
PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.
Infus sudah terpasang, Dokter yang memeriksa juga tengah di antar Dimas keluar. Sebelum kembali, ia meminta seorang perawat datang untuk bisa memantau 24 jam kondisi Rena. Semua itu juga atas permintaan dari Dimas.
Dion masuk ke dalam kamar setelah meminta ijin dari Natalie yang masih bersama kedua cucunya. Dilihatnya wanita selalu tersenyum dan berkata lembut juga menyejukkan hati padanya, terbaring tidak berdaya dengan selimut menutup sampai perut.
"Brian ambil kompres hangat buat mami dulu, kak" pamit Brian memajukan tubuh perlahan untuk turun dari ranjang.
Dion duduk di tepi ranjang, meraih tangan Aulia dan menggenggamnya memberikan senyum tulus pada wajah tampannya. Mata berkaca kaca Aulia menatap suaminya, diraih oleh Dion ketika bulir air mata itu mulai jatuh.
"Sayang, kita doain mami aja. Kamu jangan terus nangis nanti mami denger dan sedih" tulus Dion mengusap punggung istrinya.
"Aku engga pernah lihat mami kaya gini, aku engga bisa lihat mami sakit kaya gini" tangis Aulia pecah, namun tertahan suaranya pada dada bidang lelaki tetap mendekap.
Dion tetap mencoba menenangkan istrinya hingga mertuanya masuk. Tersenyum melihat putrinya kini memliki temoat beesandar, Dimas melangkah masuk dan mengusap punggung putrinya lembut.
"Sayang, sholat sana sama suami kamu udah adzan" ucap Dimas mengingatkan, tetap mengusap punggung putrinya.
"Dion, ajak Rendi, Brian sama Dinda sholat juga. Papi sholat di kamar aja sekalian jaga mami" tatap Dimas ke arah menantunya.
"Iya pi" mengangguk Dion mengiyakan.
Dion beranjak berdiri dan membantu Aulia, keluar bersama meninggalkan kedua orangtuanya dalam kamar. Duduk do tpi ranjang menatap istrinya, Dimas membungkukkan tubuh dan mencium tangan terasa dingin itu tulus.
"Maafin aku engga jagain kamu, cepat sembuh sayang. Aku engga mau lihat kamu gini terus, aku butuh kamu" tulus Dimas memegang tangan kiri istrinya.
__ADS_1
Sejenak mendekat pada istrinya, Dimas melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Di luar, Dion sudah mengimami di mushola yang terdapat di lantai satu rumah besar mertuanya. Aulia juga adik adiknya bersama dengan Natalie, serta Siska dan kedua anaknya khusul dalam ibadah mereka. Sedangkan Teddi sudah lebih dulu berangkat ke masjid, dan Erwin bersama Tyo masih belum kembali untuk menebus resep Dokter.
***
Dini harinya, Rena sudah merasa baikan dan sayup sayup membuka mata. Tubuhnya masih lemah, namun tenggorokan terasa kering dan ingin minum. Mencoba duduk menarik tubuhnya perlahan ke atas, ia terkejut melihat semua anaknya tidur di lantai hanya beralas karpet bulu saja bersama Dion dan papi mereka. Matanya sendu menatap semua orang tidur di bawah untuk menjaga dirinya. Tanpa sengaja air mata melinang tanpa ijin darinya.
"Maafin mami ya nak, gara gara mami sakit kalian harus kaya gini sama papi" sendu Rena menujukan pandangan ke bawah.
Bergerak pelan meraih segelas air minum di samping meja, tanpa ingin membuat suara yang akan membangunkan semuanya. Ia tidak lagi bisa memejamkan mata, terus memperhatikan orang orang yang tulus mendampingi dirinya. Melihat Aulia tidur bersama Dion bersama, mengukir senyum dalam air mata kebahagiaan.
Terlintas sosok Aulia kecil yang selalu merengek untuk bisa bersamanya, kini ternyata sudah dewasa dan memiliki suami. Seakan tidak percaya jika waktu sudah berlalu cepat. Suami yang menolak dirinya dulu, kini berubah sangat menyayangi dirinya. Bahkan kebaikan Allah tidak berhenti sampai di situ, ia di karuniai anak anak soleh dan soleha yang mampu menjaga nama baik keluarga.
"Terima kasih atas segalanya, Engkau sudah menitipkan harta paling berharga dalam hidup hamba. Jagalah keluarga hamba agar tetap pada jalan-Mu, dalam lindungan-Mu" batin Rena berdoa sembari menyandarkan punggung pada sandaran tempat tidur.
"Papi?!" membulat mata Aulia melihat ke arah pria di samping tubuh suami juga Brian.
"Apa? kaget? udah biasa lihat suami kamu kalau bangun tidur? lihat papi udah kaya lihat hantu aja kagetnya" canda Dimas, membuat Aulia cengengesan.
"Aku syok bangun tidur lihat aura ketampanan papi" cengengesan Aulia menggoda.
"Halah, udah bangun sholat dulu sana" bergegas membuka selimut dan duduk di antara Brian dan Dinda, Dimas memijat kilas tengkuknya.
"Berisik banget sih, Bi" ngelantur Dion dalam lelap sembari menutup telinga dengan tangan.
"Bibi, emang suara papi kaya ibu ibu apa?! aku siram air juga nih anak" gerutu kesal Dimas, diiringi tawa Aulia.
__ADS_1
"Suami Auli lucu ya pi, gemesin banget" tetap tertawa menatap papinya.
"Iya gemesin, pengen nabok aja" sahut Dimas, melepaskan tawa Aulia terbahak dan di bungkam papinya.
"Mami tidur!" melotot Dimas menahan suara mengingatkan putri yang langsung mengangkat dua bahu.
"Aku udah bangun mas" seru Rena, cepat Aulia dan Dimas menoleh lalu menghampiri wanita tengah bersandar di atas ranjang.
"Kok udah bangun?" tanya Dimas memeriksa kening hingga leher istrinya seraya membungkukkan badan dengan Aulia duduk di samping maminya.
"Mami udah sehat? aku takut banget lihat mami kaya kemarin" manja Aulia memeluk maminya.
"Maafin mami ya sayang" lembut Rena tersenyum.
"Aki kirain kamu hamil lagi, ternyata cuma demam" menggoda Dimas, melepas senyum istrinya dan di tatap Aulia.
"Papi, engga cukup aja punya anak empat masih mau nambah lagi" gumam Aulia dengan maminya tersenyum.
"Biarin aja, kamu bentar lagi pergi jadi anak papi cuma tiga butuh nambah satu lagi buat gantiin kamu" goda laki laki berdiri di samping ranjang memeriksa infus instrinya.
"Papi jahat banget sih masa aku mau di gantiin? udah gitu di anggap ilang lagi cuma punya anak tiga" kesal Aulia memajukan bibir.
"Ih ini bibirnya" geram Dimas menarik bibir putrinya maju, ditertawakan Rena.
Memperhatikan dari tadi suami dan anaknya bercanda, seolah tidak rela jika harus ditinggalkan oleh putrinya. Rena masih ingin terus bisa menatap juga mendengar perdebatan dalam candaan keduanya. Apalagi saat suami dan keempat anaknya mulai berdebat bersama dan dia hanya bisa tersenyum menjadi pendengar. Mungkin itu yang akan sangat dirindukan olehnya ketika Aulia harus ikut suaminya mulai esok hari. Bagaimanapun juga, Rena dan Dimas harus bisa mengikhlaskan Aulia pergi mengikuti kemanapun suaminya pergi, sebagai kewajiban seorang istri.
__ADS_1