
STOP PLAGIAT
Dimas dan Tyo menyusuri jalanan yang masih lenggang menuju ke bandara dengan Dimas yang tak henti menggerutu pada Adiknya karena mengatur perjalanan terlalu awal karena Ia masih sangat ingin bersama dengan istrinya. Tyo yang hanya tersenyum dengan terus berkilah pada kakaknya yang menggerutu kesal selama perjalanan mulai menghentikan laju kendaraan begitu sampai di parkiran Bandara. Lelaki yang memeluk Adiknya tersebut menolak untuk di antar masuk ke bandara dan memintanya untuk segera kembali ke rumaha manakala Rena membutuhkannya di sana.
Pukul 10, Dimas yang sudah tiba di kantor satu jam lalu langsung menghubungi istr dan anak anaknya agar tak membuat mereka khawatir. Meskin di ruangannya sudah ada sekretaris juga manager dari beberapa divisi, Dimas tak segan untuk menghubungi keluarganya dengan sikap manja yang terlihat ketika Ia menatap wajah istrinya melalui sambungan video call. Brian dan Aulia yang sangat gembira melihat wajah papinya di layar ponsel Rena terus sasling canda dengan tertawa bersama. Auli yang pagi pagi sudah menggerutu karena papinya berangkat tanpa membangunkan dirinya, sudah mulai merasa senang ketika Dimas menjelaskan kalau Ia tak tega membangunkan putri yang sedang terlelap dan akan kembali dua hari lagi untuk menjemput mereka bertiga.
Usai menelfon keluarga kecilnya, Dimas melanjutkan urusannya, dengan bantuan koneksi Erwin dan Derdrick juga usul dari ke duanya membuat Dimas lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan perusahaan yang sedang Ia hadapi saat ini.
Dimas meminta pada sekretarisnya agar mengatur jadwal pertemuan dengan klien serta orang orang yang di sarankan oleh Dedrik dan Erwin hari ini juga agar semua masalah bisa cepat teratasi dan Ia bisa kembali berkumpul dengan istri juga anak anaknya.
Rena yang membantu tetangganya seperti biasa untuk masak usai ke pasar pagi tadi bersama sahabat sahabatnya, sementara Siska membantu untuk menjaga Brian juga Aulia. Sore hari setelah semuanya usai, Rena kembali untuk merwat anaka anaknya serta mencuci beberapa pakaian kotor miliknya, Dimas, anak anak juga papanya.
Dimas yang terlalu sibuk hingga lupa memberikan kabar kepada Rena bahkan hingga sampai istrinya tersebut terlelap ketika hari sudah tengah malam dengan rasa lelah mengurus kedua anaknya dan membantu segala persiapan hingga membereskan semuanya usai acara kirim doa.
Pagi hari Rena yang sudah terbangun dan meraih ponselnya namun tak ada satupun pesan atau panggilan dari Dimas, membuatnya khawatir lalu mencoba menghubungi suaminya tersebut hingga tiga kali tapi tak ada jawaban. Ia pun memilih untuk memebersihkan diri sebelum anak anaknya terbangun. Rena keluar kamar dan memasak sarapan untuk kedua anak, papa juga sahabat sahabatnya serta keluarga suaminya yang nanti akan Ia antar ke sana. Meski waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi, Rena sudah menyibukkan diri di dapur sendirian.
" Kenapa mas Dimas engga telfon balik ?" gumam Rena ketika Ia sudah selesai memasak dan masuk ke dalam kamar untuk melihat ponselnya.
Rena meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan membangunkan anak anaknya karena hari sudah mulai siang.
" Sayang, ayo bangun udah siang " seru Rena mengusap lembut rambut anak anaknya dan menciumi mereka agar terganggu dan terbangun.
Brian yang lebih dulu bangun dengan melebarkan senyum di susul dengan Aulia yang memeluk tengkuk maminya manja. Perempuan yang lebih nyaman dengan daster itu mengangkat tubuh putranya dan menuntun Aulia ke kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka berdua bersamaan sebelum Ia membantu anak anaknya unutk makan sarapan.
__ADS_1
Hari hari yang Ia lalui tanpa suami manjanya membuat dirinya amat merindukan ketika suaminya mulai bergelayut padanya tanpa rasa malu meski di hadapan banyak orang. Pikirannya yang masih tertuju pada Dimas yang tak ada kabar sekalipun setelah sambungan telfon kemarin ketika mengabari telah sampai membuat Rena cemas. Ia mencoba menghubungi nomor rumah yang di angkat gembira oleh Bi Ijah karena kembali dapat mendengar suara Rena yang menanyakan keberadaan suaminya. Namun Bi Ijah hanya menjawab jika Dimas hanya pulang kemarin untuk mengambil berkas saja setelah itu belum kembali sampai saat ini menimbulkan banyak tanya dalam benak Rena dan kekhawatitan dalam hatinya.
" Sesibuk itu ya sampai engga sempat kasih kabar " jengah Rena bergumama lalu menekan nomor telfon kantor Dimas yang di angkat oleh Andre, sekretaris suaminya yang mengatakan jika Dimas pergi keluar kota bersama dengan Ana untuk menemui klien dan beberapa orang yang akan membantu permasalahan perusahaannya.
