melayang merasakan sebuah rasa yang lama tak Ia rasakan. Tubuh yang begitu saling merindukan beriringan dengan perasaan cinta yang semakin besar membuat keduanya hanyut dalam hasrat terpendam.


" Gantinya Auli datang sayang" seru Dimas terpaksa menghentikan kegiatan berhasrat mereka ketika mendengar suara Brian dari balik pintu kamar memanggil Papinya berulang membuat keduanya tertawa bersama.


" Iya nak " tambah Dimas berteriak menjawab panggilan putranya dan membantu Rena merapikan kembali daster yang sudah Ia sibakkan sampai ke atas.


" Aku mandi dulu ya mas " ijin Rena dengan nada hati hati karena hari semakin siang.


" Iya sayang, Aku lihat pengganggu Kita dulu " sahut Dimas tersenyum dan mencium lembut kening dan bibir istrinya.


Rena meninggalkan suaminya yang menunggu dirinya masuk kedalam kamar mandi sebelum membukakan pintu dan melihat ada apa dengan putranya hingga harus memanggil dirinya berulang tanpa henti.

__ADS_1


" Papi " seru bocah kecil di balik pintu yang sudah terbuka dengan sambutan lelaki yang masih tanpa mengenakan atasan berjongkok di hadapannya.


" Kenapa sayang? Kamu naik sendiri? " tanya Dimas pada putra yang langsung memeluk dirinya.


" Om " singkat Brian menunjuk ke arah lelaki yang tersenyum menyandarkan diri di dinding dekat anak tangga sembari melipat kedua tangan di depan dada.


" Kamu sudah datang? mas pakai baju dulu ya " seru Dimas pada Adiknya dan di jawab anggukan serta senyuman dari Tyo.


Dengan kedua tangannya Dimas mengangkat tubuh bocah yang masih memeluknya lalu membawa serta bocah tersebut ke dalam ruang ganti untuk mengambil sebuah kaos serta mengganti celananya dengan celana pendek santai karena merasa sangat gerah akibat pergumulan hebat yang tertunda dengan istrinya. Usai mengganti pakaian, Dimas keluar untuk menyusul Tyo yang lebih dulu turun dan menunggu Kakaknya di sofa ruang tengah sembari menikmati segelas jus yang sudah di siapkan Bi Ijah untuknya di meja kecil samping sofa.


" Ganggu ya mas? " ucap Tyo tersenyum ke arah Dimas yang sudah duduk di sampingnya memangku Brian.


" Di rumah mas harus bedrest tiga bulan kata Dokter kandungannya lemah, ini cuma mau ambil rujak aja Aku " jelas Tyo mengejutkan Dimas tentang kondisi Adik iparnya.


" Kamu kok engga bilang sama mas sih? " sahut Dimas terkejut.


" Iya mas maaf, orang baru kemarin pas dari sini Kita ke Dokter kok. Mba mana? " ucap Tyo.


" Ada lagi mandi Kamu tunggu aja. Emang Siska sering ngidam? " sahut Dimas santai dengan Brian terus memainkan jenggotnya.

__ADS_1


" Engga sih mas baru tadi bangunin Aku jam empat cuma pengen makan rujak buatan mba kaya di Jogja " jelas Tyo ketika masih tertidur tiba tiba istrinya merengek minta Ia datang ke rumah Kakaknya.


" Ya kenapa baru ambil sekarang? harusnya tadi Kamu langsung datang kesini jangan biarin orang ngidam nunggu loh Dek " sahut lelaki yang menggeser kepalanya karena Brian mulai mencabut helaian jenggot tipis di wajah rupawan nya.


" Ih Brian sakit nak " tambah Dimas memegangi wajah berjenggot yang terus di cabuti putranya sembari tersenyum membuat Tyo amat gemas pada keponakan yang tak henti terkekeh ketika Papinya mulai menghindar karena sakit juga geli.


Tingkah lucu Brian yang tak henti membuat Tyo merasa gemas karena bocah kecil tersebut masih asik untuk mencabut setiap helaian jenggot tipis Dimas yang membuatnya tertawa puas ketika Dimas merasa sakit hingga menahan tangan putranya lalu menciumi dengan amat gemas serta menggelitik wajah bocah yang terkekeh tersebut dengan jenggot tipisnya.


" Oh ya mas kemarin Kakek hubungi Aku buat pindahin Ana ke anak perusahaan di luar Kota, mas sudah cerita semua ke mba masalah Ana? " ucap Dimas teringat tentang sambungan telfon Dedrick semalam meminta dirinya membuat suar pemindahan Ana sesuai permintaan Dimas ketika di Belanda karena Dedrick juga tak ingin pernikahan cucunya dalam ambang kehancuran sekali lagi.


" Belum Dek, mas takut Dia engga mau terima apapun penjelasan mas dan pergi tinggalin mas. Kamu tah kan gimana perasaan mas ke mbak Kamu? mas engga mau pisah lagi sama Dia " jelas Dimas sengaja tak memberitahu semua yang terjadi antara Dia dan Ana selama istrinya tak ada yang jelas akan menghancurkan kembali rumah tangganya.


" Aku tahu mas, tapi kalau sampai Ana nekat dan kasih tau ke mba itu engga akan baik juga mas karena gimanapun lebih baik mba dengar dari mas sendiri " coba Tyo menasehati Kakaknya yang terlihat cemas mendengar perkataan Adiknya.


" Nanti Dek, mas tunggu waktu yang pas dulu " sahu Dimas masih menimbang semua apakah harus jujur atau tetap diam demi mempertahankan rumah tangga yang bari Ia bina kembali.


Kedatangan Rena yang tiba tiba menghentikan pembicaraan Dimas dan Adiknya tentang permasalahan yang di hadapi Kakaknya karena tak ingin Kakak iparnya mendengar semua pembahasan mereka berdua. Dengan tersenyum dan wajah terlihat segar usai mandi, perempuan dengan balutan jumpsuit pendek berwarna hitam tersebut menghampiri suami juga Adik iparnya sebelum Ia beranjak ke dapur untuk menyiapkan rujak yang sudah Ia buatkan untuk Siska.


Usai Rena kembali, Tyo segera pamit karena istrinya terus menghubungi agar Ia cepat pulang. Dimas yang kembali teringat kejadian tidak menyenangkan dalam hidupnya ketika Rena pergi menjadi kembali merasa bersalah pada istrinya akan apa yang terjadi namun Ia tak sanggup jika harus jujur dan membuat istrinya kembali pergi.

__ADS_1


__ADS_2