
STOP PLAGIAT! HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH!
Teddy yang lebih dulu menerima foto kebersamaan penuh kebahagiaan itu langsung membulatkan mata tak percaya. Berkas yang masih Ia pegang langsung terhempas begitu saja di atas meja teras, dan berlari kedalam menghampiri Dedrick yang tengah memegang ponsel melihat sendiri foto yang sama.
Sementara Erwin yang masih dalam perjalanan, mengembangkan senyum penuh syukur mengetahui jika putrinya mendapatkan apa yang selama ini Ia harapkan.
"Nesa, apa Kamu juga melihatnya? lihat lah putri Kita terlihat begitu bahagia bersama sahabat mu," batin Erwin menitikkan air mata serata tersenyum.
Dering telpon pada ponselnya menyadarkan semua lamunan pria yang tiba tiba sangat merindukan almarhumah istrinya itu. Dedrick penuh kebahagiaan dalam suaranya mengabarkan sendiri akan foto yang juga diterima oleh Erwin.
Tak ingin lagi menunggu waktu untuk menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, Dedrick langsung bergegas ke rumah Tyo bersama Teddy dan meminta Erwin juga menyusul ke rumah Tyo dengan segera.
Kedua pria penuh rasa bahagia dalam diri mereka, tak memperdulikan lagi celana santai juga kaos oblong mereka yang masih melekat, dan secepatnya pergi tanpa mengganti pakaian lebih dulu. Sementara Erwin meminta supir untuk memutar arah kembali ke kediaman Tyo.
Di rumah luas dengan menyajikan kemewahan di setiap desain nya itu, Natalie duduk di antara kedua menantunya yang sudah Ia genggam bersama tangan kedua perempuan yang akan memberikannya cucu lagi itu. Dimas dan Tyo tak henti menggoda ketiganya karena merasa tersingkir seketika.
"Ma, Mama engga pengen ke dapur gitu buat rujak serut? Aku juga mau peluk istri Aku loh," goda Dimas duduk di sudut ruang TV bersama Adiknya.
"Jangan, Ma. Nanti di habiskan semua sama mas Dimas," tawa Rena di sambut dengan tawa lainnya.
"Emang semenjak mba hamil, mas sedikit engga doyan makan ya mba," tambah Tyo menggoda Kakaknya yang kini menjadi sedikit rakus tanpa pilih pilih lagi makanan.
"Engga doyan makan gimana? masa nih Ma mas Dimas makan baso dipinggir jalan habis dua mangkuk loh," cerita Siska sempat tak mempercayai matanya, dan membuat lelaki dengan sorot mata heran itu menatap ke arah Adik iparnya.
__ADS_1
Natalie merasa aneh mendengar cerita Siska, karena yang Ia tahu putranya paling pemilih makanan di banding Tyo. Sedikit saja alat makan terlihat tidak bersih ataupun makanan tertata tidak rapih pasti akan langsung menghilangkan selera makan putra pertamanya. Dari kecil Dimas selalu menjaga tentang kebersihan, bahkan tak pernah ingin main diluar ketika cuaca panas yang membuatnya berkeringat, dan sampai sekarang pun Ia tetap tak suka keluar ketika cuaca terik.
"Sok tahu ih, ngarang banget Kamu," santai Dimas membela diri.
"Engga, orang Kita semua lihat kok Mas. Mas aja yang engga tahu, mba Rena video call sama om Erwin waktu mas makan," tawa Tyo menjelaskan.
"Sayang Kamu kok jahil banget sih, emang bener bener kembar sama Auli Kamu ya," protes suami dengan menatap ke arah istrinya, mengembangkan senyum Rena yang dicubit gemas oleh Mama mertuanya.
Mendengar suara berisik, membangunkan Aulia yang tertidur bersama Adiknya. Gadis kecil dengan wajah serta rambut berantakan itu, langsung berjalan menghampiri Mami yang masih berada di dekat neneknya. Melihat Aulia berjalan sambil mengucek mata, Rena langsung berdiri dan meraih tubuh putrinya agar tak sampai terbentur atau terjatuh.
"Sayang, kalau jalan dilihat jalannya dong," lembut Rena karena putrinya tak melihat adanya meja sambil terus berjalan mengucek mata.
