
STOP PLAGIAT!
" Udah? " tanya Dimas melihat istrinya memasukkan ponsel dalam tas.
" Udah dong mas " senyum Rena mengembang ke arah suami yang masih memakan baso usai meminta lagi tanpa kuah.
" Aku minta baso buat Kamu satang ya, tunggu sini " ucap Dimas hendak beranjak namun ditahan lengannya oleh Rena sembari menggeleng.
" Kenapa? kan belum makan. Kamu lagi hamil loh ya, Aku engga mau Kamu malas makan gini " tambah Dimas kembali.
" Bukan malas makan mas, tapi Aku makan di rumah aja ya, lagipula Auli pasti sudah pulang sekarang. Aku juga engga pengen makan baso nanti kalau di paksa mual mas " sahut Rena memberikan pengertian pada lelaki yang membuang kasar napasnya itu.
" Oke, Aku bayar dulu ya " pamit Dimas beranjak dari duduk dan membayar tiga mangkuk baso yang sudah Ia makan, juga dua gelas air mineral.
Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih sebelum pergi pada tukang baso langganan Rena sewaktu kuliah. Lelaki yang tak ingin istrinya kepanasan itu, memayungi kepala perempuan di sampingnya menggunakan telapak tangan sampai ke pintu mobil, dan membantunya untuk masuk.
" Kita beli kue buat orang rumah ya mas " pinta Rena begitu suaminya masuk mobil, karena memang sudah kebiasaan calon ibu itu selalu membawa kue ataupun makanan setiap kali pergi kemanapun.
" Iya sayang " singkat Dimas mulai menyalakan mesin mobil nya.
***
60 menit perjalanan karena harus mampir toko kue lebih dulu, mereka sudah memasuki halaman rumah. Bi Ijah bergegas untuk berlari ke depan begitu mendengar suara mobil majikan nya. Asisten rumah tangga dengan wajah gugup itu langsung menuju pintu kemudi, mengherankan Rena juga Dimas karena tak biasanya Bi Ijah terlihat seperti itu hingga harus menyusul ke mobil.
__ADS_1
" Ada apa Bi? " tanya Dimas sudah heran dan penuh tanya tanpa lebih dulu turun, hanya membuka lebar kaca jendela karena ingin segera tahu apa yang begitu mengganggu asisten rumah tangga nya tersebut.
" Maaf Pak, di dalam ada Ibu Natalie " bisik Bi Ijah lirih, mengejutkan Dimas seketika.
" Ngapain? anak anak dimana? " bisik Dimas menoleh ke arah Bi Ijah dengan nada khawatir.
" Bibi tidak tahu Pak, Non Aulia sama Den Brian sudah tidur siang sama Bi Lastri sebelum Ibu Natalie datang " jelas Bi Ijah masih dengan nada sopa dan lirih.
" Ya udah, makasih ya Bi " pungkas Dimas.
" Kenapa sih mas? " tanya Rena seketika begitu melihat Bi Ijah sudah berjalan kembali ke dalam rumah.
" Sebentar sayang ya " sahut lelaki yang sudah menekan nomor Teddy dan meletakkan ponsel pada sisi wajah nya.
Kenangan kenangan buruk ketika istrinya hamil Brian dan terpisah dari nya, akibat ulah Natalie juga perceraian yang di buat Mama nya itu kembali terlintas. Hinaan juga cacian yang di layangkan Natalie pada istrinya kembali terngiang begitu jelas.
Mendengar suaminya mengatakan jika Mama mertua ada di dalam rumah, membuat Rena ingin cepat masuk namun tertahan tangan nya oleh suami yang tak ingin melihat istri nya menangis. Ia begitu takut jika Rena dan Brian akan dipisahkan lagi dari nya, apalagi sekarang Istrinya sudah kembali hamil seperti saat Ia pergi dulu.
Teddy, Erwin, Dedrick langsung menuju rumah Erwin dengan perasaan sama seperti Dimas. Sementara Tyo di minta untuk pulang dan menemani Siska saja tanpa perlu ikut ke rumah Dimas, karena tak ingin Siska yang kandungan nya lemah akan kelelahan.
