Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 185


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Dua minggu berlalu usai Siska melahirkan, dan Rena sekeluarga sengaja di boyong oleh Natalie kerumah Tyo. Walaupun tak setuju, tapi Dimas hanya bisa pasrah, karena memang kelahiran anak ketiganya semakin dekat dan pekerjaan kantor harus secepatnya Ia selesaikan. Lagipula juga ada yang membantu istrinya merawat Aulia juga Brian.


Walaupun dirumah ada Bi Lastri, tapi Rena tak pernah angkat tangan mengurus kedua anaknya dengan perut besar. Sengaja Dimas setiap hari lembur di kantor dan bahkan tak pulang, agar Ia bisa bebas dari pekerjaan dan menemani istrinya lebih lama nanti.


Natalie oun tak tega harus meninggalkan Siska, karena urusan bisnis kedua orangtuanya diluar negri, memaksa mereka secepatnya kembali dari satu minggu lalu.


Dengan memboyong Rena juga kedua anaknya kerumah Tyo, paling tidak Natalie bisa memberikan perhatian kepada kedua menantunya.


Erwin sudah tiba di Indonesia dari kemarin dan menginap di rumah Dedrick bersama dengan Teddy, sesuai permintaan Natalie yang ingin tidur bersama kedua cucunya setiap malam, dan rela mengusir suaminya sendiri.


" Nak, Kamu tidur aja biar Mama yang tunggu Dimas " ucap Natalie menghampiri Rena di ruang tamu.


Memang sudah cukup larut saat ini, namun Dimas belum juga pulang dari kantor. Sudah hampir satu jam Rena menunggu dengan sabar di ruang tamu, yang katanya Dimas akan segera pulang pukul 22.00 tadi melalui sambungan telpon.


" Engga apa apa Ma, biar Rena yang tunggu mas Dimas. Mama sebaiknya istirahat saja ini sudah malam " lembut Rena ke arah mertuanya.


" Ya udah Kita tunggu sama sama ya " usul Natalie lembut membelai rambut panjang Rena yang tengah tergerai indah.


Natalie meminta Rena untuk menyandarkan kepala pada pangkuannya, karena tak tega melihat menantunya yang tengah hamil besar harus terus duduk. Belum lagi seharuan ini Rena terus mengusap pinggang, walau tak mengatakan apapun. Tapi Natalie tahu jika kini menantunya memang tengah seting mengalami rasa lelah pada daerah punggung juga pinggang, mengingat kelahiran sudah tinggal menghitung hari.


" Perut Kamu kenapa besar sekali sih nak? Mama mau tanya ini dari dulu tapi lupa terus " ucap Natalie memperhatikan kehamilan Rena tak sama dengan ukuran kehamilan Siska waktu lalu.


" Engga tahu Ma " seru Rena tersenyum.

__ADS_1


" Tapi kata Dokter engga apa apa kan Nak? Mama kok jadi khawatir ya. Tapi semoga saja semua baik baik saja engaa ada masalah apapun, sehat selamat Kamu sama anak Kamu " panjang lebar Natalie mengusap pinggang Rena agar menantunya merasa nyaman.


" Iya Ma, semoga ya. Tapi kata Dokter juga sehat aja Ma engga ada masalah, lagian Aku juga rutin kontrol kan Ma " jelas Rena mencoba menenangkan mertuanya.


Natalie tetap saja merasa aneh setiap kali memperhatikan kehamilan Rena. Namun Ia tetap berusaha berpikiran positif dan berharap jika takkan terjadi apapun. Memang berat badan Rena selama hamil cepat naik, tak sama dengan Siska yang tak begitu terlihat gemuk ketika hamil.


Satu jam berlalu, terdengar suara pintu terbuka dan seorang laki laki dengan wajah lelah mulai memasuki ruangan. Perlahan Ia menghampiri Mama juga istrinya sudah terlelap di atas sofa.


" Kenapa tidur di sini sih? " gumam lirih Dimas menatap tak tega pada wajah lelap mertua juga menantu tersebut.


" Sayang bangun, pindah kamar yuk " lirih Dimas mencoba membngunkan istrinya lebih dulu.


