Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 35


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.


Aulia sudah selesai menikmati es krim, mulai merengek kembali untuk berenang bersama. Dimas yang sudah tidak tahan dengan sinar matahari menyengat punggung hingga perih, menyetujui kein tubuh Aulia untuk digendong agar mempercepat langkah karena cuaca panas. Sembari menggandeng tangan istrinya, Dimas melebarkan langkah menuju kolam ombak cukup ramai.


Setibanya di kolam yang menjadi primadona taman bermain tersebut, Dimas dan Aulia segera mengganti pakaian yang sudah disiapkan Rena dari rumah. Ingin sekali berenang bersama kedua orangtuanya, namun apa daya karena Rena tak menyiapkan pakaian dan membuat Aulia harus puas hanya berenang bersama papinya saja.


Menunggu tak jauh dari kolam dengan menjaga barang barang, Rena tampak senang melihat kebahagiaan ditunjukkan putrinya. Sangat jelas terlihat tawa juga senyuman dalam wajah ceria bocah kecil di sayangi itu.


Cukup lama Rena menanti hingga Aulia minta untuk keluar dari kolam karena mulai bosan. Dimas membawa putrinya ke arah perempuan duduk seorang diri, meminta agar Rena membilas tubuh Aulia dan dirinya membilas diri di tempat lain.


Tiga puluh menit mereka membilas, sudah siap dengan pakaian rapi kembali juga rambut sedikit basah walau sudah coba dikeringkan menggunakan handuk. Aulia yang tengah kelaparan meminta makan ayam goreng kesukaannya di tempat biasa dikunjungi dulu sebelum ada Rena dalam hidup mereka.


Tujuan untuk membahagiakan putrinya, dituruti saja oleh Dimas dengan ijin diberikan Rena pada Aulia untuk menikmati makan di luar. Pasalnya Rena memang hanya memperbolehkan Aulia makan makanan rumah saja, cerewet dengan segala larangan diberikan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak.


Dimas hanya diam ketika istrinya mulai banyak sekali larangan, mencoba memahami jika semua dilakukan demi kebaikan Aulia sendiri. Menjaga kebersiahan untuk kesehatan putri tersayangnya, walau kadang juga sedikit merasa kasihan ketika semua dilarang karena dia sendiri sudah cukup memberikan larangan untuk tidak jajan sembarangan di pinggir jalan.


Berhenti di sebuah tempat makan, mereka langsung masuk dan memesan makanan ingin dinikmati. Tidak terlalu lama mereka menantikan pesanan hingga langsung dapat mengisi perut bersama dengan sangat lahap. Bagi Dimas, disitu adalah juaranya ayam dimana semua dimasak dengan sangat sempurna sehingga ia dan Aulia menjadikan itu sebagai tempat favorit.


"Papi, Aku ngantuk." Keluh Aulia setelah selesai makan.

__ADS_1


"Yaudah Kamu sama Mami tunggu di mobil, biar Papi bayar dulu." Dimas menjawab, menyerahkan kunci mobil pada istrinya.


Aulia dan Rena langsung menuju ke mobil, dengan bocah kecil itu duduk di depan tepat pada pangkuan karena mata benar benar sudah tidak sanggup berkompromi. Dimas keluar usai membayar, langsung masuk dalam mobil dan melajukan kendaraan kembali pulang.


Dalam perjalanan, Aulia tertidur sangat pulas dalam dekapan Rena, Dimas pun menambah sedikit kecepatan agar putrinya bisa langsung beristirahat dengan nyaman. Lagipula ia juga merasakan kelelahan yang sama usai bersenang senang seharian ini.


Beberpa waktu melintasi jalanan, Dimas tiba di rumah dengan Pak Adi membukakan pagar. Langsung saja mobil diparkirkan depan rumah, turun dan meraih tubuh putrinya untuk dibawa masuk kedalam kamar. Sedangkan Rena masih mengambil barang barang dalam mobil, diraih langsung oleh Bi Ijah ketika melihat.


"Makasih ya, Bi." Rena menyerahkan semua barang kecuali barang putrinya.


"Sama sama, Bu." Sopan Bi Ijah.


Terdengar ketukan pintu dari luar, Dimas segera membuka pintu dan menemukan Bi Ijah di depan.


"Kenapa, Bi?" tanya Dimas dengan pintu terbuka setengah.


"Maaf, Pak. Mau dimasakkan apa untuk makan malam?" tanya santun Bi Ijah.


"Apa aja, BI. Oh ya, tolong nanti bangunkan Kami ya. Kami mau tidur sebentar," jawab Dimas seraya berpesan.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya permisi dulu," kata Bi Ijah undur diri.


Setelah Bi Ijah pergi dengan senyum juga anggukan diberikan, Dimas kembali masuk ke kamar putrinya melihat Rena tengah membungkuk melepas ikatan rambut. Tanpa aba aba langsung saja lelaki itu memeluk dari belakang dengan dagu diletakkan pada pundak istrinya.


"Aku ngantuk," manja Dimas.


"Iya, Mas. Sebentar ya," kata Rena masih melepas ikat rambut.


Begitu selesai melepaskan ikat rambut Aulia, Rena berbalik dan menatap suaminya seraya melingkarkan kedua tangan pada tengkuk lelaki tersenyum padanya. Dimas sedikit membungkuk lalu mengangkat tubuh istrinya dan di ajak berpindah ke kamar mereka sendiri.


Rena membuka kamar tanpa lupa menutup kembali dengan masih berada pada gendongan suaminya. Mereka menuju kamar sendiri, lalu Dimas menurunkan istrinya begitu tiba di kamar sesuai permintaan Rena sendiri.


"Aku mandi bentar ya, Mas. Udah lengket banget," pamit Rena langsung.


"Iya, Aku juga mau ganti baju." Dimas menjawab.


Rena segera ke kamar mandi ketika suaminya melepaskan jam tangan untuk diletakkan di atas meja samping ranjang. Dimas berganti pakaian di ruang ganti, lalu mengetuk pintu kamar mandi mengingatkan agar istrinya tidak terlalu lama karena takut masuk angin.


Tanpa mengenakan kaos, Dimas hanya mengenakan celana pendek dan langsung naik ke atas ranjang usai mengingatkan istrinya dari balik pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Mata tak mampu lagi terjaga, sayup sayup Dimas tenggelam dalam mimpinya sendiri tanpa menunggu hingga Rena selesai mandi.

__ADS_1


Rena yang telah menyelesaikan mandi selama satu jam, keluar dengan rambut basah tergulung handuk. ia melihat suaminya sudah tertidur pulas dan menyusul untuk tidur di sampingnya dalam selimut yang sama. kakinya juga sangat lelah usai berjalan mengelilingi taman seharian ini.


__ADS_2