Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 51


__ADS_3

" Kenapa ngomong kamu jadi ngawur gini sih? Engga ada lagi kebohongan dan perasaan aku ke kamu tulus. Aku lakukan hal itu sama kamu dengan perasaan cinta dan sayang Ren bukan cuma nafsu. Aku mau kita punya anak sendiri, anak dari rahim kamu untuk memperkuat hubungan kita dan sebagai bukti perasaan cinta kita, kalau kamu memang engga suka aku sentuh kamu, Oke aku engga akan pernah sentuh kamu lagi tapi jangan pernah bilang kamu hanya pemuas nafsu karena aku tulus cinta sama kamu Rena" jelas Dimas.


" Kamu udah bohongi aku dan sekarang kamu berharap aku percaya sama omongan kamu? " seru Rena menatap dalam wajah Dimas.


" Terserah kamu percaya atau gak, yang jelas aku udah coba jelaskan ke kamu semua nya" ucap Dimas karena tak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa lagi kepada Rena.


" Iya terserah aku, dan aku engga percaya sama kamu lagi. Terlalu sakit buat aku percaya sama kamu. Dan sekarang setelah kamu puas main sama aku, kamu mutusin buat engga mau sentuh aku? Oke kamu memang bisa dapat lebih dari aku dengan semua harta dan kekuasaan kamu. Aku memang engga pantas sama kamu, mungkin memang mba Kiara atau siapapun itu lebih pantas untuk kamu bukan orang biasa seperti aku" ucap Rena meluapkan isi hati nya.


" Kamu pikir aku orang seperti itu Rena? " tanya Dimas tak percaya istrinya bisa bicara seperti itu.


" Ya, bahkan mungkin kamu memang sudah banyak berkencan dengan perempuan lain di luar sana selama pernikahan kita mengingat kamu yang selalu memiliki hasrat tinggi dan pintar menyembunyikan segalanya dengan rapi" ucap Rena tanpa ia sadari.


" Cukup! Apa menurut kamu aku salah jika selalu menginginkan kamu sampai kamu tuduh aku melakukan hal itu dengan perempuan lain? Apa serendah itu aku di mata kamu? Aku kecewa sama kamu Rena" ucap Dimas sedikit emosi dan beranjak dari tempat tidur lalu keluar meninggalkan Rena sendiri.


Dimas yang masih belum mempercayai jika Rena mampu menuduhnya dengan hal serendah itu hanya karena ia yang tidak terbuka dari awal tentang siapa dirinya sebenar nya memilih untuk pergi ke ruang kerjanya di bawah dan tidur di sana daripada harus terus berdebat tanpa henti yang malah akan membuat Rena stres dengan pemikirannya yang mungkin berpengaruh pada kandungan Rena.


Rena yang menyadari perkataan nya ketika Dimas tiba tiba pergi merasa sangat menyesal dan mulai menitikkan air mata. Ia sendiri tak memahami kenapa bisa sampai berbicara seperti itu pada suaminya. " Maafin aku mas, aku gak tahu kenapa semarah ini sampai bisa tuduh kamu" sesal Rena dalam tangis nya. Ia bergegas mencari keberadaan Dimas untuk meminta maaf karena telah menuduhnya tanpa alasan. Rena yang tahu jika Dimas selalu menghilangkan stres di ruang kerja langsung menuju kesana dan di dapati nya Dimas berbaring di atas sofa dengan lengan menutupi kening nya.


" Maafin aku mas, aku engga bermaksud ngomong begitu" seru Rena duduk di atas lantai samping kepala Dimas dengan tangis penyesalan.


" Udah malam, kamu pergi tidur sana engga baik buat kandungan kamu tidur malam malam" ucap Dimas tanpa membuka mata.


" Maafin aku mas" seru Rena memegang pundak Dimas.


" Tinggalin aku sendiri " jawab Dimas penuh penekanan.


" Tapi mas " ucap Rena yang tak ingin pergi.

__ADS_1


" Aku engga mau mengulang lagi" tegas Dimas yang memang tak suka jika harus mengulangi kalimat yang sama berulang.


Dengan berat hati dan penyesalan terdalam Rena meninggalkan suami nya di ruang kerja nya dan memilih untuk tidur di sofa depan tv berharap jika Dimas keluar maka ia akan bisa berbicara dengan suami nya.


Pukul 04.30 Dimas yang sudah lebih dulu bangun langsung duduk untuk meregangkan otot leher nya yang terasa sakit tidur hanya dengan sandaran tangan sofa sebagai bantal. Tubuh tinggi Dimas yang tak muat dengan ukuran sofa ruang kerja nya juga terasa sakit dan lelah. Ia mulai meregangkan otot otot tubuh nya sambil berdiri lalu bergegas keluar menuju kamar nya untuk mandi dan berganti pakaian kerja karena pagi ini ia memutuskan untuk ikut Tyo meninjau proyek. Dengan ragu, Dimas mulai memasuki kamar yang tak ada Rena di sana. Tanpa pikir panjang Dimas bergegas mandi dan mengganti pakaian karena lokasi proyek yang berada di luar kota membutuhkan waktu hampir 3 jam.


