
STOP PLAGIAT!
Hari berganti minggu, hingga bulan berganti tahun. Semua perkataan istrinya masih jelas menggema dan menjadi momok tersendiri bagi Dimas. Lelaki yang masih terlihat muda dalam usia matang itupun tetap takut untuk mengungkapkan kebenaran akan Kiara pada putrinya.
Sampai ketika usia Aulia sudah 17 tahun, Dimas masih ragu mengatakan kebenaran yang masih ditutupnya rapat. Namun apapun ucapan istrinya, tetap selalu menjadi pertimbangan sendiri bagi lelaki yang tak henti memiliki sikap manja itu.
Pagi hari sekitar setengah 6 pagi, Aulia sudah bangun dengan piyama tidur panjang dan langsung ke teras menghirup udara segar. Di sana sudah ada Brian memainkan game pada ponsel. Sementara Rena sudah memasak di belakang di temani suaminya, karena tak ada lagi Bi Ijah ataupun Bi Lastri yang sudah berehenti bekerja juga Pak Adi. Namun baik Dimas ataupun Rena masih tetap memberikan uang bulanan kepada tiga orang yang sudah setia bersama mereka bertahun tahun.
" Minggir sana! bau belum mandi juga! " tegur Aulia memukul kaki Brian yang sudah duduk di teras melipat kedua kaki di atas kursi.
" Kakak aja sana pergi, muka bantal juga pakai keluar engga tahu malu orang cewek juga " sahut Brian masih nyaman bersama ponselnya.
" Rese " singkat Aulia lalu meregangkan otot.
Sambil berdiri gadis dengan rambut panjang dan memiliki tubuh ramping juga kulit bersih itu, mulai meregangkan otot dan menghirup udara segar dari pepohonan rumah baru mereka. Dimas memang sengaja pindah ke rumah lebih besar saat usia si kembar 3 tahun. Rendi juga Dinda membutuhkan ruang lebih untuk mereka bermain.
Karena kedua anak kembar yang terlahir hanya berjarak beberapa menit itu, tak seperti kedua kakaknya. Kedua anak kembar mereka lebih sering berebut mainan, hingga Dimas membutuhkan ruang luas agar tak terlalu betisik ketika kedua anaknya mulai beradu tangis bersama.
Di teras, Aulia masih asik menghirup udara karena memang tengah libur sekolah usai ujian. Hidung mancungnya tiba tiba mengkerut ketika mendapati sebuah bau yang membuat nya mual.
" Kenapa Kak? " tanya Brian santai sambil tetap duduk.
" Bau aneh gak sih Dek? " tanya Auli mencoba mengendus bau dengan memutar mutar kepalanya.
" Oh Aku kentut barusan " santai kembali bocah kelas 5 SD tersebut masih asik bermain game.
" Oh..... " seru Aulia belum mencerna dengan baik ucapan Adiknya yang sudah bersiap berlari.
__ADS_1
" A... a... apa? hey Brian kembali gak?! dasar bandel! " teriak Aulia berlari mengejar Adiknya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam dengan tertawa.
" Bau nya sedap kan? mantap " teriak Brian berlari berkeliling di ruang tengah.
Tak henti Aulia berusaha mengejar Adik yang setiap hari selalu membuatnya jengkel karena ulah nakalnya. Brian masih terus mengitari sofa di ruang tamu, hingga Aulia harus naik ke atas sofa demi menangkap Adiknya.
Rena dan Dimas masih di dapur hanya menggelengkan kepala mendengar suara keributan yang sudah setiap hari terjadi. Sedangkan Aulia sudah berhasil menangkap Adiknya, yang semakin besar makin menuruni wajah Papinya itu. Tangan mulai menggelitik perut Brian hingga Adiknya berteriak minta ampun, namun tak di hentikan oleh Aulia karena masih geram.
" Heran, waktu kecil engga pernah kedengaran berantem. Tapi pas gede pintar banget bikin rumah mau runtuh " lirih Dimas bergumam masih setia menemani istrinya yang memasak dan tersenyum.
" Bukan berantem mas, itu kasih sayang saudara sama kaya Kamu juga Tyo " lembut wanuta dengan apron menempel pada tubuhnya, sembari menggoreng lauk untuk mereka sarapan.
