Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 117


__ADS_3

STOP PLAGIAT


Setelah mengantar Aulia hingga depan, Dimas mengajak Brian untuk bermain bola di taman sembari menunggu istrinya terbangun. Kebahagiaan juga kebersamaan bersama putranya yang mungkin akan lama baru Ia rasakan kembali ketika Ia harus meninggalkan keluarganya demi menemui Natalie.


Pukul 09.00 Rena belum juga terbangun yang di susul oleh Dimas juga Brian merebahkan diri di samping istri yang masih terbalut dengan selimut di atas ranjang.


" Mami " seru Brian menciumi pipi Rena bersama Dimas yang tidur mengahadap istrinya.


" Lagi, mami engga mau bangun tuh " seru Dimas menyuruh putranya kembali menciumi Rena agar istrinya terbangun karena hari sudah sangat siang.


" Hm, anak Mami " seru Rena ketika matanya sudah terbangun dan mendapati Bria tersenyum lucu di atas perutnya bersama Dimas tersenyum ke arah istri yang terlihat masih sangat mengantuk tersebut.


" Siang sayang " ucap dimas mengejutkan Rena yang langsung duduk dengan memegangi Brian.


" Kenapa engga bangunin Aku sih mas " ucap rena melihat sinar matahari sudah begitu terang dari jendela kamarnya.


Rena meletakkan tubuh Brian dan cepat cepat ke kamar mandi meninggalkan anak serta suaminya yang masih di atas ranjang tersenyum melihat Rena begitu kebingungan karena bangun siang mengingat tanggug jawabnya terhadap suami juga putranya yang tak Ia lakukan pagi ini.


Rena kembali dengan melilitkan handuk pada tubuhnya dan dengan cepat mengganti pakaian tanpa memperdulikan suami yang terus menatap tubuhnya dari tadi.

__ADS_1


" Kalian udah makan ? Auli udah bangun belum mas ?" tanya Rena pada Dimas yang tersenyum menatapnya.


" Sini deh sayang sebentar " pinta Dimas karena Rena terlihat seperti orang yang bingung.


Rena melangkahkan kaki menghampiri suaminya yang masih tiduran bersama Brian di atas perutnya terus lonjak lonjak dan di angkat oleh Rena meminta putranya untuk tidak menekan perut Papinya. Brian meraih ponsel milik Rena yang ada di tempat tidur dan memainkannya meski terkunci namun kayar yang menyala sudah cukup membuat bocah tersebut senang. Dimas menarik lengan Rena dan menghempaskan tubuh istrinya hingga dapat Ia peluk di atas dadanya.


" Mas, ada Brian " seru Rena ketika suaminya terus memeluk tubuhnya.


" Engga masalah, Brian juga bolehin kok. Iya gak sayang ?" ucap Dimas dan membuat putranya tersenyum.


" Tuh kan " tambah Dimas kembali.


" Kamu sama anak anak ikut lihat mama ya " pinta Dimas karena tak bisa jauh dari pelukan istrinya.


" Aku nyusul setelah ujian Aulia ya mas, kan dua hari lagi Auli ujian " jelas Rena yang tak mau jika putrinya harus ikut ujian susulan sendiri.


" Oke, tapi Kamu harus temani Aku terus sebelum berangkat " pinta Dimass terus ingin manja pada istrinya.


Dimas menarik selimut menutupi dirinya dan Rena hingga tertutup semua agar Ia bisa menikmati bibir istrinya tanpa terlihat oleh Brian.

__ADS_1


" Kamu nih minum obat ya mas sebelum Kita nikah ?" tanya Rena merasakan suaminya tak pernah sedikitpun lelah untuk melakukan hubungan suami istri dengannya.


" Engga, emang Kamu mau Aku pakai kaya gitu ? bahaya loh itu sayang " sahut dimas menggoda istrinya.


" Salah siapa habis lahirin Brian tubuh Kamu jadi tambah seksi gini " tambah Dimas kembali menikmati bibir istrinya di dalam selimut hingga Rena harus mengeluarkan beberapa suara kenikmatan ketika tangan suaminya sengaja memainkan bagian sensitifnya begitu lama hingga istrinya mencapai sebuah puncak kenikmatan dengan posisinya yang duduk dan tubuhnya ada di atas suaminya.


