
STOP PLAGIAT!
Waktu terus berjalan hingga tanpa terasa sudah hampir waktunya Siska melahirkan. Sesuai perkiraan Dokter dimana Ia akan melahirkan esok hari, dan membuat suaminya panik panik sendiri. Tak henti malam ini Tyo terus mondar mandir keluar masuk rumah, padahal belum ada tanda tanda apapun dari kelahiran calon buah hatinya. Hampir dua hari terakhir laki laki yang selalu siaga itu, tak pernah sedikitpun meninggalkan istrinya.
Orang tua Siska dan Tyo sama sama menginap di kediaman Tyo, merasa pusing sendiri melihat tingkah laku dari adik Dimas tersebut. Tiap jam bahkan tak henti Tyo menanyakan pada istrinya apakah sudah ada tanda tanda atau belum. Terlihat lucu namun juga menjengkelkan bagi Siska dan keluarganya, karena sikap tak tenang juga pertanyaan sama berulang.
" Tyo berhenti, Mama pusing tahu gak lihat Kamu udah kaya setrikaan dari kemarin " protes Natalie jengkel ketika tengah menikmati teh sore bersama lainnya.
" Ma, kalau Aku diam terus Siska mau lahiran jadinya bingung nanti. Kalau Aku kaya gini kan enak nanti tinggal lari ke mobil jadi cepat " ucap laki laki yang tak pernah berhenti panik bahkan selalu tak tenang ketika tidur.
" Kamu tinggal di mobil aja sayang lebih gampang lagi kalau Aku mau lahiran tinggal tancap gas " celetuk Siska tersenyum sambil memegang gelas jus ditangan.
" Benar juga ya sayang " ucap Tyo menghentikan langkahnya.
" Sayang, Kamu engga benar benar mau lakuin itu kan? " tanya seorang istri yang hanya berniat menggoda namun di anggap serius suaminya.
" Ya gimana sih? tadi di suruh di mobil aja? " ucap Tyo menggelengkan kepala semua orang.
" Aku mandi dulu ya Pa, Ma " pamit Siska pada mertua juga orangtuanya.
Cepat Tyo berjalan ke arah istrinya dan membantu untuk berdiri.
__ADS_1
" Mau kemana? " tanya Rendra, papa dari Siska melihat menantunya terus mengikuti putrinya.
" Bantu Siska mandi Pa " celetuk Tyo tak menyadari jika ucapannya membuat geli keempat orang yang masih duduk.
" Ikut mandi? " goda Teddy santai.
" Iya dong Pa, nanti kalau tiba tiba pas mandi terus ada tanda tanda lahiran gimana? " sahut Tyo tanpa merasa ada yang salah dalam ucapannya.
" Adik sama Kakak sama aja, anak Kamu tuh Pa " gerutu Natalie menunduk malu akan tingkah putranya yang membuat Rendra, Teddy dan Alena tersenyum.
Tyo dan Siska sama sama berjalan pelan ke arah kamar mereka, dengan Tyo terus memegang lengan dan merangkul istrinya. Tatapan geli akan ucapan Tyo yang polos seperti anak kecil, membuat orang tua juga mertuanya tak henti memandang mengiringi langkah keduanya.
" Belum nemu mas? " tanya Rena meletakkan camilan juga minuman hangat pada meja dekat ayunan.
" Udah dong " bangga Dumas menyerahkan kertas berisi tulisan tangan beberapa nama.
Ibu dan anak yang duduk di ayunan itu, langsung membaca dan tertawa sendiri melihat rangkaian naman yang di buat oleh Dimas. Dengan sedikit meneguk lemon madu di cangkir, Dimas menatap ke arah kedua orang di samping kursi tempatnya duduk, karena keduanya tak henti tertawa.
" Kenapa sih? Aku nulisnya pakai doa loh itu malah diketawain " jengkel laki laki tengah meletakkan cangkir di atas meja.
" Engga mas, habis lucu aja nama nama nya " jawab Rena di sela tawanya bersama Aulia.
__ADS_1
" Pi, ini Adik di kasih nama Diren entar yang engga tahu dikira panggil duren Pi " tawa Aulia kembali terdengar, langsung membuat masam wajah Papinya menggerutu.
" Udah sini sini, engga akan ngerti kalian berdua. Ini tuh nama sudah di kasih doa, lagian yang dibaca yang satu aja kan masih banyak tuh ada Rendi, ada Dina kenapa lainnya engga di baca juga sih? " jengkel Dimas mengambil kembali kertas berisi susunan nama perempuan dan laki laki.
" Ya Papi, masa mau kasih nama diren sama nadi sih? engga sekalian depannya dikasih urat jadinya urat nadi. Ya gak Mi? " tawa Aulia makin membuat jengkel laki laki dengan lirikan tajam tersebut.
" Udah ah anak kecil tahu apa sih " jengkel kembali Dimas memajukan bibir sambil melipat kertas di tangannya.
" Sayang, sama suami sendiri kok amit amit sih? " cepat Dimas mengubah ekspresi memelas melihat istrinya mengusap perut.
" Eh engga mas, perut Aku gatal makanya Aku usap bukan amit amit " jawab Rena memang merasa gatal pada bagian perutnya, namun tak berani digaruk hanya di usapnya lembut.
" Masa sih? " tak percaya laki laki yang sudah memajukan tubuh mengusap lembut setiap bagian perut berlapis daster coklat tersebut.
" Amit amit apaan sih Mi? " polos Aulia melihat wajah Papinya tadi hingga penasaran.
" Hus, diam anak kecil engga boleh tahu " seru Dimas meletakkan telunjuk di depan bibir seraya membuka lebar mata, tetap mengusap lembut perut istrinya.
Rena hanya mengembangkan senyum melihat suaminya seperti itu. Tangan masih tetap mengusap lembut perut istrinya, sambil berbicara dalam hati agar anak nya sehat dan selamat juga istrinya. Tetap laki laki tersebut meminta calon anaknya agar bisa bekerja sama dengan Maminya ketika lahiran nanti.
Selain mempersiapkan segala kebutuhan Rena dan calon anaknya, Dimas juga mempersiapkan mentalnya sendiri. Mencari tahu tentang proses melahirkan, dan menguji nyalinya sendiri melihat darah pada beberapa video. Namun tetap saja sampai saat ini Dia tetap bergidik segera mematikan layar ponsel ketika mencoba menyaksikan darah.
__ADS_1