
STOP PLAGIAT
Pagi harinya Rena melakukan aktifitas seperti biasa, membantu anak anaknya berkemas, menemani mereka makn dan mengantar Aulia bersama Brian juga Pak Adi karena tak mendapat ijin untuk mengemudi sendiri dari suaminya. Usai mengantar Aulia, Rena mengajak putranya bermain sebelum Ia bekerja dan mengirimkan beberpa file yang masih menjadi tanggung jawabnya. Ia masih setia menunggu suaminya menghubungi dengan terus mendekatkan ponsel pada dirinya kemanapun Ia pergi. Tak sedikitpun Rena meninggalkan ponselnya karena takut jika suaminya nanti menghubungi dan tak segera Ia jawab maka akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Dimas.
Perjalanan yang menempuh waktu hingga belasan jam bahakan higga puluhan jam untuk bisa sampai langsung ke rumah Dedrick terasa begitu lama ketika Rena harus menantikan sebuah kabar dari suami yang begitu amat Ia rindukan. Kesibukan yang sengaja Ia lakukan demi membunuh waktu dalam penantiannya agar tak terlalu jenuh dan berpikiran macam macam mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika semua akan baik baik saja.
Siang hari, Aulia yang sudah di jemput Pak Adi pulang bersama teman temannya yang hendak berlatih menari pada Rena untuk ujian kesenian di sekola. Rena sengaja tak ikut menjemput putrinya karena Brian tengah tidur siang. Ibu dua anak tersebut mengajak putri serta teman temannya makan siang lebih dulu sebelu memulai untuk belajar tari. Setelah mereka kenyang dan melegakan perut sambil membaca baca buku pelajaran, Rena memulai latihannya dengan begitu sabar dan telaten membantu setiap gerakan anak anak yang Ia bimbing. Rena asik berlatih bersama putri juga teman temannya hingga sore hari dimana semua orang tua dari anak anak dalam kelompok tari Aulia menjemput mereka untuk kembali ke rumah tanpa lupa mengucapkan terimakasih pada seorang ibu yang lebih tampak seperti masih gadis karena paras cantik dan tubuh yang masih bagus.
Malam harinya Rena masih tetap menunggu kabar dari Dimas ataupun keluarganya yang belum juga menghubungi Rena. Padahal seharusnya mereka sudah tiba sore tadi di rumah Dedrick. Ia mencoba menghubungi ponsel Dimas namun masih belum aktif sementara Erwin ponselnya terus saja di luar jangkauan. Rena merasa cemas karena tak satupun keluarganya dapat di hubungi bahkan hingga tengah malam Ia menunggu.
Rena merebahkan tubuh lelahnya dengan ponsel Ia letakkan dekat pada tubuhnya agar bisa langsung menjawab ketika salah satu keluarganya menghubungi. Lama penantian yang Ia rasakan mengantarkan dirinya pada tidur lelap dengan mimpi serta perasaan buruk menghampirinya malam ini dan memaksa nya ternamgun menjalankan ibadah di sepertiga malam memohon akan keselamatan seluaruh keluarganya.
****
Hingga empat hari tak satupun keluarganya dapat di hubungi ataupun menghubungi Rena dan semakin membuatnya begitu khawatir akan apa yang mungkin terjadi. Pikiran pikiran buruk kian hari kian menjadi dalam pikiran Rena serta kecemasan tanpa henti mendera batinnya dengan begitu kuat.
" Kemana sih Kamu mas, kenapa engga ada kabar sama sekali " gumam Rena dalam hati.
Karena begitu khawatir dan berpikiran negatif, Ia memberanikan diri untuk melihat berita online tentang pesawat jatuh yang membuat tubuhnya gemetar ketika mulai membaca beberapa judul artikel. Tangan nya terus memainkan ponsel di tangan nya hingga akhir halaman berita online tersebut yang seketika melegakan hatinya jika tak ada satupun informasi kecelakaan dari pesawat yang di tumpangi keluarganya. Rena memberanikan kembali untuk mencari berita luar mengenai kecelakaan mobil atau sejenisnya dan membaca satu per satu semua artiket yang baru di muat namun tak ada satupun petinjuk tentang keluarganya yang terlibat kecelakaan dan membuatnya begitu lega. Ia mencoba menghubungi sekretaris Erwin namun Erwin belum kembali lagi ke Paris.
Pikirannya tertuju pada Natalie yang mungkin sesuatu buruk menimpa mertuanya namun dengan cepat Ia menampik pikirannya tersebut berharap jika semua akan baik baik saja. Perempuan yang duduk di teras rumah dengan perasaan cemas itu masih terus mencoba berpikiran positif tentang keluarganya. Bibirnya masih terus memanjatkan doa terbaiknya.
