
STOP PLAGIAT!
Dedrick bersama dengan lainnya mulai melihat bukti yang di bawa oleh Rian yang menunjukkan sebuah gambar video dimana Ana memberikan sebuah botol berisi obat juga sejumlah uang kepada seorang pelayan yang kini bersedia menjadi saksi untuk membela Dimas. Andre yang kala itu membantu Dimas juga bersedia membantu bos nya atas permintaan langsung dari Dedrick.
Andre hanya membantu lelaki yang tengah merasakan berat pada kepalanya ketika sedang menjalani meeting dan meninggalkan Ana melanjutkan meeting bersama klien Dimas sewaktu di luar Kota, dimana meeting tersebut memang dilaksanakan di hotel yang menjadi awal kelicikan Ana untuk bisa menjerat lelaki yang kini terus mengumpat sembari terus menonton video di layar laptop.
Semua pria di ruang tamu kecuali Dimas begitu gugup dan segera menutup laptop yang masih memutar sebuah bukti begitu Rena kembali usai membantu kedua anaknya makan siang dan meninggalkan mereka di kamar bermain bersama Bi Lastri karena ingin mengetahui apa yang sudah di dapat oleh semua pria di ruang tamu untuk menyelidiki kasus Ana.
" Rena sudah tau semuanya kok Kek, Pa " seru Dimas mengejutkan semua orang yang duduk di atas sofa dengan menatap tajam ke arah perempuan yang tersenyum duduk di samping suaminya.
" Iya, jadi engga perlu tutupi apa-apa lagi dari Aku " sahut perempuan yang tangannya di raih oleh suaminya untuk Ia genggam.
" Kamu engga marah nak? Kamu engga apa-apa? " tanya Teddy masih dengan mata membulat tak meyakini jika menantunya bisa terlihat begitu tenang.
" Marah, sedih, kecewa, ingin pergi semuanya pasti Aku rasakan Pa. Tapi itu kan terjadi di saat Kita berdua bercerai, jadi meskipun itu dilakukan dengan sengaja oleh mas Dimas juga bukan salahnya mas Dimas karena saat itu terjadi Kita tidak memiliki hubungan apapun " sahut Rena sudah mengikhlaskan semua yang terjadi tanpa ingin menoleh kembali ke masa lalu.
Jawaban dari Rena sontak saja mengejutkan semua orang karena bagaimanapun juga suami yang Ia cintai telah tidur bersama wanita lain meski tanpa kesadaran. Dedrick yang juga sedikit kolot meski sudah tinggal lama di luar negri, masih tak mampu percaya jika cucu menantunya begitu mudah memaafkan Dimas dan bicara begitu tenang sembari melebarkan senyum menatap suaminya.
" Rena, apa Kamu memaafkan Dimas sepenuhnya? apa Papa Kamu tahu semua ini? " tanya Teddy kembali masih dalam rasa tak mampu mempercayai sikap menantu yang seakan menganggap tak terjadi apapun.
" Sudah Pa, bagaimanapun mas Dimas adalah Papi dari anak Aku. Papa belum tahu apapun dan Aku engga berani cerita sama Papa karena Aku tahu pasti Papa akan sangat marah dan gak akan pernah memaafkan mas Dimas, dan pastinya akan memaksa Kami berpisah " jelas Rena panjang lebar.
__ADS_1
" Tapi Erwin juga berhak tahu yang sebenarnya nak " ucap Dedrick meski meminta semua menutupi dari Erwin tapi juga membuatnya bersalah jika membohonginya.
" Kakek benar, Aku akan mengaku sendiri nanti sama Papa dan terima segala konsekuensinya " jawab Dimas meski takut jika Erwin akan memaksa mereka berpisah dan membawa jauh Rena serta Brian.
" Apa mas yakin? meski mas tahu Om Erwin akan bawa mba Rena pergi? " tanya Tyo khawatir.
" Iya Dek " singkat Dimas menunduk.
" Mas? " seru Rena.