Tanpa berusaha mencari keberadaan Rena, Dimas bergegas untuk berangkat menyusul Tyo lebih dulu lalu berangkat bersama menuju proyek. Ketika melewati ruang tv dan hendak menuju keluar rumah, mata Dimas tertuju pada sofa depan tv yang ada Rena tidur meringkuk di sana. Perasaan tak tega namun masih sakit hati dengan tuduhan Rena membuat Dimas ragu untuk membangunkan Rena. Ia pun meminta bi Ijah yang kala itu sudah berada di dapur agar membangunkan Rena.


" Bi, tolong bangunkan Ibu dan suruh pindah ke kamar. Saya berangkat dulu" ucap Dimas menghampiri bi Ijah di dapur.


" Iya pak " jawab bi Ijah sedikit curiga dengan sikap Dimas.


Setelah meminta tolong pada pembantu nya, Dimas beranjak pergi keluar dengan cepat karena hari yang semakin siang. Ia mulai melajukan kendaraannya keluar menuju rumah Tyo.


Rena yang sudah terbangun karena dibangunkan oleh bi Ijah mencari Dimas ke ruang kerja nya.


" Oh, makasih bi " seru Rena dengan nada kecewa lalu beranjak untuk menemui Aulia di kamar membantunya berkemas sebelum ke sekolah seperti biasanya dan mengantar putrinya ke sekolah dengan Pak Adi karena memang masa magang nya yang sudah usai.


Usai mengantar putri nya Rena meminta Pak Adi untuk berhenti di tempat kost untuk menemui 2 sahabatnya yang akan kembali ke Bandung melanjutkan magang mereka di sana.


" Gue pasti kangen banget sama kalian berdua " seru Rena memeluk 2 sahabat nya bersamaan.


" Lo kaya orang zaman batu aja, kan ada hp Ren bisa telfon bisa video call juga" jawab Andin.


" Ada hp tapi selama magang juga kita engga bisa saling hubungi " celetuk Sonya yang agak sedikit oon karena memang selama magang dan sibuk dengan kegiatan mereka masing masing, 3 sahabat ini tidak pernah saling menghubungi.


" Iya juga ya" ucap Andin tertawa disambung lain nya.

__ADS_1


" Din, taxi Lo nungguin di depan " teriak salah satu teman kos Andin di balik pintu.


" Oke, thanks ya " seru Andin berteriak agar teman nya di luar mendengar.


" Toa Lo Din, budek Gue " protes Reta karena sahabatnya berteriak di telinga nya.


Andin yang masih cengengesan mulai berpamitan pada Reta begitu juga Sonya. Mereka berjalan bersama ke arah depan kost untuk menemui taxi yang mereka pesan. Andin dan Sonya yang sudah berada di dalam taxi mengeluarkan kepala mereka dalam satu jendela penumpang lalu melambaikan tangan ke arah Rena yang masih setia menunggu nya di depan pagar kost menunggu hingga 2 sahabat terbaiknya pergi.


" Telfon gue" teriak Rena sembari melambaikan tangannya ketika kendaraan yang dinaiki 2 sahabat nya mulai melaju pelan.


" Lo juga " teriak Sonya dan Andin bersamaan yang juga melambaikan tangan mereka.


Kendaraan yang di naikki 2 sahabat nya perlahan menghilang dari jangkauan mata Rena, dan Rena memutuskan untuk kembali ke rumah membantu pekerjaan rumah ke dua asisten rumah tangga nya demi membunuh waktu sendiri.


Pukul 21.00 Rena yang masih berada di kamar Aulia usai menidurkan putri cantiknya mulai beranjak dari ranjang bernuansa princess tersebut dan keluar menuju kamarnya mencari Dimas yang ternyata belum kembali dari kerja.


" Bapak belum pulang bi? "tanya Rena pada bi Lastri ketika mereka berpapasan ketika berjalan menuruni anak tangga.


" Belum bu " jawab bi Lastri yang terhenti langkahnya.


" Ya udah bibi tolong temani Auli tidur ya" pinta Rena karena ia ingin menunggu suami nya pulang di bawah.


" Baik bu, saya permisi dulu" pamit bi Lastri yang memang hendak menuju ke kamar Aulia tadi.


Rena melihat ke arah jam dinding besar di sudut ruang tengah menunjukkan pukul 21.30 lalu berjalan ke luar rumah memutuskan menunggu Dimas di kursi teras.


" Udah malam kenapa Mas Dimas belum pulang juga ya " batin Rena sambil terus melihat ke arah ponsel berwarna putih miliknya berharap jika suaminya menghubungi.

__ADS_1


Hingga pukul 22.45 Rena masih setia menanti Dimas dengan sesekali ia berjalan mondar mandir di depan rumah untuk meregangkan sedikit otot yang lelah duduk. Namum setelah menunggu sampai selarut itu tak ada tanda tanda kepulangan Dimas. Ia memutuskan menunggu suami nya yang mungkin saja masih marah atas ucapannya semalam hingga pukul 12 malam baru ia akan beranjak masuk jika memang belum ada tanda kepulangan Dimas sampai jam tersebut.


__ADS_2