
STOP PLAGIAT!
Jalanan dini hari tak terlalu menyusahkan Dimas, karena hanya beberapa saja kendaraan berlalu lalang hingga membuatnya cepat sampai di rumah Adiknya. Pagar rumah hanya tertutup biasa tanpa gembok, membuat lelaki yang membiarkan celana piyama panjang membalut tubuh bawahnya hanya bisa menggelengkan kepala.
Mobil cepat Ia bawa masuk, lalu berlari ke dalam rumah setelah kembali merapatkan pagar rumah. Langkah diiringi dengan teriakan memanggil nama Adiknya, namun tak mendapatkan jawaban apapun. Napas kasar keluar begitu saja, ketika melihat Adiknya masih membalut tubuhnya nyaman dengan selimut di kamar.
" Dek, bangun " tegur Dimas memukul lirih pundak Adiknya, dan di perkuat ketika tetap tak menadapat jawaban Adiknya.
Segelas air putih di samping tempat tidur di raih oleh Dimas dengan raut wajah jengkel memercikkan air pada wajah Adiknya berulang kali.
" Mas Dimas apa apaan sih?! " jengkel Tyo melihat wajah Kakaknya berdiri di samping tempat tidur memgang segelas air minum.
" Bangun, istri Kamu lahiran malah enak enakan tidur. Suami macam apa Kamu itu Dek " jengkel Dimas, langsung mengejutkan Tyo dengan setengah sadar berduyun ke arah luar kamar tapi tak mendapati siapapun.
" Ini beneran ?! mas engga bohong ?!" tegas Tyo tak mempercayai Kakaknya.
" Udah kelamaan ! " sahut lelaki sudah menyeret kasar lengan Adiknya menuju mobil.
Seorang asisten rumah tangga yang terbangun karena teriakan Dimas, membantu kedua Adik Kakak tersebut membuka pagar rumah. Bergegas Dimas kembali melajukan kendaraan ke rumah sakit tanpa melupakan ucapan terimakasih dan mengingatkan asisten rumah tangga Adiknya agar tak lupa mengunci kembali semua pintu dan pagar.
" Buruan Mas " khawatir Tyo tak tenang di samping Kakaknya.
__ADS_1
" Makanya, tidur itu yang wajar aja engga usah kaya orang pingsan ! " jengkel Dimas masih tak habis pikir dengan Adiknya.
" Ya mana tahu mas kalau bakal lahiran sekarang, dua hari hampir engga tidur Aku nunggu " jawab Tyo memasang wajah menyesal.
" Siapa yang suruh coba " gerutu lirih Dimas tetap melajukan kendaraan menuju rumah sakit.
Sementara Rena tak melanjutkan kembali tidur dan memilih untuk membersihkan diri melakukan ibadah mendoakan Adik ipar yang kini telah berjuang seperti apa yang terjadi padanya dulu. Memahami betul bagaimana rasa sakitnya, Rena berharap agar Siska mampu melalui segalanya dan lancar serta selamat semua. Tak henti bibirnya terus berdoa dan berharap akan keselamatan Adik ipar serta keponakan yang akan segera melihat keindahan dunia.
Dimas dan Tyo baru tiba di rumah sakit, karena pedal diinjak penuh oleh Dimas takut jika Adiknya tak bisa menyaksikan kelahiran anak pertama seperti dirinya. Tanpa menunggu hingga mobil terhenti sepenuhnya, Tyo langsung membuka pintu membuat Kakaknya mengomel. Seakan tak mau mendengar teriakan makian Dimas, Tyo bergegas berlari mencari dimana istrinya berada saat ini. Dilihatnya Teddy dan Rendra mondar mandir, kala Tyo di antar oleh seorang pegawai rumah sakit yang amat mengenalnya.
Dengan cemas, Tyo langsung masuk ruang bersalin menggantikan Alena dan Natalie di dalam. Langsung diraihnya tangan Siska yang tengah merintih kesakitan menunggu hingga bukaan sempurna untuk membawa anaknya melihat isi dunia bersama.
