Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Menantu dan mertua sama.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


Perlahan Dion melangkah dari tempatnya yang tadi bersandar di meja dapur menatap istrinya. Langsung tangan kokohnya melingkar pada perut Aulia dan mengejutkan istri tengah mengaduk minuman. Dion meletakkan dagu pada pundak istrinya, mencium aroma soft yang menempel pada hijab istrinya.


"Kok malah di dorong pakai itu sih?" protes Dion ketika Aulia mencoba memundurkan tubuh karena rasa geli pada perutnya, Aulia membulat mata terkejut saat tubuh belakang bawah mendorong tanpa sengaja milik suaminya dan cepat Aulia maju kembali.


"Kamu peluk peluk, aku kan geli jadinya refleks mundur" jawab Aulia malah membuat Dion tersenyum lebar mengingat apa yang terjadi semalam.


"Jadi mau kan dia sekarang, tanggung jawab dong" goda Dion sudah meletakkan kembali dagu pada pundak istrinya.


Keenakan bergelayut pada perut istrinya sambil angan terus berkembang akan hubungan sudah terjadi semalam, Dion dan Aulia tidak menyadari sepasang mata sudah mengamati dari tadi. Senyum pada kedua mata berlapis kacamata itu, tidak berhenti mengembang.


"Menantu sama mertua bakalan sama deh kayanya" batin Teddi tetap memperhatikan sambil senyum senyum sendiri.


"Auli semenjak nikah gak bisa berdiri sendiri ya?" goda Teddi tertawa kecil, cepat Dion melepas pelukan dari istrinya dan mundur sangat jauh.


"Mm, ka, kakek butuh sesuatu?" terbata Aulia bertanya pada pria masih berdiri di balik meja dapur sebagai sekat antara dapur dan meja makan.


"Kakek mau apa biar Dion ambilkan" wajah Dion kebingungan memerah terus mencoba mencari cari sesuatu di meja dapur, menyembunyikan wajah malu dan gugup.


Teddi berjalan masuk ke dapur tetap memasang wajah senyum, ia meraih gelas di kabinet atas lalu mengusap ujung kepala Aulia. Teddi mengisi gelas bening tinggi di tangannya dengan air putih hangat pada dispenser dekat lemari es, tak jauh dari Aulia berdiri.


"Keturutan deh punya suami kaya papi" bisik Teddi ke arah Aulia setelah mengambil minum, memaksakan senyum lebar pada cucu tengah malu malu.


"Udah lanjutin lagi, kakek cuma mau ambil minum" ucap Teddi menggoda lalu beranjak pergi sambil tertawa lirih sendiri.

__ADS_1


"Ah, malu banget" gumam lirih Dion bernapas lega sambil menundukkan wajah.


"Kamu sih jadinya malu banget kan aku" lembut Aulia berkata sambil menatap suaminya.


"Aku juga malu sayang" jawab Dion masih tersisa wajah gugup dalam ekspresi wajah nya.


"Sayang.." seru Aulia menahan tawa, terasa asing dalam telinganya.


"Ya kan belajar, masa mau panggil Aulia terus sih? kan kita udah nikah jadi harus panggil sayang dong, kamu juga harus panggil sayang kan kata papi gak boleh panggil suami pakai nama" panjang lebar Dion berucap pada istri tengah meletakkan cangkir di atas nampan.


"Iya iya, maafin aku ya. Engga panggil nama lagi deh mulai sekarang" sahut Aulia, hendak beranjak memberikan minuman untuk kedua kakeknya.


"Engga apa apa, engga usah minta maaf kan emang belum terbiasa. Tapi kamu mau panggil aku apa?" jawab Dion seraya bertanya penasaran.


"Belum tahu, entar aja dipirin. Aku mau antar minum dulu buat kakek" santai Aulia menjawab sambil melangkah membawa nampan berisi teh dan camilan.


Selama menunggu Aulia kembali, Dion menyiapkan beberapa bahan untuk membuat camilan. Terbiasa memasak bersama papa nya ketika hari minggu, membuat Dion sama sekali tak kesusahan berada di dapur. Laki laki hobi bermain basket itu, mulai mengupas bahan untuk membuat risoles dan omelet.


