
Pukul 21.00 Rena masih terjaga menunggu Dimas di ruang TV terus mengganti ganti chanel TV, namun tak menemukan yang menurutnya bagus.
"Mas Dimas kenapa engga pulang pulang ya?" batin Rena mulai merasa mengantuk dan jenuh.
"Bu, Ibu kalau sudah mengantuk lebih baik tidur di dalam kamar saja, di sini dingin Bu," seru bi Ijah mendekati Rena mulai terlihat sayu.
"Engga bi, aku belum ngantuk Bibi istirahat saja ini sudah malam." jawab Rena dengan menyunggingkan senyum.
"Iya Bu, kalau gitu Bibi ke belakang dulu ya Bu." sopan Bi Ijah berpamitan.
"Iya Bi." jawab Rena lalu merebahkan kepala di sandaran sofa.
"Gini kalau ada Auli kan enak, tapi kenapa seharian Auli engga telfon ya?" gumam Rena dalam hati, merasa rindu pada putri kecilnya.
Rena mengambil ponsel dan ingin menghubungi Siska, namun ia urungkan karena jarak waktu lebih cepat di sana, yang Rena pikir mereka juga sudah tidur. Ia pun kembali mengganti ganti chanel TV, tanpa terasa perlahan tertidur dengan sendirinya. Masih dengan posisi duduk sambil kepala bersandar pada sandaran sofa, Rena terhanyut dalam rasa kantuk.
Tepat pukul setengah dua belas, Dimas baru sampai di rumah dan mulai masuk. Berjalan sembari memijat tengkuknya, karena merasa sangat lelah. Ia terkejut ketika melihat istrinya tertidur sambil duduk di ruang TV. Lelaki sudah mengendurkan dasi itupun mulai meletakkan tas di meja ruang TV perlahan, kemudian membuka jas dan melepas dasinya.
Dua kancing bagian atas kemeja yang tengah ia kenakan juga dibuka. Melangkah pelan ke arah Rena dan mulai bergumam lirih sembari tersenyum.
__ADS_1
"Sudah di bilang jangan tunggu." gumam Dimas sambil menyunggingkan senyum.
Hati hati duduk di samping Rena dan menatap lekat wajah cantik di sampingnya, serta mengelus pipi lembut perempuan tetap terlelap. Dengan terus menatap wajah istrinya Dimas menggigit kecil bibir bawah, seraya berkata pelan.
"Kenapa kamu bisa buat aku jadi gini sih Ren?" lirih Dimas, merasa ada yang berbeda dari dirinya.
Dirinya yang dulu tidak pernah merasakan perasaan seperti apa yang kini ia rasakan, meski dengan mama kandung Auli. Seakan perasaannya pada Rena baru sekali dirasakan dalam hidupnya, dan itu hanya untuk Rena seorang.
Perlahan lelaki tengah jatuh cinta itu, mengangkat tubuh ramping istrinya untuk memindahkan ke kamar mereka. Rena sedikit menggeliat ketika merasa tubuhnya ada yang mengangkat, tanpa membuka mata sama sekali karena rasa kantuk terlalu kuat. Dengan pelan Dimas menaiki anak tangga agar istrinya tak terbangun, hingga sampai di kamar Dimas mulai merebahkan tubuh Rena lalu menyelimuti dengan tetap berhati hati.
Setelah merebahkan istrinya, Ia meninggalkan istrinya yang terlelap, menuju kamar mandi untuk sekedar menyegarkan diri dan menghilangkan rasa lelah. Mulai mengguyur tubuh dengan air hangat shower, Dimas mengangkat kepala sambil mengarahkan rambut ke belakang, menikmati kesegaran dalam rasa lelah.
***
Pagi hari Rena terbangun, merasa sedikit berat di bagian perut karena tangan Dimas yang kekar melingkar kuat pada perutnya semalaman. Hendak turun dari ranjang, namun ingat atas permintaan suami yang baru saja bisa membalas cintanya agar ia selalu berada di samping Dimas saat laki laki itu membuka mata.
Rena membalikkan tubuh, hingga kini berhadapan langsung dengan wajah Dimas. Tangan lembut Rena membelai wajah suami yang mulai di tumbuhi bulu bulu halus kembali. Wajahnya terukir senyum melihat wajah suami yang ia cintai dari pertama kali bertemu. Perasaan tidak percaya jika suaminya telah membalas perasaan tulusnya, membuat Rena terus mengusap wajah Dimas memastikan jika semua yang ia alami bukanlah mimpi.
Dimas mulai menggeliatkan kepalanya, merasakan sedikit geli ketika jari lembut mengenai telinga, karena telinga adalah salah satu daerah paling sensitif Dimas, namun tidak di ketahui oleh Rena. Kedua matanya terbuka perlahan, terbangun dan melihat wajah Rena yang ada di hadapannya merekah kan senyum Dimas.
__ADS_1
"Pagi sayang," seru Dimas dengan senyum yang terlihat sangat tampan.
"Pagi mas." sahut Rena mencium lembut kening suaminya malu malu, membuat Dimas gemas dan memeluknya erat.
Dengan hari yang mereka awali dengan bahagia itu, membuat mereka sama sama saling merasakan besarnya perasaan terhadap satu sama lain. Hari ini Rena mulai masuk magang lagi, karena merasa tangannya sudah baikan. Sedangkan Dimas juga harus ke kantor yang sama dengan Rena, namun karena tak ingin Rena tahu, Dimas pun memutuskan untuk ke kantor lebih siang.
Rena memilih menggunakan motor daripada harus merepotkan Dimas yang mungkin masih lelah karena lembur semalam. Ia juga tidak ingin terlalu manja untuk diantarkan oleh supir.
Berpamitan dan pergi ke kantor, Rena melajukan motor kesayangannya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di kantor, sudah ada Anton yang berdiri di sebelah motor besar miliknya dan meletakkan helm di bagian besi pegangan belakang.
"Pagi mas Anton," sapa Rena pada pria tinggi kurus berkulit sawo matang yang menatapnya dari ia tiba.
"Pagi Ren, kamu udah sehat kok udah masuk?" tanya Anton sambil berjalan ke arah Rena.
"Udah mas," sahut Rena berjalan beriringan bersama Anton menuju lift yang ada di tempat parkir untuk menuju ruangan mereka.
Semua karyawan yang melihat Rena dan Anton pun mulai berbisik, jika gosip tentang Anton berpacaran dengan anak magang itu memang benar. Tanpa Anton dan Rena sadari ternyata dengan seringnya Rena membantu Anton dalam pekerjaan, itupun menimbulkan sebuah gosip tentang hubungan mereka berdua. Anton memang memiliki perasaan pada Rena dari awal ia bertemu Rena di kantor, hingga sejak itu Anton lebih sering meminta tolong pada Rena untuk membantu pekerjaaan nya agar bisa dekat dengan Rena.
Tapi Rena tidak sama sekali mengetahui perasaan Anton, dan menganggap jika membantu Anton adalah sebagian dari tugasnya saat magang. Gosip terlalu cepat berkembang, namun baik Anton ataupun Rena belum mengetahui hal itu, apalagi Dimas. Namun bisa saja gosip tersebut menjadi badai besar dalam kehidupan rumah tangga Rena dan dimas nanti.
__ADS_1