" Aku engga akan lepasin Kamu sayang, apapun akan Aku terima tapi tidak untuk pisah sama Kamu ataupun anak Kita. Aku siap dihukum apa saja sama Papa asal tetap bisa mempertahankan Kamu " ucap Dimas menatap sendu ke arah Rena.
Dengan adanya bukti dan perasaan nyata keduanya, Dimas berharap Erwin akan mampu memahami dan tak membawa istrinya pergi yang akan menghancurkan hidupnya. Ia tak ingin jika kelak Erwin tahu dengan sendirinya malah akan membuat posisinya lebih buruk dan membuat mertuanya merasa dibohongi juga tak di anggap.
Rena yang amat menghargai kejujuran dan menjunjung tinggi hal itu juga merasakan khawatir mengingat sifat Erwin yang tak pernah bisa melihat dirinya dalam kesulitan apalagi tahu jika suaminya tidur bersama wanita lain dalam keadaan tanpa mengenakan apapun pasti membuat Papanya amat murka nanti. Tapi apapun itu, membohongi orangtua juga bukanlah sebuah pilihan yang baik meski jujur akan membawa sebuah masalah baru lagi.
Dedrick meminta Dimas agar datang ke kantor besok bersama lainnya untuk menyerahkan surat pemindahan Ana dan bersiap membawa bukti serta saksi yang mungkin akan di butuhkan ketika perempuan tersebut tak terima dan kembali membuat ulah.
Segala persiapan dan rencana sudah mereka buat serapih mungkin dengan segala kemungkinan kemungkinan yang ada. Saksi yang bersedia membantu juga sudah mereka hubungi untuk esok pagi ikut ke kantor bersama Rena yang ingin mendampingi suaminya dalam situasi apapun.
***
__ADS_1
Malam harinya Rena mencoba menghampiri lelaki yang tengah duduk merenung di teras rumah sendirian meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Wajah terlihat amat cemas serta segala pemikiran yang memenuhi kepala lelaki dengan kepala menyandar pada tembok balik kursi seraya memejamkan matanya di sana.
" Mas, lebih baik Kamu masuk di luar dingin " tegur perempuan dalam balutan setelan piyama tidur satin panjang berwarna pink muda yang berdiri di hadapan suaminya.
" Iya sayang, Kamu duluan ya " sahut lelaki yang meraih tangan istrinya untuk Ia pegang dengan mata menatap lembut perempuan dihadapannya.
" Engga mas, Aku temani Kamu di sini " ucap Rena memegang sisi wajah dengan ekspresi cemas suaminya.
" Ya udah Kita masuk aja kalau gitu, Aku engga mau Kamu sakit " ajak Dimas berdiri dan menuntun istrinya masuk lalu mengunci pintu rumah dimana Pak Adi dan kedua asisten rumah tangganya sudah Ia ijinkan beristirahat lebih dulu.
" Apapun yang terjadi Aku akan selalu di samping Kamu mas, jadi jangan pernah memikirkan apapun sendirian " ucap Rena begitu mereka sudah sampai kamar dan merebahkan tubuh bersama di balik selimut berwarna coklat menutupi sebagian tubuh mereka.
" Aku cuma memikirkan Papa sayang " sahut lelaki yang membiarkan bahunya untuk sandaran kepala istri atas keinginannya.
" Kita akan bicara berdua nanti mas dan meyakinkan Papa, pasti Papa akan mengerti " jawab Rena meski dengan keraguan dalam hatinya.
" Terimaksih sayang, Aku engga mau kehilangan Kamu " sahut Dimas mendekap tubuh istri yang melingkarkan tangan di atas perutnya.
" Aku juga engga mau kehilangan Kamu mas " seru Rena mengeratkan pelukannya sembari menyusupkan wajah di atas dada bidang suaminya.
Dimas juga Rena mencoba melelapkan diri mereka bersama dalam keadaan saling memeluk untuk sama sama saling menenangkan perasaan masing masing dalam sebuah dekapan hangat sebelum esok hari mereka menghadapi Ana dengan segala persiapan yang matang.
__ADS_1