" Mas, engga baik Kita di sini terus sementara Mama di dalam sedang menunggu. Lebih baik Kita turun sekarang " ucap Rena pada suami yang masih terus menahan pergelangan tangan nya itu.
" Sayang, Aku engga mau nanti ada apa apa di dalam. Kita tunggu Papa sama Kakek ya " bujuk Dimas masih merasa khawatir.
__ADS_1
" Engga, kalau Kamu mau tunggu ya udah Kamu tunggu aja mas. Tapi Aku masuk dulu, karena engga sopan seperti ini. Siapa tahu Mama kesini memang hanya ingin berkunjung saja, jangan terlalu berpikiran buruk sama orang tua mas belum tentu apa yang Kamu takutkan terjadi " sahut Rena panjang lebar menenangkan suami dengan wajah begitu khawatir terlukis jelas.
" Oke, Kita turun " singkat lelaki dengan menarik napas dalam membuangnya kasar, menyiapkan hati nya untuk apapun yang akan di lakukan Mama yang sengaja jauh jauh dari Belanda ke rumah nya.
" Kamu jaga emosi Kamu mas, ingat Mama baru sembuh dan jangan lawan orang tua Kamu sendiri dengan kata kata yang mungkin akan menyakitkan Mama. Apapun yang akan dikatakan Mama, tolong hadapi semua dengan tenang tanpa emosi " coba Rena mengingat suami yang cepat terpancing emosinya bahkan hanya untuk hal kecil, apalagi itu menyangkut keluarga.
" Iya sayang " singkat Dimas dan turun dari kendaraan, memutar untuk membantu istrinya.
Dengan menggandeng tangan istrinya, Dimas memasuki rumah dimana Ia langsung melihat wanita dalam balutan jeans panjang serta blouse itu duduk di sofa ruang tamu dengan menatap ke arah keduanya terkejut. Natalia langsung berdiri untuk memeluk putranya, karena rasa rindu pada lelaki yang masih tak ingin melepas tangan istrinya itu.
" Dimas sayang, Mama sangat merindukanmu nak. Kenapa Kamu kembali tanpa memberitahu Mama " seru Natalie masih memeluk putranya.
" Ada apa Mama kemari? apa ada keperluan? " tanya Dimas penasaran akan tujuan Mama nya, yang bahkan langsung datang dari bandara ke rumahnya.
" Apa Mama harus ada keperluan untuk menemui anak Mama sendiri? Mama mendengar Papa bicara kalau Kamu ada masalah, makanya Mama menyusul kemari. Apa Kamu baik baik saja? bagaimana Aulia? " sahut Natalie melepas pelukan dari putranya tanpa melihat ke arah Rena yang memperhatikannya.
" Semua sudah baik baik saja, dan Aku juga sudah kembali dengan istriku lagi " jawab lelaki yang masih berdiri di hadapan Mamanya sambil tetap menggandeng istrinya.
" Iya, Mama sudah lihat kalau kalian sudah bersama lagi sekarang " ucap Natalie dengan banyak pertanyaan di kepalanya tentang bagaimana cara keduanya bisa kembali bersama meski sudah begitu banyak cara Ia lakukan untuk memisahkan keduanya.
" Ma, apa Mama sudah sehat sekarang? " sapa Rena melepas tangan dari genggaman suami nya dan meraih tangan mertuanya untuk Ia cium.
Meski masih tak ingin menatap Rena, sikap Natalie sudah tak seperti dulu dan membiarkan menantunya untuk mencium tangan. Rena mempersilahkan mertuanya untuk kembali duduk, dan menyusul duduk bersama Dimas di hadapan mama mertua nya agar lebih enak untuk berbicara tanpa terus menoleh.
__ADS_1
Rena begitu bahagia karena bisa mencium tangan wanita yang telah melahirkan suaminya, bahkan tak mendapat penolakan keras seperti waktu dulu. Namun Dimas masih merasa tak begitu nyaman dalam hati, karena Natalie tak sekalipun menatap istri tercinta nya meski membiarkan Rena mencium tangan juga nada bicara Natalie tak seperti dulu.