
STOP PLAGIAT!
Keluarga yang sudah di hubungi perawat, langsung berbondong bondong datang ke rumah sakit dengan bahagia. Sampainya di sana, mereka melihat Dimas masih duduk bersama Rena. Namun mereka merasa aneh karena malah Rena yang mencoba mengusap perut juga punggung suaminya.
" Ini apa apaan sih Kamu Dim? istri mau lahiran kok sempat manja " tegur Natalie langsung berdiri di hadapan keduanya.
" Lah Kamu kenapa pucat banget?! " tambah kembali Natalie cemas melihat wajah putranya.
" Perut sama punggung Aku sakit Ma " rintih Dimas tak tahan lagi dengan sakitnya.
Mendengar ucapan Dimas, bergegas Erwin dan Tyo mengangkat tubuh lelaki terlihat lemah itu, namun ditolak oleh Dimas yang masih ingin menemani istrinya melahirkan.
" Mas periksa dulu ya, biar Mama yang nemenin Aku " coba Rena membujuk suaminya yang keras kepala.
" Engga mau! " singkat tegas Dimas.
" Jangan keras kepala dong Mas, kasihan tuh mba Rena pasti sekarang juga lagi sakit malah harus rawat mas " seru Tyo masih memegang lengan Kakaknya.
" Tapi Kamu beneran mau lahiran sekarang nak? kok kaya baik baik aja? engga sakit? " tanya Natalie ke arah menantunya yang seakan tak terlihat seperti orang hendak melahirkan.
" Aku engga sakit Ma cuma mulas biasa sama punggung aja sedikit tegang " jelas Rena merasa aneh, karena tadi sempat merasakan sakit namun malah berangsur ringan.
Natalie membawa Rena kembali ke ruangan periksa untuk memastikan sendiri apakah benar jika menantunya sudah mengalami pembukaan. Begitu masuk, masih terlihat Dokter dan perawat yang tak berani meninggalkan ruangan, mengingat jika yang akan melahirkan adalah cucu pemilik rumah sakit. Segera Dokter memeriksa kembali perempuan yang lebih dulu di bantunya berbaring, dan menyatakan jika sudah pembukaan lima usai Ia memeriksa.
Mendengar ucapan Dokter, Natalie dan Rena semakin bingung karena Rena sedikitpun tak mengeluh sakit seperti Siska. Karena biasanya proses pembukaan adalah masa paling menyiksa sebelum melahirkan.
" Kamu benar benar engga ngerasain sakit sama sekali nak? " heran wanita yang masih berdiri di samping ranjang dimana menantunya masih terbaring, dan dijawab gelengan oleh Rena.
Dokter menyarankan agar Rena tak kembali keluar dan hanya berjalan jalan di dalam saja, karena biasanya pembukaan akan lebih cepat.
Diluar, Dimas semakin merintih kesakitan hingga membuat Dedrick, Tyo, Erwin dan Teddy tak sanggup melihatnya. Keempatnya pun mencoba membujuk laki laki yang sudah memiringkan tubuh dengan tetap duduk tersebut, agar mau di periksa oleh Dokter.
" Dek, antar Mas ke dalam " pinta Dimas lirih masih menyandarkan kepala di kursi samping dan tangan memegang perut.
Tyo menatap ke arah ketiga pria di sampingnya seakan ingin bertanya mengenai permintaan Dimas. Dengan isyarat anggukan mereka, Tyo perlahan membantu Kakaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Terus memegangi perut semakin mulas, Dimas berjalan sambil mengernyit menahan sakit. Sampainya di dalam, Natalie sudah membantu menantunya berjalan di sekitar ranjang demi mempercepat proses pembukaan.
" Mas, Aku engga apa apa. Kamu bisa periksa sekarang " tak tega Rena melihat suaminya terlihat begitu tersiksa.
Hanya gelengan kepala sambil wajah menahan sakit ditunjukkan Dimas, mengisyaratkan tak ingin beranjak sedikitpun meninggalkan istrinya. Ia memilih untuk duduk di kursi yang di ambilkan Adiknya, dan diletakkan tepat di samping ranjang.
****
Setengah jam berlalu, Rena merasakan sesuatu semakin kuat menekan keluar dari rahimnya, dan segera dibantu Dokter juga Natalie naik ke atas ranjang perlahan. Melihat hal itu, Dimas seketika panik tak tahu harus berbuat apa karena punggung dan perutnya tak bisa bekerja sama, dan malah semakin menjadi sakitnya.
Natalie tak bisa meninggalkan Dimas juga Rena di dalam ruangan tersebut, karena tak tega melihat putranya sudah berkeringat dan semakin terlihat kesakitan. Wanita yang sabar menemani menantunya tersebut, memilih tetap tinggal hingga kelahiran cucunya.
Masih duduk di samping ranjang, Dimas memegang tangan kanan Rena, sedangkan Natalie berdiri di samping kiri ranjang sambil memegang tangan menantunya.
Seorang Dokter dan perawat sudah berada tepat di bawah Rena membantu proses kelahiran anaknya. Dengan terus memberi aba aba, Dokter juga memberikan semangat pada perempuan yang berusaha sekuat tenaga mengejan, sambil berpegangan kuat pada tangan suami juga mertuanya.
Mendengar suara dan wajah istrinya, seketika laki laki masih menahan sakit tersebut menyembunyikan wajah di atas ranjang. Ia tak ingin melihat karena perasaan tak tega. Mata Ia pejamkan kuat sembari menguatkan dirinya sendiri. Tekad untuk menemani istrinya melahirkan masih begitu bulat walau perasaan tak tega terus menghampiri.