Aulia tengah meletakkan dua cangkir teh pada meja ruang TV, di tatap oleh Teddi dan Erwin. Keduanya memperhatikan seksama Aulia yang dulu sangat cerewet dan menggemaskan. Seakan baru kemarin mereka sibuk berebut untuk memanjakan dan membelikan Aulia ini dan itu, selalu menghadiahkan camilan juga es krim. Tapi kini bocah kecil itu sudah dewasa dan menikah. Walaupun tidak pernah kehilangan sosok Aulia yang manja juga cerewet, dan selalu bedebat dengan papi juga adik adiknya.


"Auli, kakek pengen cicit deh, sampaikan ke suami kamu ya" goda Erwin tiba tiba, cepat Aulia menoleh.


"Kakek, pengen cicit udah kaya pengen gorengan aja tinggal bikin langsung jadi" sahut Aulia tertawa, disusul tawa kedua kakeknya.


"Tau gak Win, cucu menantu kita tuh engga jauh beda sama mertuanya. Masa aku tadi ke dapur lagi peluk peluk, sama persis kaya Dimas ke Rena" cerita Teddi, di simak oleh Erwin menggelengkan kepala tersenyum.

__ADS_1


"Kakek ih rumpi aja deh, kan malu kek" ucap Aulia malu malu malah di tertawan kedua laki laki tengah duduk dengan laptop masih menyala.


"Bukan rumpi lah, kakek seneng lihatnya" jawab Teddi menatap wajah cantik nan segar cucunya.


"Tapi kamu pintar juga cari suami, ganteng engga jauh beda sama kakek" tambah Erwin di tertawakan Aulia dan Teddi.


"Kakek kakek nya Auli itu lebih ganteng dari siapapun, yang kedua baru papi, terus suami, habis itu Brian sama Rendi. Itu urutan ganteng di hati Auli" jawab Aulia tersenyum menggemaskan dalam wajah di pasang sok imut.


Aulia menghampiri kedua kakeknya dan mencium sisi wajah kedua kakek sudah mencubit pipinya bersamaan. Wajah terlihat semakin cantik dan bercahaya, masih terlihat menggemaskan hingga saat ini. Setelah bercanda sebentar, Aulia berpamitan untuk kembali ke dapur membuat adik adiknya camilan. Matanya terkejut melihat suaminya sudah sibuk dengan mengenakan celemek.


"Kamu bisa masak?" tanya Aulia meletakkan nampan di meja dapur dekat suaminya.


"Bisa dong" bangga Dion tetap menunduk menggulung risoles yang siap untuk di goreng.


"Udah ganteng, baik, rajin sholat, jago masak, gemesin banget sih kamu" ucap Aulia memasang ekpresi gemas ke arah Dion yang langsung tersenyum lebar.


"Makin cinta dong?" goda Dion melirik istrinya.


"Ya harus, masa engga sih? kan suami aku" jawab Aulia santai.


"Mau apa?" tanya Aulia ketika Dion menyodorkan sisi wajah ke hadapannya.


"Ya di cium lah kalau makin cinta, kan udah sah kita" senyum Dion sambil berucap.


"Dasar genit" ucap Aulia mencubit pipi suaminya.

__ADS_1


Aulia menunggu laki laki tengah serius memasak itu dengan tatapan kagum. Sebuah hal baru yang mengejutkan bagi Aulia mengetahui jika suaminya bisa memasak. Sepertinya, Aulia banyak menemukan kejutan setelah menikah. Dari Dion yang cool, namun menjadi sangat genit dan banyak bicara. Dion yang semakin perhatian dengan menunjukkan perasaan terang terangan. Dion yang sangat mudah membaur bersama keluarganya.


Semua hal yang di temukan setelah menikah, membuat Aulia semakin mengagumi juga mencintai suaminya. Aulia percaya jika Dion adalah jodoh yang dikirim Allah hanya untuk dirinya. Bahkan setelah menunggu bertahun tahun lamanya, Dion tetap setia pada perasaan yang semakin mendalam pada seseorang yang kini menjadi istrinya.


__ADS_2