
STOP PLAGIAT!
Dengan penuh kekesalan juga amarah yang terlukis jelas pada wajah Ana tanpa adanya penyesalan, perempuan yang masih belum merasa puas tersebut membuka kembali ponsel pada rekaman suara dan siap untuk Ia perdengarkan pada semua orang.
" Apa Anda tidak ingin tahu apa yang terjadi malam itu? apa tidak ingin tahu seberapa bergairahnya suami Anda terhadap Saya? " tanya Ana tanpa rasa bersalah namun begitu bangga telah berhasil menjebak suami dari seorang perempuan yang masih menyunggingkan senyum hingga membuatnya sedikit geram melihat Rena begitu tenang dengan senyumnya.
" Hentikan semua omong kosong Kamu! tidak ada yang terjadi malam itu! " tegas lelaki sudah berjalan menghampiri kedua orang yang masih berdiri di depan meja kerja besar ruangannya diikuti oleh Dedrick, Tyo, Teddy juga Rian.
" Benarkah? " seru Ana menyunggingkan senyum licik dan mulai menekan tombol play pada ponselnya.
Suara amat mereka kenal terdengar dari rekaman yang sengaja di rekam oleh Ana dari awal Ia masuk ke dalam ruangan hingga merayu Ayah dua anak tersebut. Desahan demi desahan di antara napas memburu antara kedua orang yang begitu familiar di telinga membuat mereka membulatkan mata dengan saling tatap satu sama lain antara keluarga Dimas.
" Yang Aku takutkan ternyata terjadi " gumam Tyo dalam hati sembari memejamkan mata dan mengurut dahinya.
Obat pembangkit birahi yang bekerja begitu cepat mampu membuat Dimas melakukan hal terlarang dalam keadaan tak sadar. Obat yang memiliki efek luar biasa dan bisa membuat korbannya melakukan apapun tanpa mengingatnya lagi, sama halnya dengan Dimas yang hanya ingat jika dirinya tertidur namun begitu hapal dengan suaranya sendiri yang tanpa henti memanggil nama istrinya dalam setiap hembusan napas memburu dalam rekaman tersebut.
" Ini semua omong kosong! " teriak Dimas membanting keras ponsel ke atas lantai tak mempercayai apapun yang Ia dengar.
" Apa Bapak lupa? malam itu Bapak begitu menikmati bahkan tak rela untuk berhenti hingga meninggalkan banyak bekas merah di tubuh Saya " ucap Ana dengan sengaja ingin membuat Rena yang masih begitu tenang menjadi emosi hingga melakukan kekerasan yang mungkin bisa Ia jadikan senjata untuk melawan Rena atas tindak penganiayaan.
__ADS_1
" Diam! " teriak kuat Dimas dengan mata merah penuh amarah mengangkat tangan ke arah Ana siap memukul perempuan yang terus memprovokasi tersebut namun cepat Rena menahan tangan suaminya agar tak bertindak bodoh dengan terpancing trik Ana.
" Tidak mas, jangan " pinta Rena lembut menjauhkan tubuh suaminya dari Ana agar tak sampai melakukan apapun yang di harapkan oleh Ana.
Ana begitu geram tak mampu memancing emosi Rena bahkan satu satu nya bukti perbuatannya dengan Dimas sudah hancur tanpa bisa Ia pergunakan lagi untuk menjerat bosnya. Rian menahan kuat tubuh Ana yang ingin mengambil memori ponsel yang sudah lebih dulu di raih oleh Tyo agar tak lagi dipergunakan Ana untuk menghancurkan keluarga Kakaknya.
Dua aparat yang sudah datang siap membawa Ana usai berbicara pada Rian yang amat mereka kenal dan segani itu. Berbagai penolakan serta kata kata kasar penuh umpatan dilontarkan perempuan yang dibawa paksa oleh polisi hingga menjadi sebuah tontonan menarik di kantor tersebut.
" Dek, tolong urus ini ya. Pengacara Papa akan datang ke sana, mbak akan jelaskan semua melalui telpon " pinta Rena tak ingin meninggalkan suami yang kini tampak begitu stres.
