Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 17


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH.


Yang tidak pahan akan cerita nyata dibuat novel, bisa berhenti membaca daripada ngotot dengan alur sendiri. Saya hanya menulis bukan merubah. Thanks.


Masih berduaan dalam ruangan juga posisi yang sama, keduanya dikejutkan oleh ponsel Rena yang tiba tiba berdering. Diraihnya ponsel tadi diletakkan Dimas di atas meja rias dan terlihat pada layar bertuliskan kantor magang.


"Maay ya, Mas. Aku angkat telpon dari kantor tempat magang dulu," ijin Rena memegang ponsel, beranjak dari posisinya.


"Iya, siapa tau itu penting. Jadi angkat aja dulu," sahut Dimas berdiri dari posisi jongkok dan berpindah ke tepi ranjang, mulai duduk dengan menyalakan ponsel miliknya.


"Halo selamat pagi, Pak." Rena mulai mengangkat panggilan tanpa keluar kamar, segera mendapatkan amarah karena tak masuk magang tanpa sebuah pemberitahuan.


"Maaf, Pak. Saya kurang enak badan jadi kalau diperbolehkan Saya izin dulu tidak masuk," sahut Rena, diminta untuk memberikan surat Dokter saat itu juga tanpa menunggu waktu lagi karena tidak mempercayai alasan diberikan.


"Baik, Pak. Saya akan segera ke kanto sekarang," jawab Rena mengiyakan.


Dimas sedari tadi mendengarkan pembicaraan istri yang kini sudah menutup telpon dengan seseorang, ia terkejut ketika mendengar jika Rena harus datang ke kantor apalagi alasan sakit sudah diberikan. Ia mulai bertanya tanya bagaimana bawahannya mengurus pekerjaan selama ini, sampai memperlakukan orang lain seperti robot.


Meski hanya sakit luka bakar, namun pekerjaan juga angin yang mungkin mengenai luka infeksi itu, bisa saja mengakibatkan infeksi parah. Bahkan keringat di cuaca panas, bisa saja membuat Rena kesakitan kembali karena rasa perih yang timbul.


"Kamu kan udah Aku larang magang hari ini," santai Dimas menatap kembali pada layar ponsel ditangannya.


"Maaf, Mas. Ini Manager HRD yang hubungi Aku nyuruh buat ke kantor anatr surat Dokter. Kayaknya mereka engga percaya jadi Aku harus ke kantor sekarang," jawab Rena seraya mengembalikan ponsel ke atas meja rias.


"Oke, kalau begitu Kamu ganti pakaian aja dulu. Aku mandi sebentar habis itu Aku antar ke kantor," kata Dimas, langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban apapun.


Awalnya Dimas hanya ingin tinggal di rumah, namun ternyata ia harus turun tangan mencari tahu siapa yang berani memperlakukan anak magang sesuka hati. Bahkan ia sendiri tak pernah mempermasalahkan anak buah yang ijin sakit atau untuk sebuah kepentingan keluarga lainnya, bagaimana mungkin seorang bawahan bisa melakukan hal tidak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali.

__ADS_1


Menyingkat waktu mandi yang biasanya bisa sampai satu hingga dua jam, Dimas sudah keluar hanya dalam waktu dua puluh menit saja. Langsung menuju ruang ganti dengan hanya membalut tubuh dengan handuk di pinggang, Dimas meminta istrinya keluar lebih dulu dan menunggu dibawah selama ia berganti pakaian.


Rena menuruti perminataan suaminya, keluar dan menuju ruang bawah untuk menanti setelah lengkap dengan pakaian magang biasa dikenakan. Duduk di sebuah sofa ruang tengah, Rena setia menanti seseorang kini bersiap di dalam ruang ganti pribadinya.


"Ayo, berangkat!" tegas Dimas menghampiri istrinya, mengenakan pakaian tampak sangat santai.


"Iya, Mas. Aku bilang Bibi dulu ya, takut nanti Auli pulang terus nyari Kita. Sebentar," ucap Rena, dijawab anggukan dan menuju ke dapur dimana asisten rumah tangga berada.


"Bi, kalau nanti Auli balik terus nyari bilang aja Kita ke kantor magang. Mas Dimas antar Saya, nanti juga balik duluan kok." Rena berpamitan pada Bi Ijah.


"Oh iya, Bu. Hati hati di jalan," sahut Bi IJah sopan seraya sedikit membungkukkan badan.


Dimas sudah lebih dulu berada di dalam mobil, siap tepat dibalik kemudi. Rena segera masuk dan duduk di samping suaminya. Dengan sigap Pak Adi membukakan pintu mobil begitu melihat Nyonya nya keluar dari rumah tadi dan dibalas senyuman oleh perempuan sekarang masuk ke dalam mobil. Dimas tak suka membawa sopir, ia lebih senang mengemudi bersama mobil kesayangannya.