" Sayang kuat ya, please " tak kuasa Tyo mengusap punggung istrinya dan mencoba berbicara pada calon buah hatinya.
Tanpa henti Tyo mencoba menenangkan istrinya dengan mencoba menguatkan diri sendiri melihat perempuan amat Ia cintai harus terus merintih kesakitan untuk pertama kali dalam hidupnya. Dokter menyarankan agar Siska berjalan jalan di sekitar tempat tidur untuk mempercepat proses pembukaan.
Walau tak tega, Tyo setia menemani istrinya berjuang dan membantunya berjalan. Namun hanya beberapa kali berjalan mondar mandir, Siska merasakan sesuatu akan segera keluar hingga cepat Dokter yang masih menunggu di ruangan bersalin tersebut membantu Siska naik ke atas tempat tidur.
Sesuai aba aba Dokter yang diikuti oleh Siska, tak henti tangannya menggenggam kuat tangan suaminya sembari dirinya terus berusaha membantu anaknya keluar. Air mata tak kuasa mengalir begitu saja dari laki laki yang terus membungkuk ke arah wajah istrinya.
Tak lama terdengar tangisan bayi, melegakan semua yang masih setia menunggu hingga dua jam di depan ruang bersalin. Dimas juga merasa bahagia serta membayangkan jika dirinya juga akan ada pada posisi Adiknya saat ini. Mengingat hari kelahiran calon anak ketiganya tak terlalu jauh dari Siska.
__ADS_1
Didalam, Tyo mengucap syukur juga memberikan selamat dan terimakasih pada isrrinya karena telah memberikan seorang anak padanya. Seorang anak perempuan sehat telah di anugerahkan Tuhan demi melengkapi kebahgiaan Tyo dan Siska yang sudah lama tak mendapatkan kabar baik, karena memang sengaja menunda untuk memiliki keturunan melihat kesibukan keduanya.
Sedari tadi Tyo terus melihat ke arah istrinya, mengingat ucapan Natalie karena tak ingin agar Tyo melihat darah. Namun karena rasa penasaran, Ia pun menconba melihat banyaknya darah keluar di atas tempat tidur hingga menyembur ke lantai. Mata membulat mengiringi lutut melemas Tyo, dan tak lama harus jatuh karena pingsan melihat adanya darah.
Seorang perawat cepat keluar memanggil perawat lain agar membantu Tyo yang sudah tersungkur di lantai, mencemaskan Siska yang sempat berteriak ketika tubuh suaminya perlahan turun dengan lemas.
" Kenapa ?" tanya Dimas terkejut melihat perawat keluar buru buru.
" Bapak Tyo pingsan di dalam Pak " jelas perawat kemudian permisi untuk memanggil perawat.
" Ampun Tyo....." seru Dimas menepuk kening.
Kedua orang tua juga mertua Tyo di depan malah menertawakan papa muda tersebut, karena sudah di peringatkan agar tak melihat sendiri darah dan malah tetap melihat hingga akhirnya pingsan.
" Bikin malu keluarga aja " gerutu Dimas di pukul lirih pundaknya oleh Natalie sambil menekan tawa,
" Jangan gitu, nanti Kamu juga bakal pingsan yang ada belum keluar darah udah pingsan dulu lihat Rena kesakitan " ledek Natalie pernah melihat betapa cemas putranya hanya karena Rena tertusuk duri ikan.
" Ya engga dong Ma, Aku tuh lebih kuat dari Tyo " bangga Dimas membela diri namun tak yakin dalam hatinya.
Tyo sudah diangkat dan di bawa keluar ke ruangan lain, sementara Siska masih berada di ruang persalinan dengan Natalie dan Alena bersama menemani. Sementara Dimas, Teddy dan Rendra menemani Tyo yang masih belum sadarkan diri di ruangan lain. Ketiganya masih menertawakan Tyo yang terbaring di atas tempat tidur, tak bisa membayangkan bagaimana bisa Tyo dalam keadaan seperti ini, yang membuat Teddy bercerita akan kedua anaknya yang takut pada darah ke besannya.
__ADS_1