"Aku masih ngantuk," manja Aulia sudah duduk di atas pangkuan Maminya yang dengan cepat di hampiri Dimas mengingat kehamilan istrinya.
"Mas, udah biarin engga apa apa kok. Lagian Auli engga sampai ke perut juga duduknya," lembut Rena memeluk putrinya seperti menggendong bayi.
"Ya sama aja sayang, Kamu engga boleh bawa berat berat. Lagian ini juga udah gede manja nya minta ampun, mandi sana jorok banget sih anak cewek," protes Dimas.
"Dim, Kamu ini sebenarnya engga mau Auli sama Maminya karena takut anak Kamu di dalam perut sakit atau karena Kamu cemburu sih?" goda Natalie melihat putranya berdiri berusaha terus meraih tubuh putrinya.
"Udah Ma, setiap hari juga berantem rebutan mba kok, jadi biarin aja," sahut Tyo tersenyum melihat tingkah kekanakan Kakaknya.
"Mas Dimas iri Ma pengen kaya Auli bisa peluk peluk mba," goda Siska menambahkan mengembangkan senyum Rena.
__ADS_1
"Apa sih?" jengkel Dimas masih berdiri di depan istri yang memperlakukan Aulia seperti bayi kecil.
Karena hari sudah sore, Rena mengajak putrinya untuk mandi agar lebih segar dan tak mengantuk lagi. Dimas menggendong tubuh Aulia ke kamar tamu agar tak lagi bergelayut pada Maminya karena tak ingin jika istri yang tengah hamil muda itu memaksakan diri untuk menuruti keinginan Aulia yang minta gendong.
Tyo, Siska dan Natalie menatap ketiganya pergi usai Rena berpamitan lebih dulu. Kepala digelengkan Natalie melihat sikap manja putranya yang tak mau kalah dengan anak anaknya sendiri untuk bisa dekat dengan Rena.
Di dalam kamar, Dimas meminta putrinya untuk lebih dulu ke kamar mandi dan melepas pakaiannya di dalam. Sementara Ia menarik mendekat istrinya untuk Ia peluk sebentar karena merasa sudah sangat merindukan wanita cantik dihadapannya walau hanya ditinggal beberapa jam saja.
"Mas, nanti Auli lihat!" protes Rena saat suaminya semakin erat memeluk tubuhnya.
"Aku kangen sayang, sebentar aja," jawab Dimas tak ingin melepaskan rasa nyamannya.
Dimas tak pernah sekalipun menyia nyiakan kesempatan untuk bisa bermesraan bersama istrinya, walau harus terus mencuri waktu di sela sela mereka menjaga kedua anak nya. Bibir lembut mulai Ia daratkan pada bibir istrinya yang lebih dulu Ia hapus lipstik di bibir merah alami tersebut, karena tak ingin merasakan rasa lipstik.
Perempuan yang meladeni suaminya itu, tak henti melihat ke arah kamar mandi karena khawatir jika putrinya akan keluar. Sikap tiba tiba Dimas yang selalu melakukan apapun sesuka hati tanpa ingin memperdulikan sekitar, membuat Rena cemas jika anak anaknya mamou melihat apa yang telah mereka lakukan bersama.
"Mas, udah ya nanti lagi. Kalau Auli keluar malah susah jelasin nanti," lembut Rena tak ingin menyinggung perasaan suami yang semakin menikmati perbuatannya.
"Mandi bareng ya?mumpung Brian tidur," ajak Dimas di mengerti oleh istrinya.
"Iya mas, Aku mandiin Aulia dulu ya," ijin Rena pergi meninggalkan suaminya yang telah mengiyakan dengan anggukan.
Dalam keadaan apapun, Rena tak pernah menolak semua keinginan suaminya karena menganggap jika itu juga sebuah ibadah dan kewajibannya. Ia juga tak ingin jika suaminya tersinggung atas penolakan darinya. Rena mulai memandikan Aulia di kamar mandi, dan Dimas merebahkan diri di di atas tempat tidur usai menyiapkan pakaian putrinya yang selalu tersedia di rumah Tyo karena Aulia selalu di ajak menginap di rumah Om nya tiap weekend.
__ADS_1