
" Bapak sering ajak karyawan makan di rumah ya bi?" tanya Rena pada bi Ijah yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
" Engga pernah bu, baru kali ini saja. Bapak engga suka urusan kerja di bawa ke rumah biasa nya " jelas bi Ijah yang memang baru kali ini Dimas meminta karyawan nya ke rumah untuk membahas masalah persiapan pesta ulang tahun kantor.
" Kok sekarang malah undang makan bi? " tambah Rena yang baru mengetahui jika suami nya juga berencana mengajak makan malam karyawan nya di rumah.
" Bibi juga engga tahu bu, tadi pagi bapak minta bibi masak agak banyak soalnya mau ada tamu " jelas bi Ijah masih sibuk dengan acara memasak nya.
Pak Adi menghampiri bi Ijah di dapur, yang tanpa ia tahu ternyata Rena juga ada di sana membantu bi Ijah menata makanan ke atas piring.
" Maaf bu, tamu bapak sudah datang " seru Pak Adi dengan sopan pada Rena yang asik menata makanan dan sesekali mengambil nya untuk ia makan dari piring yang berbeda.
" Oh iya Pak, saya ke sana sekarang " sahut Rena yang merasa gugup karena untuk pertama kali nya ia harus menemui karyawan suaminya sebagai seorang Istri tuan rumah.
__ADS_1
Sebelum keluar, Rena merapikan ikat rambut yang menjuntai seperti ekor kuda menunjukkan kehalusan rambut terawat nya meski ia tak pernah mengunjungi salon kecantikan untuk merawat khusus rambut yang memang sudah tampak indah dan berkilau dengan warna hitam pekat. Kemudian ia merapikan pakaian dan menuju ke depan dimana karyawan Dimas telah menunggu di teras rumah. Dengan perasaan gugup Rena melangkahkan kaki nya yang ia iringi dengan menarik nafas dalam dan membuangnya pelan untuk membuat diri nya lebih tenang.
Di depan sudah terdapat 5 orang dengan pakaian kerja yang masih sangat rapi.
" Silahkan masuk Pak " seru Rena sopan pada ke lima pria yang masih berdiri di depan teras.
" Iya terima kasih bu " jawab Ke lima nya bersama.
" Sebentar ya, Pak Dimas masih di kamar " seru Rena yang duduk di hadapan ke lima orang tersebut.
" Iya bu, engga apa " sahut pria berkacamata yang merupakan manager divisi Rena magang membuat Rena semakin canggung dengan kesopanan mereka.
" Aneh gini rasanya " gumam Rena dalam hati merasa sangat kikuk karena harus di panggil Ibu oleh orang yang lebih tua dari nya.
__ADS_1
Tak lama Dimas yang sudah memakai celana pendek serta kaos santai khas nya di rumah menyusul Rena bersama putri nya yang tengah mengenakan rok terusan berwarna putih kombinasi pink dan rambut yang tergulung ke atas.
" Mami " seru Aulia memeluk Rena yang tengah duduk dengan gugup.
Dimas yang masih berdiri di samping Rena di sambut dengan para karyawan nya yang langsung mengambil posisi berdiri ketika Dimas datang seraya membungkukkan tubuh mereka pelan untuk memberikan hormat mereka pada seorang pemilik perusahaan dan di minta Dimas untuk mereka duduk kembali. Dimas mengamati wajah Rena dengan tersenyum tipis, karena istri kesayangan nya terlihat begitu gugup seakan sedang menghadapi sidang. Ia yang memang sengaja mengundang karyawan nya agar Rena mulai mempersiapkan diri dan belajar terbiasa dengan status nya sebelum acara pesta yang makin banyak mata orang menuju ke arahnya nanti sebagai pasangan Dimas.
" Nafas sayang " bisik Dimas membungkukkan tubuh nya ke hadapan wajah Rena yang langsung tersenyum paksa membuat Dimas menyunggingkan senyum di wajah segar nya.
Rena menatap dalam mata suami yang wajah nya begitu dekat seakan memohon untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut melalui mata nya. Dimas yang langsung dapat mengerti sorot mata Rena kembali tersenyum dan mencium kening Rena lama semakin membuat nya sangat canggung dengan tatapan ke lima karyawan menuju ke arah mereka berdua.
" Ya udah kamu temenin Auli main di kamar ya " ucap Dimas tak ingin membuat Rena makin gugup dan tegang dalam kondisi kehamilan nya sekarang.
" Makasih mas " jawab Rena pelan karena tanpa mengatakan apa pun suami nya begitu sangat mengerti apa yang ia inginkan.
__ADS_1