"Terima kasih, Pak." Rena melemparkan senyum pada sopir rumah menutup pintu mobil rapat.


"Iya, Bu. Sama sama," santu pak Adi menjawab ikut melebarkan senyum.


Melintasi jalanan lenggang pada jam kerja, Dimas mengemudi dengan kecepatan stabil. Tiba tiba terdengar suara kesakitan dari perempuan di sampingnya dan ditoleh oleh Dimas untuk memastikan. Tangan yang terluka, ternyata tergesek oleh map di atas pangkuan hingga menimbulkan sedikit rasa sakit.


"Kenapa?" tanya Dimas khawatir, menoleh ke arah Rena.


"Cuma kena ujung map aja, Mas." Rena menjawab dengan meniup tangannya sendiri.


"hati hati bisa kan? udah dibilangin jangan kerja malah maksa aja ke kantor! tangan Kamu itu iritasi, kena angin sama keringat aja engga boleh malah mau kerja kena gesekan atau apalah! udara ini juga bawa debu, tau gak?!" kata Dimas sedikit kesal karena mood sudah hancur.


"Iya maaf, Mas. Aku akan lebih hati hati," jawab Rena lirih.

__ADS_1


Dimas berucap dengan menatap lurus kembali ke jalanan, moodnya benar benar sudah hancur sekarang karena ulah orang HRD kantornya. Mobil yang ia kemudikan berhenti pada sebuah kantor tampak megah, seorang penjaga keamanan langsung berlari membukakan pintu begitu melihat kendaraan sangat dihapal olehnya.


"Pagi, Pak." Security menyapa sopan, membukakan pintu mobil Dimas. Terasa aneh bagi Rena yang memperhatikan dari dalam sambil mengenakan tas kerjanya, tapi menganggap jika mungkin saja memang itu pelayanan yang diberikan.


Rena tidak berpikir macam macam dan segera turun dari mobil seorang diri, meletakkan tangan pada pundak juga membawa tumpukan map ditangan berisi pekerjaan yang memang ia bawa pulang untuk diselesaikan. Baru kali ini Rena membawa pekerjaan ke rumah, karena memang perintah langsung diberikan.


"Tolong minta orang memarkirkan mobil Saya!" perintah Dimas tegas pada security.


"Baik, Pak!" sigap pria bertubuh berisi itu menjawab.


"Sampai sini aja, Mas. Aku bisa masuk sendiri, nanti Mas kesiangan lagi ke tempat kerja." Rena berucap dengan berdiri di samping tubuh suaminya, dibalas belaian tangan pada rambut membuat security membelalakkan mata sempurna.


"Yaudah terserah Kamu aja," jawab Diams tersenyum.


"Mas hati hati di jalan," kata Rena kembali.


Rena lebih dulu masuk ke dalam, sedangkan Dimas sengaja berdiri sejenak di depan kantor. Lelaki dengan kaos serta celana pendek juga sepatu kets itu langsung menuju lift khusus CEO begitu tak melihat lagi istrinya. Menuju ke lantai atas dimana ruangannya berada, Dimas langsung menuju ruang meeting yang berada pada lantai sama dengan ruangannya.


Pintu terbuka dengan seseorang masuk berpakaian santai serta topi putih menghiasi, mengejutkan Adiknya juga beberapa karyawan tergabung dalam meeting. Mereka segera berdiri begitu mengetahui jika itu adalah pimpinannya, namun Dimas langsung masuk dan duduk disamping Adiknya yang tadi diminta menggantikan.


"Pagi, Pak!" serentak semua karyawan di ruang meeting memberi salam.


"Pagi, lanjutkan saja!" tegas Dimas berwibawa.


"Ada yang bisa Kami bantu, Pak?" tanya seorang karyawan.


"tidak ada, Saya hanya mau melihat saja." Dimas berucap dengan nada sama, duduk santai membaca materi meeting di meja.

__ADS_1


Duduk dengan bersandar santai meletakkan satu kaki di atas paha, Dimas membaca materi meeting dan menyimak apa yang disampaikan dalam ruangan besar tersebut. Ia tetap diam dengan memasang wajah dingin tanpa melepaskan topi, diiringi tatapan karyawan yang merasa aneh dengan penampilan boss mereka yang tak seperti biasa.


Bukan Dimas namanya jika ia sampai menggubris tanggapan tentang dirinya, ia memang orang dingin dan cuek bahkan tak pernah perduli dengan komentar orang tentang hidupnya. Berprinsip jika dirinya yang menjalani semuanya bukan orang lain jadi untuk apa perduli.


__ADS_2