" Gini kan harus mandi lagi " gumam Rena dengan napas terengah engah.


Dimas tersenyum melihat istrinya menggerutu karena tingkahnya yang dengan sengaja mengerjai istrinya. Perempuan yang langsung keluar dari selimut dan menggulung rambut sambil duduk tersebut terus menggerutu karena ulah suaminya yang membuatnya terpaksa mandi lagi.


" Sengaja banget deh mas " gerutu Rena beranjak ke kamar mandi meninggalkan suami yang masih tersenyum di atas tempat tidur.


" Sayang diam disini dulu ya, Papi mau cuci tangan " pamit Dimas meninggalkan putranya mengikuti Rena kedalam kamar mandi.


Dimas melanjutkan permainannya di kamar mandi meninggalkan Brian sendirian dengan ponsel yang lebih dulu Ia putar lagu anak anak di sana. Rena yang protes karena suaminya meninggalkan anak mereka di atas tempat tidur sendirian tak bisa melakukan apapun ketika suaminya sudah lebih dulu menikmati dirinya hingga mencapai sebuah kenikmatan yang tiada henti Ia inginkan dari rena.


***


Hari demi hari sebelum keberangkatannya ke Belanda, Dimas tak melewatkan sedikitpun kesempatan bersama dengan keluarga kecilnya. Membawa mereka jalan jalan dan pergi makan bersama di luar seakan tak akan ada hari esok yang bisa Ia peroleh untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecil yang akan Ia tinggalkan itu. Bahkan setiap hari Ia selalu menikmati istrinya dengan mencuri waktu dari kedua anaknya yang sudah terlelap ataupun bermain bersama Bi Lastri karena keinginan untuk segera memiliki anak kembali begitu besar dalam diri Dimas. Ia ingin mengikat Rena seumur hidup dengan adanya banyak anak dalam keluarga mereka hingga istrinya tak akan bisa pergi kemanapun. Meski harus kelelahan menuruti setiap hasrat suami yang semakin besar, Rena yang tahu akan kewajibannya juga tak ingin melukai perasaan suami ketika harus menolaknya tetap melayani setiap hasrat suami yang terus di salurkan dengan begitu nakal dan manja.

__ADS_1


Tiba hari dimana Dimas harus meninggalkan keluarga kecilnya dengan di antar oleh Rena bersama dua anaknya ke bandara. Pak Adi yang setia mengemudi untuk majikannya merasa berat karena tak lagi bisa melihat kebahagiaan keluarga kecil yang selalu tertawa bahagia menghiasi rumah dan membuatnya juga kedua pelayan rumah Dimas tersenyum merasakan kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Dengan berat hati Dima harus rela meninggalkan istri juga anaknya dengan terus memeluk mereka bersamaan selama dalam perjalanan, seakan akan Ia tak akan pernah kembali bertemu dengan istri juga anak anaknya kembali. Ia tak ingin melepaskan ketiganya sedikitpun dalam perjalanan ke bandara yang sesekali Ia menciumi mereka tanpa rasa malu dan segan pada Pak Adi.


Entah mengapa perasaan begitu berat untuk meninggalkan keluarga kecilnya mendera dalam batin terdalam Dimas. Lelaki yang memangku Brian dan melingkarkan tangan pada pinggang Rena juga Aulia itu terus merasa aneh meninggalkan Rena juga anak anaknya. Ia ingin mengurungkan niat pergi, namun Ia juga ingin memastikan kondisi Natalie di sana. Perasaan aneh yang di rasa Dimas semakin menjadi ketika mobil hyang mereka kendarai sampai di bandara. Dimas tak ingin turun lebih dulu meski sudah melihat keluarganya menunggu di depan bandara. Ia masih terus tak ingin melepaskan ketiganya dari dalam dekapannya hingga Pak Adi mengingatkan ika mereka telah sampai bandara.


__ADS_2