" Mama, ayo pindah kamar jangan tidur di sini nanti punggungnya sakit " tambah Dimas berganti membangunkan Mamanya.


" Dimas, jangan pulang malam malam dong kasihan istri Kamu daritadi nunggu " lirih Natalie menasehati putranya.


" Iya Ma, besok udah engga kok. Ini tadi selesaiin laporan semuanya jadi ya telat banget pulang " jelas Dimas merasa bersalah.


Mendengar suara suami juga mertuanya berbincang, perlahan mata kantuk Rena mulai terbuka. Senyum Ia kembangkan melihat wajah suaminya begitu dekat, dan langsung diusapnya lembut pipi brewok di hadapannya.


" Pelan nak " seru Natalie membantu menantunya bangun bersama dengan Dimas.


" Badan Kamu tambah berat sayang " goda Dimas tersenyum ke arah istrinya.


" Ya makanya jangan di buat hamil terus biar bisa ramping, kan enak kalau ramping Dim " celetuk wanita dengan balutan piyama satin hitam tersebut tersenyum.

__ADS_1


" Iya Ma, tapi kalau buatnya kan engga apa apa kalau terus terusan " tawa kecil Dimas bersama Mamanya.


" Emang engga tahu malu, udah sana bawa Rena kedalam kasihan disini dingin. Mama juga mau tidur sama cucu cucu Mama di dalam " seru Natalie beranjak dari duduk usai membantu lebih dulu menantunya berdiri.


Perlahan langkah kaki Dimas menyusuri rumah Adiknya sambil terus merangkul istrinya. Sampainya di kamar, perlahan tubuh tambah gemuk tersebut di bantu untuk duduk lebih dulu sebelum akhirnya merebahkan diri.


Kadang Dimas juga tak tega melihat Rena terlihat kesusahan bergerak dengan tubuh gemuk dan perut besar. Pasalnya, Ia sendiri baru kali ini melihat istri tercintanya dalam ukuran tubuh seperti itu. Yang biasanya selalu mudah Ia gendong, kini malah tak sanggup lagi untuk di gendong lagi.


" Aku mandi dulu ya sayang, bau " pamit Dimas masih membungkuk untuk menyelimuti tubuh istrinya.


" Iya mas, pakai air hangat jangan lama lama " pesan Rena karena suaminya selalu menghabiskan hingga dua jam setiap kali mandi.


" Iya sayang, Aku juga mau buru buru tidur sama Kamu udah kangen banget " manja lelaki dengan tatapan terarah kedalam mata istrinya, seraya tersenyum menunjukkan wajah tampan.


" Aku juga kangen sama Kamu " lembut Rena mengusap kembali sisi wajah suaminya dengan lembut juga senyum manis.


Sebelum ke kamar mandi, lebih dulu Dimas menyapa calon buah hatinya. Lalu mencium lembut perut yang bergerak ketika Ia usap itu.


Cepat cepat Dimas pergi ke kamar mandi agar tak membuat istrinya menunggu terlalu lama. Tapi karena saking jelinya membersihkan badan, paling cepat Dimas mandi juga menghabiskan waktu tiga puluh menit. Dan ketika kembali ternyata istrinya sudah sangat lelap.


" Capek banget kelihatannya " gumam laki laki dengan handuk melingkar di leher tersebut, sudah duduk di ranjang dekat istrinya.


" Anak Papi, engga boleh buat Mami sakit ya nanti kalau lahir. Kasihan Mami, sekarang sudah gendut banget masa iya mau Kamu bikin sakit lagi? enggak kan? anak Papi kan pintar " ucap Dimas kearah perut besar istrinya.


Khawatir akan rasa sakit ketika nanti Rena melahirkan, Dimas terus saja mengajak bicara calon anaknya agar bisa bekerja sama nanti, sesuai dengan nasehat Natalie. Wanita cantik dengan kasih sayang tanpa batas itu, selalu menasehati Dimas agar rajin mengajak bicara calon anaknya. Karena memang Dimas baru kali ini menemani istrinya hamil hingga melahirkan, walau sudah mempunyai dua anak.

__ADS_1


__ADS_2