Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 72


__ADS_3

" Tapi pernikahan tanpa adanya restu juga engga akan bisa buat kita bahagia mas. Kita sama sama tahu jika restu orang tua juga restu Tuhan, tanpa restu itu pernikahan kita engga akan ada arti nya dan kamu sebagai anak juga harus bisa membahagiakan orang yang telah melahirkan kamu mas" ucap Rena dengan air mata yang mengalir memegang ke dua sisi wajah Dimas.


" Aku tahu, tapi apa kita harus mengorbankan pernikahan kita hanya untuk membuat Mama bahagia ? apa kamu pernah coba pikir bagaimana kita setelah berpisah ? gimana Aulia ? gimana anak kita yang belum lahir ? kita bisa mendapat restu Mama dan aku yakin suatu saat Mama pasti merestui kita " sahut Dimas menatap dalam mata Rena mencoba meyakinkan istri yang terus saja ingin berkorban hanya demi kebahagiaan keluarganya.


" Aku cinta kamu Rena, aku sama Aulia bahagia dengan hadir nya kamu dalam hidup kita. Aku yakin kita bisa melewati semua ini bersama " tambah Dimas berusaha menguatkan Rena.


" Maafin aku mas " seru  Rena memeluk pinggang Dimas.


Dimas yang membelai lembut rambut Rena dalam dekapan nya mamapu menenangkan hati Rena yang tengah gusar dan merasa sangat ingin menyerah setelah melihat bagaimana kebencian mama mertua nya.


" Lebih baik mas sama Auli pergi ke rumah kakek dan minta maaf sama mama " saran Rena usai melihat Dimas membentak mertuanya di hotel yang mungkin akan membuat Natalie semakin membenci Rena kini.


" Kita pergi sama sama " sahut Dimas yang masih mendekap tubuh Rena.


" Engga mas, aku rasa kalau sekarang aku ikut itu akan memperkeruh keadaan. Aku tunggu di rumah aja ya, lagian Auli pasti kangen sama mereka " ucap Rena melepas pelukan Dimas pelan.


" Tapi sayang.." sahut Dimas terpotong karena Rena yang mendaratkan ciuman kilas di bibir Dimas.

__ADS_1


" Aku mohon " ucap Rena setelah melepas bibir lembut Dimas.


" Ya udah kali ini aku turuti kamu tapi lain kali kita pergi ketemu kakek bersama " sahut Dimas.


" Sekarang aku ganti baju dulu terus bantu Auli bersiap ya mas. Mas juga siap siap dulu " ucap Rena yang mulai tersenyum meski dengan mata sembab.


" Iya sayang, terimakasih " jawab Dimas karena Rena yang selalu memikirkan tentang kebahagian Aulia dan keluarga nya tanpa pernah memikirkan tentang diri nya sendiri.


Dimas mencium kening Rena hangat sebelum ia beranjak untuk bersiap dan membiarkan Rena mengganti pakaian nya. Kehadiran dan sikap Natalie pada Rena, membuat Dimas semakin mencintai Rena karena sikap dewasa dan perhatian Rena terhadap keluarga nya tak akan mungkin ia dapatkan dari wanita manapun di dunia ini. Ia semakin yakin jika Tuhan telah memberikan jodoh yang tepat bagi diri nya dan berharap Natalie mampu melihat ketulusan hati istrinya.


Rena yang usai mengganti pakaian menghampiri Aulia di bawah untuk membantu Aulia bersiap selama Dimas mandi. Rena mencoba menutupi mata sembab serta wajah yang terlihat sedih dengan balutan make up tipis agar Aulia ataupun asisten rumah tangga mereka tak mempertanyakan apapun tentang kondisi Rena.


" Yeeee, Auli mau mami " teriak Aulia bahagia yang membuat Rena tersenyum ketika Aulia yang polos terlihat bahagia.


Rena menuntun tangan Aulia ke atas untuk menuju kamar putri nya dan mulai memebantu untuk bersiap. Ia tak ingin Aulia terlibat dalam kebencian yang di berikan Natalie padanya. Ia berharap jika Aulia tak akan mendengar sedikitpun kebencian dari Natalie untuk diri nya ketika Aulia berada di rumah kakek Dimas yang akan membuat Aulia membela diri nya di hadapan Natalie dan akan membuat Natalie semakin membencinya.


Setelah satu jam Rena membantu Aulia berkemas dengan Dimas yang sudah menyusul ke kamar Aulia lebih dulu setelah ia siap dengan kaos putih serta jaket dan celana pendek. Rena dan Dimas menuntun Aulia ke bawah bersama sampai teras rumah. Ia mencoba menjelaskan ke putrinya tentang alasan mengapa ia tak ikut dengan dalih jika ia merasa sedikit lelah dan butuh istirahat bersama adik nya ketika tadi Aulia bertanya saat mengganti baju. Aulia yang memang sayang pada Rena dan calon adik nya hanya menyetujui saja perkataan Rena tanpa adanya rengekan seperti biasa.

__ADS_1


" Mas, jangan bertengkar sama Mama apalagi di hadapan Aulia, apapun nanti yang mama katakan kamu harus bisa tenang jangan terpancing emosi " pinta Rena menarik pergelangan Dimas mendekat ketika mereka telah sampai teras rumah.


" Iya sayang, kamu baik baik di rumah jangan nangis lagi " sahut Dimas memeluk tubuh Rena tak tega jika harus meninggalakn istrinya dalam perasaan yang kacau.


" Iya mas, kalian hati hati ya " ucap Rena kembali.


Dimas mencium kening Rena sebelum ia beranjak memasuki mobil bersama Aulia yang sudah tak sabar bertemu dengan kakek, nenek serta kakek buyut nya.


" Auli engga boleh nakal ya sayang, harus nurut sama papi " pesan Rena membantu Aulia menaiki mobil lalu mencium lembut pipi tembem Aulia yang tersenyum memeluk Rena.


" Iya mami " sahut Aulia.


Rena menutup kembali mobil Dimas usai membantu Putri nya diiringi mata Dimas menatap tak tega ke arah Rena. Dimas yang mulai menyalakan mesin mobil tak mengalihkan pandangan dari Rena yang masih berdiri di samping mobil menunggu hingga mereka berangkat.


" Kita berangkat ya " pamit dimas dengan berat hati di balik kemudi yang terbuka lebar jendela pintu nya.


" Iya mas, hati hati " sahut Rena tersenyum.

__ADS_1


Perlahan Dimas mulai melajukan kendaraan keluar halaman dengan mata terus menatap ke arah spion memperhatikan Rena yang masih berdiri dengan melambaikan tangan nya ke arah Dimas dan Aulia.


" Aku cinta kamu " gumam Dimas dalam hati dengan mata berkaca kaca tak sanggup melihat kondisi Rena kini. Perasaan ingin melindungi Rena yang pasti akan membuat mama nya merasa terabaikan membuat pikiran Dimas kacau dengan keadaan yang ada. Namun demi Rena dan anak anak nya, ia harus tetap berusah mempertahankan pernikahan yang telah mengubah seluruh kehidupan nya menjadi lebih bahagia.


__ADS_2