
STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.
Setelah puas memakan rujak buah yang di suapi Rena sampai habis, Dimas berpamitan untuk membersihkan diri dan melihat Aulia di kamarnya. Rena memutuskan untuk menyirami taman dan Siska membantu Bi Ijah untuk mempersiap kan makan malam.
Pukul 6.30 Tyo baru tiba di rumah, disambut dengan Istrinya yang tengah asik mendengarkan alunan piano Dimas bersama Rena dan Aulia. Rena yang tengah menatap lekat suaminya sedang bermain piano itu pun di buat terkejut dengan tepukan pundak Tyo dari belakang. Karena rena memang Tyo sudah menyapanya dari semenjak pulang namun Rena tak mendengar.
"Mba, jangan di lihatin terus. Kebanyakan cewek yang lihat mas main piano tuh langsung jatuh cinta loh mba," goda Tyo pada Rena yang langsung tersenyum.
"Kamu benar dek, aku aja waktu pertama lihat mas Dimas main di cafe langsung suka padahal kita belum kenal waktu itu dek." sahut Rena membuat Tyo dan Siska tersenyum dengan jawaban polos kakak ipar mereka.
"Oh jadi ceritanya cinta pandangan pertama ya mba?" goda Siska menyikut lengan Rena.
"Kamu ini," sahut Rena dengan wajah sudah memerah. Dimas menghentikan permainan piano saat melihat Rena yang tersipu malu dan menghampiri.
"Kamu apain istri mas dek?" tanya Dimas melangkahkan kaki ke arah Rena.
"Masa ya mas, mba Rena bilang dia jatuh cinta sama mas pas dari pertama lihat mas main piano di Cafe." jawab Tyo terkekeh, membuat Rena malu dan menundukkan wajah untuk menyembunyikan muka merah padamnya.
"Masa sih? Kok aku baru tahu?" goda Dimas mulai berjongkok di depan istrinya untuk mengintip kebawah wajah istrinya dengan tersenyum.
"Iya mas, mba Rena sendiri yang bilang. Ternyata ya mba Rena diam diam dari dulu punya cinta terpendam sama mas Dimas," timpa Siska yang semakin membuat Rena malu.
"Udah, udah. Istri mas ini pemalu jangan di godain terus dong, mukanya sampai merah kaya tomat." seru Dimas menggoda menarik tangan istrinya untuk di genggam.
"Kan udah jadi istri mba, kok malu gitu sih?" ucap Siska sambil tersenyum menyikut lengan Rena kembali.
"Iya, kenapa malu aku malah senang ternyata kamu punya perasaan sama aku dari dulu." ucap Dimas yang melebarkan senyum.
Puas menggoda Rena mereka pun menuju meja makan karena Bi Ijah sudah menyiapkan makan malam untuk semua orang. Semua mulai menyantap makan malam mereka bersama, dengan Rena yang masih sedikit tersipu karena pengakuannya tadi terhadap Tyo dan Siska.
__ADS_1
Seusai makan malam mereka memutuskan pergi ke kamar mereka masing masing karena besok pagi harus check in ke bandara. Auli pun meminta tidur dengan mami dan papi nya di kamar Dimas yang langsung di iyakan oleh Rena.
***
Pagi hari Rena dan Dimas mengantar Auli dan om tante nya itu pergi ke bandara. Dengan terus memangku dan menciumi aulia karena merasa sangat berat harus berpisah dengan putri kesayangannya. Meskipun hanya satu minggu saja Aulia ikut om dan tante nya, Rena begitu berat melepaskan.
"Auli harus sering videa call mami ya, mami engga mau kalau cuma di telfon aja," pesan Rena sambil mengusap pipi Aulia lembut.
"Iya mami." jawab Aulia, memeluk juga menciumi pipi maminya.
Dimas yang melihat Rena dari kaca spion mobilnya pun, merasa tidak tega dengan Rena yang terlihat sangat sedih saat itu. Namun ini adalah permintaan Auli untuk bisa berlibur bersama om dan tante nya di rumah om nya di Bali. Sehingga Dimaa tidak bisa menolah.
Sesampai nya di bandara Rena yang masih menggendong Auli itu tiba tiba menitikkan air mata.
"Mami, Auli cuma sebentar, mami jangan nangis," ucap Auli menyeka air mata di wajah cantik maminya.
"Auli bukan mau perang Ren, engga usah nangis gitu." goda Dimas agar istrinya berhenti menangis, namun Rena hanya terus memeluk tubuh gemuk putrinya.
"Mas, mba kita masuk dulu ya," ucap Tyo yang sebenarnya juga tidak tega melepaskan Rena dari Aulia.
"Mami, aku mau masuk. Mami jangan nangis ya," pamit Aulia masih di peluk Rena.
