
Stop plagiat!
Perempuan yang sudah minta tolong Bi Ijah mengambilkan sedikit nasi itu, benar benar tak bisa mempercayai apa yang terjadi saat ini. Ia merasa seakan semua doa dan harapannya terkabul bersamaan. Hadirnya seorang anak lagi, restu mertua, juga kasih sayang serta perhatian dari wanita yang terus menolaknya selama ini.
Meski sudah menikmati sarapan bersama anak anak juga suaminya, Ia tetap memakan masakan mertuanya dengan begitu menikmati. Setiap suapan terasa sangat nikmat hingga membuatnya tak bisa membendung lagi air mata bahagia dari kedua matanya.
" Mba, jangan nangis dong. Kalau engga enak jangan di makan " goda Tyo langsung mengembangkan senyum Rena dengan menyeka air mata.
" Mba cuma bahagia aja Dek, dan ini benar benar mirip banget sama masakan almarhumah mama, enak banget " sahut Rena kembali menitikkan air mata.
Dimas yang baru kembali dari mengantar Aulia, cepat menghampiri istrinya dengan menuntun Brian. Melihat istrinya menyeka air mata, membuat nya bertanya tanya sambil duduk di samping perempuan yang masih menikmati opor ayam.
" Dek, Kamu pasti di suruh Mama ngomong macam macam sama mba kan? " tuduh Dimas langsung ke Adiknya yang mengembangkan senyum.
" Mas, mas tuh mba Rena makan masakan Mama. Engga enak kali makanya nangis " senyum Tyo masih mengembang, membulatkan mata Kakaknya.
" Apa? Mama masak? Mama Kita? Mama Natalie? "tanya beruntun Dimas tak percaya dengan apa yang Ia dengar, menggelakkan tawa Adiknya.
" Ya iya, mau Mama mana lagi sih? ini tuh Mama khusus masak buat Mba, kesukaan Mba semua ini. Mama tuh masak dari jam empat tahu gak " ucap Tyo makin membuat lelaki dengan menatap ke makanan di meja semakin tak percaya.
" Engga ada racunnya kan Dek? " tanya Dimas mengaduk aduk opor di atas meja, yang langsung mendapat pukulan kecil dari istrinya tepat di lengan berotot Dimas.
__ADS_1
" Sakit sayang " gerutu Dimas melebih lebihkan.
" Enak, tapi kolestrol ini " tambah Dimas usai mencicipi sedikit makanan di piring istrinya.
Masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adiknya, dan bahkan Ia tahu jika Mamanya tak pernah masuk ke dapur, Dimas meraih ponsel dalam saku celana lalu menghubungi Natalie.
Tanpa menunggu lama, wanita yang sibuk dengan taman rumah Tyo itu langsung mengangkat telpon begitu nomor putra pertamanya muncul pada layar ponsel putih yang ada di meja kecil teras.
" Ada apa Nak? " sahut Natalie cepat dengan nada begitu lembut.
" Ma, Mama kan tahu Aku engga makan kaya gini, kenapa suruh Tyo kirim makan kaya gini sih? terus siapa yang mau makan? " goda Dimas memancing Mamanya meski harus di tatap tajam oleh istrinya karena berkata seolah tak menghargai usaha Mamanya.
" Ya suruh makan siapa yang mau, tadi kebetulan Bibi masak banyak makanya sekalian Mama kirim ke Kamu daripada sisa " kilah Natalie mengembangkan senyum Tyo karena ponsel sengaja Ia nyalakan pengeras suara.
" Tega banget sih Kamu, itu Mama yang masak soalnya itu kesukaan Rena dari kecil. Kalau memang Rena engga suka itu lagi mending kasih tetangga daripada di buang " sedih Natalie mengembangkan senyum ketiganya.
" Makasih ya Ma, ini Dimas pakai loud speaker loh jadi Rena dengar, dan ini lagi di makan sama Rena sama nangis " ucap Dimas membuat Natalie gelagapan dan langsung menutup sambungan telpon sepihak.