Dengan napas yang Ia buang kasar begitu mendengar suaminya pergi dengan sekretarisnya yang cantik tersebut membuat dada Rena sesak akan cemburu, mengingat tak ada satupun kabar dari Dimas membuat Rena curiga dengan suaminya.
Pukul 9 malam, Dimas yang baru menghunbungi Rena ketika Rena sedang mengerjakan pekerjaannya menjawab lesu telfon dari suami yang membuatnya berpikiran anaeh aneh seharian ini usai mengetahui jika suaminya pergi bersama dengan Ana.
" Sayang, Aku besok belum bisa jemput Kamu ya, Aku masih harus ketemu sama beberapa orang dulu " ucap Dimas pada ujung sambungan telefon yang juga terdengar suara wanita disana.
" Hm " singkat Rena merasa tak enak karena suami yang mengingkari janjinya tersebut masih bersama sekretaris hingga malam hari.
" Maaf sayang, Kamu jangan marah. Begitu selsai Aku langsung jemut kalian ya " ucap Dimas mendengar Rena yang menjawabnya dengan nada tak enak.
Dimas merasakan kekesalan Rena melalui suara nya dan menghubungi kembali melalui sambungan video yang hingga empat kali baru di jawab oleh Rena dengan meletakkan ponselnya bersandar pada sandaran ponsel di atas meja dan terus mengerjakan beberapa pekerjaan tanpa melihat ke arah layar yang ada suaminya di sana berada di sebuah kamar hotel.
" Kamu sibuk banget ya ? " tanya Dimas melihat istrinya terus menunduk dengan mengerjakan beberapa pekerjaan.
" Iya " singkat Rena tanpa melihat ke arah suaminya.
" Ya udah besok Aku jemput kalian dulu baru urus pekerjaan lagi ya, Kamu jangan marah song " bujuk Dimas yang masih tak di hiraukan oleh Rena karena merasa cemburu pada Ana.
" Engga usah " singkat Rena.
__ADS_1
" Aku engga suka Kamu kaya gini, Aku engga mau berantem, Kamu kenapa sih bilang sama Aku. Salah Aku dimana?" ucap Dimas karena istri yang mengacuhkannya dan bersikap dingin.
" Aku balik aja ke Paris ya Besok daripada ganggu Kamu sama sekretaris Kamu, lagian juga Aku banyak kerjaan disana " ucap Rena menghadap ke arah kamera ponsel agar dapat dilihat oleh suaminya yang menampakan wajah jengkel di sana.
" Oh gitu ? ya udah pergi aja engga usah jadiin orang lain buat alasan " jengah Dimas dengan wajah geram.
" Oke " singkat Rena kembali menundukkan wajahnya melanjutkan pekerjaan yang masih ia pegang.
" Kalau mau balik engga usah bawa anak anak, balik aja sendiri engga usah ke sini lagi ! " tegas Dimas penuh kekesalan.
" Emang udah engga ada gunanya hubungan ini kalau Kamu masih terus pikirin karir Kamu. Kita akhiri saja sebelum kIta memulainya lagi " tambah Dimas lebih menekankan ucapannya dengan nada begitu kesal.
" Terserah Kamu, Aku nurut aja maunya Kamu mas ": sahut Rena santai menahan rasa cemburunya.
" Itu maunya Kamu bukan Aku, dari awal juga Kamu maunya akhiri semuanya dan cuma kasih Aku harapan palsu aja. Sakit tahu gak Kamu giniin " ucap Dimas jengah.
" Mas, Kamu yang ingkar janji dan Kamu yang engga kasih kabar ke Aku dari kemarin sampai Aku harus telfon keruma, telfon ke kantor buat cariin Kamu. Kamu lihat berapa panggilan sama pesan dari Aku, eh malah sekarang malam malam Kamu ada di kamar hotel sama sekretaris Kamu. Siapa yang sakit di sini ? Aku atau Kamu ?" jelas Rena menatap ke arah suaminya di layar ponsel.
" Aku sibuk, banyak yang harus Aku kerjakan di sini dan Dia cuma bantuin Aku karena Andre urus yang di sana lagian Dia yang paham semuanya daripada Andre makanya Aku ajak Dia. Dia udah balik ke kamarnya, tadi cuma kasih jadwal buat besok ketemu sama orang. Aku engga ngapa ngapain, engga ada Aku pikiran untuk itu. Kamu jangan kaya gini dong, Aku engga tenang jadinya " jelas Dimas panjang lebar.
" Udah lah mas, Kamu istirahat aja. Aku mau selesaiin ini " seru Rena yang masih tak enak hati.
" Terserah Kamu deh " pungkas Dimas menutup sambungan video call mereka.
__ADS_1
Dimas merasa jengkel karena istrinya berpikiran buruk karena memang Ia hanya melakukan pekerjaan yang harus secepatnya teratasi agar maslah perusahaan tak menjadi semakin berlarut dan panjang. Dimas yang juga merasa cemas jika istrinya akan benar benar pergi merasa tak tenang atas pertengkaran mereka setelah semua yang mereka lalui di jogja. Kebersamaan yang hangat dan cinta yang terus terucap serta perasaan takut kehilangan begitu terasa ketika mereka menghabiskan waktu bersama lenyap begitu saja hanya karena kecemburuan Rena pada Ana dan kekecewaan akan suaminya yang mengingkari janji.