Sedangkan Natalie sendiri begitu kebingungan, antara siapa yang harus Ia perhatikan, karena Dimas sama sekali tak mengangkat kepala membuatnya khawatir.
" Satu lagi Bu " seru Dokter, mengejutkan Natalie membulatkan mata.
Dimas sengaja meminta istrinya untuk merahasiakan tentang kehamilan kembarnya. Karena ingin memberikan kejutan pada seluruh keluarga, yang pastinya akan sangat bahagia. Dalam keluarga Dimas memang memiliki faktor genetik kehamilan kembar. Pasalnya dulu Dimas pun lahir memiliki saudara kembar, namun tak bisa di selamatkan satunya dan meninggal satu jam usai dilahirkan.
" Kenapa engga di keluarin bareng aja sih? " seru Dimas takkan lagi sanggup melihat istrinya berjuang begitu keras.
" Diam deh Dimas! " tegur keras Natalie, masih memegangi Rena yang sudah berusaha kembali mengejan sesuai aba aba Dokter.
Tega tak tega Dimas harus melihat ke arah istrinya yang hampir kehabisan napas karena melahirkan. Matanya mulai berkaca kaca mengamati wajah perempuan yang begitu dicintainya.
" Sayang, Kamu bisa demi anak Kita. Kamu kuat " seru Dimas menitikan air mata tak kuasa melihat istrinya.
Perut masih terasa sakit, Ia tahan dan beranjak dari duduk melingkarkan tangan kiri di atas kepala istrinya, dan tangan kanan kembali di genggam kuat oleh Rena.
Keringat bercucuran dari wajah cantik perempuan yang terus berusaha membantu anaknya melihat dunia, hingga terdengar kembali suara tangis bayi seketika melemahkan tubuh Rena.
__ADS_1
Dalam tangis, Dimas mendekatkan wajah di atas wajah istrinya dan mencium lembut kening perempuan dengan napas tak beraturan.
" Terimakasih sayang, Aku cinta Kamu " sendu Dimas di balas senyum dalam wajah lelah Rena.
Dua orang perawat membawa kedua anak yang baru saja lahir ke arah Rena untuk menunjukkannya.
" Selamat Bu Rena, anaknya laki laki sama perempuan ya Bu " ucap perawat menunjukkan bayi masih terdapat sedikit darah tersebut ke arah Rena.
Natalie begitu bahagia melihat bayi kembar yang di gendong perawat, namun Dimas malah melemah melihat kedua anaknya dengan darah. Perut terasa di aduk memaksanya berlari ke wastafel dalam ruangan, mencoba mengeluarkan apa yang tak bisa keluar.
" Mas..." seru Rena lirih, sudah tak memiliki tenaga lagi, namun masih bisa mengkhawatirkan suaminya.
" Ngotot mau jagain tapi malah ribet sama diri sendiri " gerutu Natalie melihat putranya seraya menggelengkan kepala.
" Selamat ya nak, terimakasih sudah memberi kebahagiaan lebih untuk Kami " tulus Natalie mengusap lembut rambut menantunya dan mencium kening perempuan yang hanya bisa membalas dengan senyuman.
Walau hanya sejenak melihat wajah kedua cucu yang hendak di bersihkan, Natalie begitu bahagia mendapatkan tiga cucu sekaligus dari kedua menantunya.
Begitu ingin kembali dan berbalik tubuh, mata Dimas membulat hebat melihat banyaknya darah yang dikeluarkan istrinya. Tubuh sudah lemas karena mual, semakin melemah lagi hingga membuatnya mengalami nasib sama seperti Tyo.
" Dimas! " teriak Natalie mengejutkan Rena dan mencoba melihat suaminya sudah tersungkur di lantai.
Wajah lelah langsung berubah kecemasan dari Rena, melihat laki laki yang dicintainya tersungkur tak berdaya di atas lantai. Seorang perawat langsung berlari keluar mencari pertolongan agar membantu Dimas ke ruang lainnya.
" Apa Pak Dimas juga menderita hemophobia Bu ? " tanya Dokter masih menangani Rena, mengarahkan sejenak pandangan pada wajah Natalie.
Senyum paksa dikembangkan Natalie karena merasa kedua anaknya tak ada bedanya. Sama sama pingsan dan membuat malu, karena tubuh besar dua anak nya hanya besar saja tanpa nyali.
" Udah engga usah ditanya, paling juga kejang terus pingsan " santai Tyo melihat perawat berlari, dan membuat Teddy beranjak hendak mencari tahu.
Gelengan kepala tak percaya juga tawa di kembangkan keempat laki laki yang tadinya terlihat cemas menunggu.
" Rasain, emang enak " batin Tyo senang memiliki kesempatan untuk membalas perlakuan Kakaknya yang tak henti meledek saat Ia pingsan.
Dua perawat dengan brankar dorong sudah terlihat datang dan cepat memasuki ruangan bersalin, lalu keluar membawa tubuh Dimas yang makin membuat tawa keempat laki laki di depan tersebut pecah lebih hebat. Bagaimana tidak, laki laki dengan tubuh tegap yang selalu kuat menghadapi segala ujian, malah melemah hanya karena darah. Padahal Ia sudah begitu bangga mengatakan takkan mengalami nasib seperti Adiknya, tapi malah lebih parah karena harus menanggung rasa sakit istrinya ketika pembukaan hingga melahirkan.
__ADS_1