
STOP PLAGIAT!
Sampainya di rumah sakit, Dimas langsung mengajak Rena pergi karena tak mau lagi memiliki urusan apapun dengan Ana. Sambil berpamitan, sekali lagi Rena menekankan pada perempuan yang duduk di depan kamar Ibunya itu, jika dirinya tak akan pernah menyerahkan suaminya dan meminta Ana berhenti mengganggu hidup keluarganya.
Nada mengancam juga di keluarkan oleh perempuan yang seakan telah habis kesabarannya menghadapi Ana. Ia mengatakan pada Ana jika dirinya terus mengganggu hidup keluarganya, tak segan dirinya untuk membuat Ana tak bisa bekerja di perusahaan manapun dengan segala koneksi dari Papanya.
Seakan tak perduli lagi dengan air mata perempuan yang ingin merebut suami nya, Rena menggandeng tangan Dimas yang sudah menunggu nya dari kejauhan dan berlalu pergi. Napas panjang yang Ia buang kasar tak pernah hilang dari ekspresi tak percayanya, karena permintaan gila Ana hingga menimbulkan tanya suaminya.
" Kamu kenapa sih? jangan terlalu stres engga baik buat anak Kita sayang " ucap lelaki yang masih fokus mengemudi namun tetap bisa menggenggam tangan istrinya.
" Aku tuh sebel tau gak mas, Aku udah baik sama Ana tapi Dia malah minta Aku buat suruh Kamu nikahi Dia dengan alasan nyawa Ibunya " jelas Rena mengejutkan Dimas dan mengerem mendadak.
" Mas! hati hati dong " seru Rena terkejut berpegangan pada dashboard.
" Untung sepi " tambah Rena menoleh ke belakang mobil.
" Terus Kamu ijini Aku nikah sama Dia gitu?! jangan gila ya Kamu! " jengkel Dimas terkejut menepikan mobil di pinggir jalan depan pertokoan ruko.
" Engga lah mas, udah Aku bilang kalau Aku engga sebaik itu. Mana mungkin Aku mau di duain, keselamatan dan nyawa Ibu nya bukan tergantung daru pernikahan kalian, tapi semua sudah di atur hanya saja jalannya Kita engga pernah tahu. Aku memang egois dalam hal ini, tapi sampai kapanpun Aku engga akan pernah mau di duain mas dan engga akan pernah ada maaf kedua untuk hal itu. Itu juga peringatan buat Kamu mas, kalau sampai Kamu ulang hal ini lagi engga perduli Kamu di jebak atau apapun, Aku engga akan pernah mau maafin Kamu dan pergi tinggalkan Kamu sejauh mungkin. Lebih baik engga kenal Kamu!" tegas Rena panjang lebar dengan nada sedikit emosi mengejutkan suaminya yang selalu tahu istrinya begitu lembut.
" Kok jadi Aku yang kena marah" gumam lirih Dimas.
" Bukan marah sama Kamu, tapi ini peringatan juga buat Kamu! " tegas Rena kembali masih dengan perasaan jengkel nya.
__ADS_1
" Sayang, Aku engga akan lakukan hal itu dan engga ada Aku bakal kena masuk lubang yang sama. Aku juga mau tekankan ke Kamu, engga ada kedua, engga ada mendua, engga ada siapapun selain Kamu dan cuma ada Kamu! " tekan Dimas pada tiap kata nya.
" Aku engga butuh kata kata Kamu mas! Aku butuh bukti! " ucap Rena penuh penekanan.
" Oke, Aku buktiin. Silahkan Kamu lihat, kalau sampai Aku dekat sama perempuan lain Kamu bisa langsung pergi bawa anak anak dan jangan pernah kembali, biar aja Aku jadi gila karena kalian nanti! Aku juga bakal biarin Papa mertua bunuh Aku sekalian! " ucap Dimas penuh keyakinan dan penekanan.
" Oke! awas Kamu mas ya! Aku pegang omongan Kamu! " sahut perempuan dengan tangan melipat di depan dada masih dalam nada jengkel nya.
