Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 33


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH.


Minggu pagi Dimas yang telah siap dengan celana pendek selutut berwarna hitam, polo shirt putih lengkap dengan sneakers putih tengah asik memainkan ponsel sambil menikmati teh di teras rumah miliknya menunggu istri dan anaknya yang tengah bersiap di kamar Aulia.


Dengan duduk bersandar dan menyilangkan kaki, Dimas sangat sabar menanti istri dan anaknya yang sudah satu jam bersiap namun belum juga turun. Padahal sudah pukul delapan pagi, yang rencananya mereka akan berangkat sekitar pukul tujuh pagi ini karena jalanan yang biasanya macet.


Namun karena pagi hari Aulia terus berebut dengan Dimas untuk menentukkan siapa yang mandi bersama Rena, dan tentu saja di menangkan oleh Aulia membuat mereka terlambat untuk bersiap dan berangkat.


"Ayo, Papi." Terdengar suara gembira Aulia menghampiri duduk santai Dimas di teras yang datang dengan Rena mengenakan celana hotpant dan kaos pink muda pendek berhias renda bunga putih di dada membentuk hati, serta rambut di ikat ekor kuda juga sneakers putih senada dengan Aulia dari atas sampai bawah.


"Kalian kok kembaran sih?" gumam Dimas menatap anak dan istrinya membuat Rena dan Auli hanya tersenyum.


"Papi engga sama dong?"tambah Dimas merasa iri dengan Aulia yang berdandan sama persis dengan maminya.


"Papi mau di ikat rambutnya kaya Auli sama mami?" tanya polos Auli membuat Rena tertawa menatap wajah jengah Dimas.

__ADS_1


"Udah ah, Mas. Masa iya kamu mau pakai kaya gini sih?" goda Rena.


Dimas yang menatap penampilan Rena dari atas sampai bawah sedikit terkejut dan juga kagum karena baru pertama kalinya Rena berpenampilan seperti ini.


"Kamu yakin pakai kaya gini Ren?" tanya Dimas melihat celana hotpant Rena yang menunjukkan kaki jenjang mulusnya.


"Iya, Mas. Kan sama kaya Auli, Mas engga suka? kalau engga suka Aku ganti celana panjang aja sekarang," jawab Rena dengan memutar balik tubuhnya hendak masuk untuk mengganti pakaian.


"Eh engga! udah gini aja entar kesiangan keburu macet panas sampai sana," cegah Dimas cepat,


"Sudah, Papi!" jawab Rena dan Aulia bersamaan menunjukkan topi berwarna pink muda kembar menggelayut di ransel kecil mereka yang juga kembar.


Dimas hanya menghela nafas panjang dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah istri juga anaknya seperti anak kembar.


"Oke, ayo!" ajak Dimas langsung menuju mobil yang sudah di parkir pak Adi di depan teras rumah meninggalkan anak kembar dadakan.

__ADS_1


Rena, Auli dan Dimas melaju mengenakan mobil menuju area taman bermain yang rencananya Dimas dan Auli akan berenang bersama di sana, sedangkan Rena sudah menyiapkan segala keperluan mereka.


Sesampainya di taman bermain, Dimas langsung membeli tiket dengan di tatap oleh banyak mata kaum hawa yang ada di sana, karena penampilan dan wajah tampan Dimas serta tubuh tinggi yang menjadi daya tarik bagi semua kaum hawa.


Rena yang menyadari semua tatapan mereka terhadap suaminya hanya menghela napas sambil menggandeng tangan Aulia erat agar tak terlepas di taman yang sangat ramai.


Setelah membeli tiket Dimas langsung menghampiri Rena dan Aulia yang sudah tak sabar ingin cepat masuk ke dalam dan bersenang senang.


"Ayo Papi cepat," rengek Aulia tak sabar dengan mengayunkan gandengan tangannya dengan Rena.


"Iya, iya!" jawab Dimas yang langsung menggandeng tangan putrinya masuk ke dalam.


Sampai di dalam, Rena dan Auli terlihat sangat bahagia langsung mencoba satu per satu wahana permainan yang ada di dalam. Tak lupa ia pergi untuk menyantap sarapan di tempat makan di dalam taman bermain tersebut. Dimas hanya mengikuti saja keinginan istri dan anaknya.


Seperti seorang Ayah yang mengajak jalan jalan dua anaknya, karena Rena tiba tiba berubah menjadi seperti anak kecil yang manja menunjuk ke semua wahana untuk ia coba bersama Aulia. Rena dan Aulia yang terus berjalan di depan dengan Dimas mengikuti mereka di belakang dengan sabar.

__ADS_1


"Ini yang mau kesini mami apa anaknya sih?!" gumam Dimas pelan sembari terus mengikuti langkah kedua orang yang terlihat bahagia, sesekali melompat girang menunjuk setiap wahana merengek untuk naik.


__ADS_2