" Engga usah panggil panggil nama Tyo deh, biasanya kalau Kamu udah panggil nama Bapaknya engga lama anaknya muncul " gerutu Dimas selalu jengkel dengan Sandra, keponakannya sendiri yang merupakan anak pertama dari Adiknya.
Rena hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar gerutuan suaminya. Sandra memang memiliki paras seperti Siska, namun sifat lebih dominan pada Tyo. Jahil dan ceplas ceplosnya terkadang membuat Dimas kualahan menghadapi keponakannya. Terlebih ketika Sandra sudah berkumpul dengan Aulia juga Dinda, semakin membuat Ayah empat orang anak itu menghela naas panjang tanpa henti.
" Dinda, Rendi turun! suruh makan! " teriak Aulia langsung di bungkam mulutnya oleh Dimas.
" Ih Papi bau bawang tahu gak tangannya, jorok banget " protes Aulia.
" Enak aja, Kamu tuh yang belum sikat gigi dasar jorok! " seru Dimas melotot ke arah putrinya yang langsung cengengesan.
" Iya juga " tawa kecil Aulia usai mencium bau mulutnya sendiri, dan membhat Dimas juga Brian bergidik jijik.
Tak lama usai Kakaknya berteriak, kedua bocah kembar itu sudah turun ke bawah menghampiri Papinya dan memeluk kedua kaki lelaki yang masih berdiri itu di kedua sisi.
" Papi, Aku ngantuk " rengek Dinda manja.
__ADS_1
" Ngantuk, ngantuk... cuci muka san terus makan habis itu bantu Kakak bersihin rumah " ucap Dimas selalu meminta anak anaknya bekerja sama membersihkan rumah mereka.
" Mami, Papi marah marah " teriak Dinda mengadu dan membuat Papinya gelagapan.
" Lah Papi ketakutan " ledek Aulia tertawa bersama tiga Adiknya.
" Udah ayo makan semuanya, cuci muka sama gosok gigi dulu " seru Rena menata makanan di meja makan.
Dimas hanya menjulurkan lidah ke arah empat anaknya, karena aduan mereka tak mempan pagi ini. Ketiganya langsung beranjak mengikuti keinginan Maminya, namun Brian langsung duduk di ruang makan karena sudah membersihkan diri pagi hari dan berjamaah bersama Papinya di luar.
" Morning Papi, morning Mami, morning juga Kakak Brian yang mirip sama Papi " terdengar suara melengking begitu di kenal Dimas mulai memasuki rumah.
" Datang lagi satu kan, Kamu sih pakai sebut nama Bapaknya " gerutu Dimas di balas senyuman oleh Rena dengan menyiapkan makan.
" Morning princess " sahut Brian tersenyum.
" Ih Kak Brian tahu aja deh kalau Aku ini princess " bangga Sandra genit dan duduk di meja makan.
" Kamu pagi pagi ngapain kesini? Mama Kamu engga masak? mau cari makan di sini? " tegus Dimas langsung menatap ke arah putri pertama Adiknya yang genitnya tak ketulungan.
" Aku tuh habis jalan jalan pagi Papi, terus mampir kesini. Soalnya kata Papa, Dia mau tidur dulu sama Mama juga Adik Keno " sahut Sandra dengan mulut maju maju, dan refleks membuat Dimas mengikuti gerak bibir keponakannya.
" Itu bibir biasa aja kalau ngomong ya, Kamu masih kelas dua loh. Kalau Kamu ngomongnya kaya gitu terus lama lama stroke Kamu " santai Dimas usai tersadar jika bibirnya tanpa sengaja mengikuti gerakan bibir Sandra sambil mleyot mleyot tidak karuan.
" Mas ih ngomongnya " pukul lirih Rena pada pundak suaminya dan tersenyum.
" Aku juga aneh banget lihat Dia ngomong Pi " sahut Brian juga tak sengaja ikut membuka mulut sambil menganggukan kepala berulang memperhatikan cara bicara Sandra.
__ADS_1
Dimas dan Brian yang lebih sering kompak, memang selalu bergidik ngeri melihat bibir Sandra saat berbicara dengan sok cantik. Terkadang juga bibir Sandra sengaja di katupkan paksa oleh Dimas ketika bicara tak ada hentinya, hingga membuat bibirnya ngilu.