" Lah dimatiin " tambah lelaki yang masih memegang ponsel dengan tersenyum.
" Malu lah Mas Mama, kan gengsinya Mama gede banget " sahut lelaki dengan memangku keponakannya itu tersenyum.
__ADS_1
Mata masih menatap kotak berisi makanan di atas meja itu menyiratkan kebahagiaan yang begitu besar, senyum tak pernah hilang dari wajah tampan lelaki berbalut kaos berlogo adidas putih itu. Perasaan haru bercampur bahagia juga tak percaya begitu kuat mendera, Ia tak pernah membayangkan sedikitpun jika Mamanya bisa melakukan hal ini.
Wanita yang dulu begitu tega berkata kasar, menentang keras pernikahan juga menceraikan mereka, kini berubah bagai langit dan bumi. Bahkan seseorang yang tak pernah masuk ke dapur dan selalu memerintah itu, malah memasak untuk menantu yang dulu sangat Ia benci.
Kelembutan, kesabaran, ketulusan serta keikhlasan Rena benar benar mampu membuat keangkuhan Natalie seakan lenyap seketika. Wanita begitu keras kepala dan tak ingin mengalah, kini malah menunjukkan kasih sayang juga cinta meski merasakan malu.
Tyo ikut bahagia akan perubahan Mamanya yang mampu memberikan warna baru dalam kehidupan rumah tangga Kakaknya. Lelaki yang sudah berpamitan ke kantor itu, meninggalkan rumah Kakaknya dengan mata berkaca kaca melihat kebahagiaan terlukis jelas dari sepasang suami istri yang selalu menerima badai dalam rumah tangganya.
" Lah mas kok di habisin sih? kan Aku belum makan " memelas Rena melihat wadah berisi rujak serut buatan Natalie habis tanpa sisa.
" Maaf sayang, Aku pikir Kamu engga suka makanya Aku habisin " kilah Dimas baru pertama kali merasakan rujak serut.
" Jahat banget sih, itu kan Mama buatin Aku " ucap Rena memasang wajah begitu sedih memegang wadah berwarna pink sudah kosong.
" Sayang maaf, Aku engga tahu. Aku minta Mama buatin lagi buat Kamu ya " sahut Dimas dengan rasa bersalah.
" Engga usah " jengkel Rena mengemas semua wadah dan di bawanya ke dapur untuk di bersihkan, meninggalkan suami dengan tatapan bersalah juga frustasi karena sikap cepat jengkel istrinya.
" Marah lagi kan? baru juga ngomong udah marah lagi. Bakal diam setahun kalau gini " gumam lelaki dengan frustasi mengusap kasar wajah nya.
Tanpa menunggu lama, Dimas langsung menghubungi Natalie setelah keluar ke taman samping rumah bersama Brian. Ia menanyakan sisa rujak serut yang ternyata hanya dibuat satu wadah saja oleh Natali cuma untuk Rena.
__ADS_1
Dengan memelas, suami yang masih merasa bersalah dan tak ingin istrinya marah itu, meminta tolong seraya memohon pada Mamanya untuk membuatkan lagi. Walau harus mendengar omelan karena rujak yang dihabiskan sendiri, Dimas merasa lega karena Natalie bersedia untuk membuatkan lagi dan mengirim supir untuk mengantar.
Sementara Rena yang sudah sangat menginginkan menikmati segarnya rujak serut usai makan, terus menggerutu kesal dengan mengusap perut dan mengecap mulut kosong. Matanya terus terbayang nikmat dan segarnya rujak serut yang telah dihabiskan suaminya. Entah mengapa Ia benar benar merasa jengkel pada suaminya hanya karena makanan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ia memilih untuk menyibukkan diri membuat kue kering untuk anak anaknya di dapur, demi menghilangkan keinginannya.