Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 152


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Rena mengusap lembut kepala Aulia sambil tetap menggendong tubuh Brian yang juga menatap ke arah Papinya.


" Sayang, udah ya engga boleh nangis " lirih Rena penuh kasih sayang membelai rambut Aulia agar putrinya tenang.


" Iya Mami " sahut Aulia melepas pelukan dari Papi yang masih memiringkan tubuh di sofa.


" Brian peluk Papi juga dong " ucap Dimas mengarahkan kedua tangan ke arah Brian usai menarik putrinya duduk di deoan perut nya.


" Jangan mas, perut Kamu masih sakit " ucap Rena menghampiri suaminya bersama Brian.


Lutut Ia tekuk di atas lantai sambil mengarahkan tubuh Brian mendekat pada Papinya. Bocah kecil dengan polos memeluk serta mencium pipi Dimas yang memeluk ketiga orang paling berarti dalam hidupnya.


" Maaf Bu, ini Dokter Bram sudah datang " sopan Pak Adi menyadarkan Rena yang masih di peluk suaminya beserta kedua anak mereka.


" Oh iya Pak, terimakasih ya " sahyt Rena berdiri dan menghamoiri Dokter pribadi suaminya lalu mempersilahkan untuk mulai memeriksa.


" Pak Adi, bisa minta tolong lihat di kamar tamu ada bau apa gak? soalnya Bapak mual mual masuk kamar tamu takutnya ada bngkai hewan atau apa " pinta sopan Rena pada supir rumah nya.


" Baik Bu, Saya lihat dulu " sahut Pak Adi membungkuk sedikit.


" Sekalian minta tolong Bi Ijah bikin minum ya Pak " tambah Rena kembali sopan.


" Baik Bu " pungkas Pak Adi bergegas ke dalam untuk menghamoiri Bi Ijah sebelum memeriksa kamar tamu.


Rena duduk di samping Aulia yang sedari tadi sudah menunggu Dokter memeriksa Papinya dengan harap harap cemas. Tangan lembut dengan sifat ke ibuan itu, mulai mengusap lembut punggung Aulia agar putrinya tak terlalu khawatir.

__ADS_1


" Suami Saya sakit apa ya Dokter? " tanya Rena setelah Dokter melepas stetoskop usai memeriksa Dimas.


" Pak Dimas baik baik saja kok Bu, tidak ada masalah kesehatan apapun " jawab Dokter Bram memasukkan stetoskop ke dalam tas gitam nya.


" Tapi kenapa suami Saya mual mual? apa itu tidak masalah? " masih khawatir Rena akan kondisi suaminya.


" Tidak Bu, mungkin hanya mencium bau karena Pak Dimas sangat sensitif terhadap bau. Tapi kalau Ibu masih khawatir, bisa dilakukan pemeriksaan lebih dalam di rumah sakit " jelas Dokter Bram mengembangkan senyum.


" Ini Saya hanya memberikan vitamin saja buat Pak Dimas, juga obat penghilang mual " tambah Dokter Bram memberikan obat pada Rena yang Ia letakkan di atas meja.


" Baik Dokter, terimakasih " sahut sopan Rena.


Ia mempersilahkan Dokter Bram untuk minum lebih dulu, karena sudah di siapkan oleh Bi Ijah. Dengan Dimas mulai sedikut mengibrol untuk menemani Dokter Bram sambil tetap merebahkan diri di sofa.


" Aku buatin bubur dulu ya biar bisa minum obat " ucap Rena menghampiri suaminya usai mengantar Dokter Bram keluar.


" Aku mai mi instan, tapi kaya di gambar nya " manja Dimas mengejutkan Rena.


" Minta Pak Adi beli sayang, pokoknya Aku mau mi instan " rengek manja Dimas menarik lengan Istrinya.


" Ya udah, Aku minta tolong Pak Adi beli dulu ya " sahug Rena mengembangkan senyum puas suaminya.


Rasa masih khawatir mengenai perubahan suaminya, semakin menjadi kala suaminya meminta lagi makanan yang sellu Ia larang. Bahkan semua makanan yang selalu Ia hindari terus Ia makan tanpa henti, dengan menginginkan ini itu lalu melahapnya sendiri hingga habis.