" Iya mbak " sahut Tyo langsung bergegas pergi bersama ketiga pria di ruangan itu mengikuti Ana ke kantor polisi untuk menyelesaikan segala prosedur yang harus mereka ikuti demi menghukum semua perbuatan sekretaris Dimas.
" Mas, tenang ya " seru Rena memberikan satu gelas air putih pada suaminya.
" Sebentar ya mas " tambah Rena mengangkat panggilan telpon dari pengacara dan mejelaskan semua duduk perkara yang terjadi dengan segala bukti dibawa olek keluarganya ke kantor polisi.
Tak lama setelah Ia menjelaskan pada pengacara dan mengakhiri sambungan telponnya, panggilan dari Erwin masuk karena pengacara yang sengaja datang untuk mengurus segala urusan Erwin di Kota putrinya tinggal itu telah menghubungi Erwin lebih dulu dan mengatakan jika dirinya dibutuhkan oleh Rena yang membuatnya tak bisa langsung ke Jogja.
" Ada masalah apa nak? kenapa Kamu butuh pengacara? " tanya Erwin dari ujung sambungan telpon membuat Dimas makin takut akan dibawanya Rena pergi dari hidupnya hingga Ia menggenggam erat tangan istri yang masih duduk disampingnya.
__ADS_1
" Maaf Pa, Aku sudah buat pekerjaan Tuan Jackson terbengkalai karena Aku sangat membutuhkan bantuannya untuk menyelesaikan masalah mas Dimas " jelas Rena yang harusnya membantu pekerjaan Jackson di Kota tempatnya tinggal.
" Kenapa? masalah apa? bukankah Dimas punya pengacara perusahaan sendiri? " sahut Erwin penuh khawatir.
" Aku akan ceritakan semuanya nanti Pa, tolong Papa jangan cari tahu dari siapapun sebelum Aku cerita " ucap Rena tak ingin membuat semua menjadi lebih kacau lagi.
" Baiklah nak, Papa akan tunggu Kamu " pungkas Erwin mengakhiri sambungan telponnya.
Erwin mengembangkan banyak pertanyaan dalam kepalanya tentang masalah apa yang sudah membuat anaknya begitu terdengar tertekan dari ujung telpon. Dengan cepat Erwin meminta sekretarisnya untuk memesankan tiket pesawat agar Ia bisa menemui putrinya dan mengetahui sendiri apa yang terjadi di sana.
Sementara Dimas masih menggenggam tangan istrinya penuh perasaan takut akan kehilangan, terlebih kini Erwin sudah tahu jika Rena menggunakan pengacara miliknya dan membuat putrinya harus menceritakan semua yang terjadi.
" Apa Kamu akan pergi? " tanya lirih Dimas dalam ketidakberdayaan nya karena tak mempunyai keberanian lagi untuk menahan istrinya setelah apa yang Ia lakukan meski sangat tak ingin terpisah.
" Engga mas, mas jangan terlalu banyak pikiran ya " sahut perempuan yang terus mencoba kuat dan tegar meski hatinya begitu terluka terlebih ketika Ia mendengar suara suaminya dari rekaman Ana.
" Aku sudah mengkhianati pernikahan Kita, hukum Aku semau Kamu. Tapi jika mungkin tolong jangan tinggalkan Aku dan Aulia lagi, Aku tahu Aku egois meminta ini tapi Aku engga bisa bertahan tanpa adanya Kamu " ucap Dimas menunduk dengan air mata mulai membasahi pipinya dalam penyesalan juga rasa takut begitu besar.
Rena memeluk suami yang tak henti menitikkan air mata tersebut untuk menenangkannya tanpa menjawab semua perkataan suami yang mendekapnya saat ini. Hatinya begitu hancur, namun Ia tak bisa untuk pergi dan menjadikan kedua anaknya sebagai korban atas sebuah perpisahan. Ia akan tetap bertahan dalam rumah tangga yang entah masih bisa baik baik saja atau tidak, namun memilih pergi bukanlah satu hal yang baik karena Ia adalah seorang istri juga Ibu bukan hanya seorang istri yang mungkin bisa memutuskan segalanya tanpa pemikiran panjang lagi.
__ADS_1