"Udah ya, nanti mereka ketinggalan pesawat." bujuk Dimas agar Rena melepaskan putrinya sambil mengelus lengan Rena.
Rena memberikan Auli pada Siska untuk di gendong dengan berat hati.
"Jangan lupa begitu sampai langsung video call mami ya sayang," pesan Rena sambil mengusap punggung Auli yang sudah di gendong oleh siska.
"Iya mami." jawab Auli, di berikan ciuman bertubi tubi oleh maminya.
__ADS_1
"Aku pamit ya mba, mas," pamit Siska sambil memeluk Rena bergantian dengan Dimas, begitu juga Tyo yang mulai berpamitan dan memeluk tubuh bidang kakaknya lalu menyalami Rena.
"Bye mami." pamit Aulia berada di gendongan Siska sudah berjalan masuk ke dalam bandara.
Dimas dan Rena melambaikan tangan untuk putri dan adik serta adik ipar mereka. Rena belum bisa berhenti menitikkan air mata itu pun di tarik Dimas ke pelukannya, sembari membelai rambut Rena untuk menenangkan.
"Ren, baju aku basah kena ingus kamu loh," goda Dimas mendapat cubitan tipis di perutnya oleh peremouan sudah bisa tersenyum tersebut.
Mereka masih menunggu di bandara atas permintaan Rena yang ingin memastikan jika putrinya itu naik ke pasawat dengan aman. Setelah lama menunggu tiba tiba terdengar pesan di ponsel Dimas yang ternyata Tyo yang mengirimkan gambar Aulia di dalam pesawat, duduk di antara om dan tante nya. Merasa lega, Rena kembali pulang bersama Dimas dengan perasaan yang masih tidak karuan karena harus berpisah dari putri kesayangannya itu selama satu minggu.
"Kamu mau es krim, permen apa balon Ren?" goda Dimas pada Rena yang selalu melihat ke arah luar jendela mobil selama perjalanan.
"Mau kamu aja mas." sahut Rena tanpa sadar, mengejutkan Dimas tidak percaya mendengar jawaban istrinya. Karena selama ini Dimas mengenal Rena sebagai orang yang sangat pemalu. Tanpa menjawab perkataan Rena, Dimas pun langsung meraih tangan Rena untuk ia genggam dan tetap fokus menyetir.
***
Tepat pukul delapan malam, mereka pun sampai di rumah karena memang perjalanan dari bandara ke rumah lumayan jauh dan juga mereka harus berhenti untuk makan dulu. Sampainya di rumah, mereka langsung membersihkan diri.
Hampir dua jam berlalu, tiba tiba handphone Dimas pun berdering yang rupanya adalah panggilan video call dari ponsel Tyo. Dengan cepat Dimas mengangkat panggilan tersebut bersama Rena yang duduk di atas ranjang di sampingnya. Terlihat wajah gembira penuh tawa putri kesayangannya di layar ponsel, membuat Rena semakin merindukan putri kecilnya.
Mereka ngobrol lumayan lama, sampai akhir nya Aulia mulai mengantuk dan Rena meminta untuk pergi tidur saja karena memang hari sudah malam. Dengan perbedaan waktu yang lebih cepat di Bali pastinya terlalu terlambat untuk Auli pergi tidur. Rena menutup telfon dengan perasaan bercampur, ia merasa bahagia karena melihat putrinya bahagia dan selamat sampai di rumah om nya, namun juga sedih karena harus berpisah dari Aulia.
Dimas mengamati Rena merasa sedih, langsung memeluk erat tubuh Rena sambil terus membelai rambut Rena agar merasa tenang. Seakan Dimas dan Rena terbawa dengan suasana malam itu, mereka pun menjadi sangat dekat hingga tidak ada sedikit pun jarak di antara mereka.
Malam ini Dimas melakukan kewajiban nya sebagai suami dan Rena melakukan kewajiban yang memang merupakan hak Dimas untuk pertama kali nya. Dengan penuh rasa kasih sayang, cinta yang tidak mampu mereka bendung lagi tercurah semua pada malam ini.
Pagi hari nya Rena yang terbiasa bangun lebih awal sedikit merasa aneh dan canggung, karena Dimas memeluk nya erat dan keadaan mereka yang hanya dilapisi selimut tebal. Rena tersenyum menatap wajah suaminya yang berada sangat dekat.
Perlahan Rena bangun dari tempat tidur dan mulai mengenakan daster tidur di lantai bawah samping tempat tidur yang ia kenakan semalam. Bergegas ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu pelan pelan pergi keluar kamar sebelum suaminya terbangun. Meski merasa sedikit sakit saat berjalan Rena tetap melanjutkan langkahnya karena ia sangat malu dengan apa yang terjadi semalam dengan suami, jadi sebelum Dimas bangun ia dengan segera pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1