Rena menghampiri Pak Adi yang masih sibuk mencari sumber bau yang membuat majikannya mual, namun tak menemukan apapun meski sudah Ia periksa menggunakan senter di setiap kolong. Ia meminta Pak Adi agar berhenti mencari, dan meminta tolong agar ke swalayan terdekat untuk membelikan mi instant suaminya dengan beraneka rasa yang Ia minta untuk di beli masing masing dua, agar suaminya bisa memilih yang Ia mau.


Dengan ditemani oleh Aulia juga Brian, Dimas masih sempat mengeluarkan candaan pada kedua anaknya meski tubuhnya terlihat masih lemas.

__ADS_1


***


20 menit Pak Adi sudah kembali membawa mi instan yang di minta majikannya. Dan langsung di keluarkan oleh Rena di atas meja agar suaminya bisa memilih sendiri apa yang Ia mau. Dengan menunjuk dua bungkus mi instant berwarna hijau rasa soto, Dimas kembali meminta agar di buat persis seperti di gambar kemasan.


" Papi, katanya makan itu engga sehat? kok Papi minta itu? " tanya Aulia.


" Iya sayang, tapi Papi mau coba sekali kali. Kamu sama Adik susul Mami sana terus makan sama Bi Lastri ini udah malam loh " sahut Dimas mengembangkan senyum.


" Papi engga apa apa Aku tinggal sendiri? " tanya Aulia masih khawatir.


" Engga apa apa sayang, nanti kalau Papi sakit pasti teriak panggil Kamu deh " ucap Dimas tersenyum.


Sementara Dedrick dan Teddy menceritakan tentang kecurigaan mereka akan mental Dimas pada Erwin, hingga membuat mertua yang duduk di teras sambil menikmati kopi itu merasa iba pada nasib menantunya.


Erwin merasa bersalah telah mencoba membawa Rena pergi, tanpa Ia ketahui jika menantunya mengalami guncangan mental akibat peristiwa yang Ia alami.


Erwin juga mulai mengembangkan rasa khawatir akan nasib putri juga anak anak nya, jika sampai Dimas benar benar menjadi tidak waras. Betapa hancur nya Rena jika sampai suami nya harus menjadi gila karena mental yang tak sanggup menerima semua keadaan. Memikirkan hal itu, benar benar membuat Erwin takut dan tak sanggup membayangkan.


Di rumah, Bi Ijah yang merasa aneh melihat majikannya memasak mi instan mulai menumbuhkan rasa curiga dalam benaknya.


" Jangan jangan Bapak ngidam Bu " celetuk Bi Ijah merasa aneh akan segala permintaan majikannya, dan membuat Rena terkejut.


" Maksud Bi Ijah? " tanya Rena menghentika tangan nya yang tengah membuka bumbu.


" Maaf ya Bu, mungkin Ibu sekarang sedang hamil tapi Bapak yang ngidam " jelas Bi Ijah hati hati.


" Emang bisa Bi? tapi Aku engga ngerasa tanda tanda hamil Bi " seru Rena menatap asisten rumah tangga nya.

__ADS_1


" Bisa Bu, dulu ada tetangga Bibi di kampung juga gitu sukanya minta aneh aneh, padahal istrinya engga merasa hamil. Eh ternyata pas udah empat bulan perutnya kelihatan dan baru sadar kalau dia hamil Bu " jelas Bi Ijah menimbulkan tanya pada benak Rena.


Memang Ia terakhir mendapat tamu bulanan ketika dua hari suaminya pergi ke Belanda, dan setelah itu sampai hari ini Ia sama sekali belum mendapat tamu bulanan lagi. Namun karena memang pernah mengalami hal itu dan di bawa ke Dokter waktu di Paris, Ia tak curiga sama sekali karena kala itu Dokter mengatakan jika dirinya hanya merasa stres dan kelelahan bekerja saja. Tapi mendengar ucapan Bi Ijah, Rena kembali berpikir mungkin saja yang dikatakan asisten rumah tangga nya benar dan berniat melakukan tes esok pagi karena Ia masih memiliki alat tes kehamilan di kamar, yang sengaja Dimas belikan agar istrinya bisa cepat melakukan tes saat terlambat datang bulan saking ingin nya Dia memiliki anak kagi.


__ADS_2