__ADS_1
" Bu, sudah malam di luar dingin nanti Ibu sakit " tegur Bi Lastri menghampiri Rena yang masih duduk di teras sibuk membaca artikel hingga lupa waktu.
" Oh ya ampun, Aku engga lihat jam Bi, anak anak di mana ya ?" tanya Rena tanpa sadar Ia meningglkan kedua anaknya demi mencari informasi tentang keluarganya.
" Non Auli sama Den Brian sudah tidur di kamar atas Bu di kamarnya Non Auli " seru Bi Lastri karena tak berani memasuki kamar Dimas tanpa adanya majikan yang menemani ataupun memerintahkan drinya.
" Oh ya udah makasih ya Bi. Bibi istirahat aja jangan lupa kunci pintu ya biar Saya yang temani anak anak " sahut Rena.
" Baik Bu " jawab Bi Lastri.
Rena menghampiri kedua anaknya dan tidur bersama di ranjang Brian yang sudah di pindahkan Pak Adi ke kamar Aulia atas perintah dari Dimas ketika Rena tak tega meninggalkan putra kecilnya tidur sendirian.
Pukulu 12 malam Rena yang masih terlelap terkejut akan dering ponsel yang Ia letakkan di atas kepalanya.
" Kamu lagi tidur ya sayang " sahut orang dari ujung telfon yang mengejutkan Rena hingga langsung membuka matanya.
" Mas ? ini beneran Kamu ?" tanya Rena tak percaya akan suara suami yang Ia dengar dari ujung telfon.
" Iya sayang, masa udah lupa sih sama suami sendiri " sahut Dimas
" Kamu masih ngantuk ya ? di sana pasti tengah malam sekarang " tambah Dimas
__ADS_1
" Kamu kok baru hubungi Aku sih ? mana ponsel semua orang engga bisa di hubungi juga, Aku khawatir tahu gak mas sampai harus baca baca artikel tentang kecelakaan seperti orang gila " jelas Rena panjang lebar sembari berjalan keluar dari kamar Aulia menuju kamarnya agar tak mengganggu tidur lelap kedua anaknya.
" Maaf sayang, begitu dantang Kita langsung urus operasi Mama dan Kita ganti nomor lupa buat kasih kabar ke Kamu karena urus Mama di sini " jelas Dimas
" Lupa mas ? keterlaluan banget sih bisa sampai lupa Kamu " jengah Rena namun merasa lega karena semua baik baik saja.
" Maaf sayang, Aku kangen sama Kamu jangan marah marah dong " ucap dimas lirih karena begitu merindukan istrinya.
" Aku juga kangen sama Kamu mas, Mama giman ?" sahut Rena
" Kita tinggal tunggu mama pulih sayang, begitu Mama baikan Aku langsung pulang sama Tyo " jawab Dimas.
" Aku sama anak anak susul ke sana ya mas, ujian Auli juga kurang dua hari lagi kok " pinta Rena meminta persetujuan Dimas.
" Engga usah sayang, Kamu ribet nanti sama anak anak. Lagian kasihan Brian kalau harus perjalanan lama pasti bosan Dia, secepatnya Aku pulang kok sayang. Mama juga sudah siuman dan tinggal tunggu Dia sembuh dulu baru Aku pulang. Kamu tunggu Aku di sana ya " ucap Dimas panjang lebar.
" Ya udah, Kamu jaga kesehatan jangan sampai sakit " pinta Rena yang paham betul jika suaminya akan jarang makan dan tidur ketika pikirannya sedang banyak.
" Iya sayang, Kamu juga. Aku masih kangen jangan di tutup dulu " sahut Dimas tak ingin mengakhiri pembicaraannya.
" Mahal loh mas " seru Rena.
__ADS_1
" Masa iya pikirin biaya sih lagi kangen kaya gini, Aku beneran kangen pengen manja ke kamu " jengah Dimas karena istrinya malah membicarakan tarif telfon dan membuat istrinya tersenyum.
Perasaan lega ketika bisa mendengar lagi suara suaminya membuat Rena bahagia dan seketika kehilangan rasa kantuknya demi berbicara pada suaminya untuk saling melepas rindu. Semua rasa khawatir dan pikiran pikiran buruk seketika hilang dari kepala dan batin Rena yang merasa begitu senang ketika mendengar saura manja Dimas yang terdengar begitu merindukan istrinya.