Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 14


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYANG YANG MEMILIKI KISAH INI.


"Auli masih tidur, Mas?" terdengar sebuah suara mengejutkan Rena, menarik cepat tangan namun ditarik kembali ke atas pangkuan.


"Iya, dikamarnya. Kamu engga istirahat?" sahut Dimas santai, masih menatap ke layar TV.


"Engga bisa tidur, lagian juga engga ngantuk masa mau dipaksa sih?" jawab Tyo, berjalan mendekat ke arah dua orang duduk depan TV.


Matanya tertuju pada pangkuan kakaknya, dimana ada tangan kakak iparnya disana. Mulai bergumam dalam hati meyakini jika kakaknya sudah berubah dan mau menerima pernikahan telah dijalani selama berbulan bulan. Tanpa ingin mengganggu, Tyo memutuskan untuk melihat keponakannya dikamar.


"Aku lihat Aulia dulu ya, Mas!" pamit Tyo, memberikan waktu berdua kakaknya bersama sang istri.


"Iya, tapi jangan dibangunin kasihan. Lagian juga kalau udah bangun pasti minta gendong Maminya terus," santai Dimas menjawab seraya memperingatkan.


Tyo tertawa kecil mendengar perkataan Kakaknya, berpikir jika tak ingin di ganggu dalam kebersamaan kini terjalin. Mungkin saja jika Aulia terbangun, maka Rena akan kembali dikuasi dan membuat kakaknya tak bisa berduaan.


"Iya, Mas. Tenang aja," santai Tyo menahan tawa, berjalan pergi menuju kamar keponakannya.


Rena memperhatikan gerak-gerik adiknya, merasa semakin tak enak dan takut jika adik iparnya berpikir macam macam. Padahal tanpa sepengetahuan Tyo, semua ini dilakukan hanya sebatas tangan yang terluka saja tanpa ada maksud lain.


Dimas masih saja menggenggam tangan perempuan disampingnya, walaupun banyak alasan dibuat agar dapat meloloskan diri. Akan tetapi satu saja alasan yang dibuat tidak mampu mempengaruhi Dimas yang tetap menggenggam tangan sembari menonton olimpiade bulu tangkis di TV.

__ADS_1


"Bapak kelihatan banget kalau sayang sama Ibu ya, Bi?" kata Bi Lastri seraya menatap dari arah dapur.


"Hus, gak baik ngomongin majikan. Biarin aja mereka dengan urusan pribadinya, kita urus kerjaan kita aja." Bi Ijah menyangga ucapan agar Bi Lastri tak kebablasan karena sama sama mengetahui fakta yang ada namun takut ikut campur masalah yang bukan urusan mereka.


Sementara Dimas dan Rena duduk di ruang TV sembari menunggu jam makan malam, tiba tiba seorang bocah kecil berteriak dan membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Tampak Aulia dengan mata sayup juga rambut berantakan dalam gendongan om nya.


Mami.." seru Aulia manja, sudah berada di depan Maminya dengan kedua tangan mengarah ingin diraih dan dipangku. Secepatnya Dimas meraih tubuh putrinya agar mencegah Rena, agar tak semakin melukai tangan.


"Aulia sama, Papi. Papi juga mau pangku kami, masa Mami terus sih?" kilah Dimas meraih tubuh putri yang tak mau dengannya.


"Engga mau, mau sama Mami aja!" rengek manja Aulia.


"Sini sayang, ayo sama Mami." Rena meraih tubuh putrinya, memindahkan ke atas pangkuan. Tanpa sengaja menyenggol tangan terluka hingga Rena memercingkan kedua mata seakan menahan sakit akan senggolan dari putrinya, Dimas mengetahui itu kembali ingin meraih putrinya tapi tidak mau.


"Aku engga bangunin, Mas. Pas Aku masuk udah bangun duluan terus nyari mba, makanya Aku bawa kesini." Tyo menjawab dengan nada bersalah, takut sudah mengganggu kakaknya hingga tampak kesal.


Rena memangku putrinya seperti menggendong seorang bayi, dengan tangan kiri yang terluka ia menahan kepala Auli serta tangan kanan mengusap lembuy rambut putri yang mulai menunjukkan ekspresi manja.


"Auli engga boleh gitu, Mami capek. Sini sama papi!" ucap Dimas sedikit tegas, namun Auli menolak dengan menggeleng gelengkan kepala. Membuat tangan Rena tergesek oleh rambutnya, dan kembali harus memejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang teramat.


"Sakit ya?" tanya Dimas khawatir dengan memperhatikan ekspresi istri yang menahan sakit.

__ADS_1


"Engga kok, Mas. Kamu engga perlu khawatir," sahut Rena menenangkan Dimas meski memang ia tengah merasakan sakit pada tangannya.


Bi Ijah mengahampiri majikannya di ruang TV dan mengatakan jika makan malam sudah siap. Dengan senyum yang sopan, Dimas mengiyakan perkataan pembantunya tersebut.


"Kamu panggil istri kamu dulu, Dek. Kita makan bareng," ucap Dimas pada lelaki tetap berdiri di dekatnya.


"Iya, Mas. Aku tinggal dulu," jawab Tyo, meninggalkan ruang TV dan melangkah menuju kamar tamu untuk memanggil istrinya makan malam.


Sementara Rena menggendong Auli ke meja makan dengan Dimas mengikuti mereka dari belakang. Rena  meletakkan tubuh Auli untuk duduk di dekat papinya seperti biasa. Dimas memperhatikan tangan istri yang terluka menjadi sangat merah melebihi tadi dilihat. Dengan cepat Dimas meraih tangan Rena lalu membawanya ke dapur untuk mengguyur dengan air dingin.


Lelaki kembali khawatir itu, menyalakan air wastafel dapur dan meletakkan telapak tangannya tempat di bawah air untuk kemudian dialirkan ke atas tangan istrinya. Karena jika langsung di siram dengan air mengalir pasti akan terasa lebih menyakitkan lagi.


Rena memejamkan kedua mata dan tangan kanan tanpa sadar menggenggam kuat baju suaminya, enandakan jika ia merasakan sakit pada tangan. Dengan sigap Dimas pun meniup tangan Rena bergantian dengan ia mengucur lagi tangan menggunakan air namun lebih perlahan.


Tyo dan istrinya penasaran melihat Dimas dan Rena di dapur bersama. Keduanya berjalan menghampiri dua orang masih berdiri di depan wastafel dapur.


"Mas, mbak kenapa?" tanya Siska khawatir melihat tangan Rena yang sangat merah.


"Jadi ini, makanya tadi Mas bilang takut Auli bangun dan minta gendong mami nya?" tanya Tyo meluruskan pemikiran bodohnya, sempat mengira jika Dimas memang tidak ingin di ganggu untuk berduaan dengan Rena tanpa tahu bahwa tangan kakak iparnya itu terluka.


"Dek, kamu telfon dokter Bram suruh cepat kesini!" ucap Dimas khawatir, tanpa menjawab Tyo langsung bergegas mengambil handphone dan mulai menelfon Dokter keluarganya.

__ADS_1


"Mas, engga usah panggil Dokter cuma luka kecil kok." Rena meminta pada Dimas.


"Kamu nurut sama Aku sekarang, oke?! jangan protes lagi!" ucap tegas Dimas pada istrinya bersama tatapan tajam diberikan karena merasa sangat khawatir akan kondisi tangannya.


__ADS_2