" Sebentar deh, kenapa Kita jadi kaya orang berantem sih? Kita berantem sekarang? " tanya Dimas tersadar dengan istrinya yang terus jengkel.
" Aku tuh emosi mas, berani banget Dia minta Kamu ke Aku langsung. Engga tahu apa orang hamil emosi nya gampang banget meluap, malah di kasih omongan kaya gitu " ucap Rena membuang napas kasar nya.
" Udah dong sayang, engga baik buat anak Kita kalau Kamu marah marah gini. Lagian Kamu engga pernah marah, sekali nya marah susah banget berhenti " ucap lelaki yang kini mengubah posisi menghadap ke depan.
" Bawaannya pingin makan yang manis manis kalau kaya gini" gerutu Rena masih jengkel.
" Kamu pikir Aku anak kecil apa " gerutu Rena kembali.
" Engga mau? " lirik Dimas ke arah istrinya.
" Mau " manja Rena seketika mengarah ke suaminya.
" Mau aja gaya sok kaya anak kecil " seru Dimas tersenyum meraih tubuh istrinya untuk Ia peluk di samping tubuh.
__ADS_1
" Jangan marah marah jelek Kamu, kalau marah susah banget berhenti ngomel " goda lelaki dengan senyum masih menghiasi wajah nya sambil mencubit gemas hidung istrinya.
" Aku sayang sama Kamu mas, jelas Aku marah suami Aku di minta sama perempuan lain. Aku juga egois dan marah mas " sahut Rena menarik kaos di atas dada suami nya seperti anak kecil.
" Aku juga bakal kaya gitu kalau Kamu di minta sama cowok lain " ucap Dimas mengusap lengan istrinya lembut dan mencium kening Rena.
" Jadi beliin es krim gak?!" tegas Rena belum benar benar mereda emosi nya melepas pelukan pada suaminya.
" Jadi sayang, jadi " sahut lelaku yang mulai menyalakan kembali mesin mobil menuju ke swalayan paling dekat agar amarah istrinya bisa cepat mereda.
Sambil mengemudi tak henti nya Dimas menggerutu karena bawel nya Rena yang tak bisa di hentikan. Walau baru pertama kali Rena menunjukkan sikap begitu kesal, namun itu membuat Dimas bahagia karena ternyata istrinya juga amat mencintai dirinya dan tak semudah itu melepaskan untuk siapapun.
Mobil sudah berhenti di sebuah swalayan dan Dimas turun bersama istrinya, yang Ia bukakan pintu mobil untuk membeli apapun yang diinginkan istrinya. Hampir semua yang Rena pilih adalah makanan manis, meski ingin memprotes karena Ia tengah hamil dan tak seharusnya makan manis terlalu banyak, namun Dimas tak berani karena takut akan membuat istrinya mengomel.
" Kamu kok makan es krim? kan engga suka? " tanya Rena sudah makan di tempat duduk teras swalayan.
" Aku mau juga sayang, habis ini makan baso ya Aku lapar " sahut Dimas memasang wajah manja sambil terus menikmati es krim.
" Oke " sahut Rena mengedipkan satu mata sambil membuat lingkaran dengan ibu jari serta jari telunjuk nya.
" Gemesin banget sih, jangan gitu nanti di curi cowok lain Kamu " seru Dimas menutupi wajah istrinya dengan tubuhnya.
" Cium dong sayang " tambah Dimas genit.
__ADS_1
" Gila aja deh mas, masa iya di jalan main cium cium " senyum Rena menggelengkan kepala mengembangkan senyum suaminya.
Meski selalu di ajarkan kebaikan, Ia tak pernah ingin berbuat baik dalam hal berbagi pasangan hidup. Walaupun harus terkesan egois, Ia akan tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga tanpa adanya perempuan lain dalam hidup suaminya, dan sebisa mungkin Ia akan menjaga rumah tangga juga suami nya dari segala hal yang berbau dengan penghianatan. Maaf nya begitu luas, namun untuk penghianatan Ia tak mempunyai maaf sama sekali, karena itulah prinsip dalam hidup nya. Ia bisa memaafkan suaminya juga Ana karena hal itu terjadi dalam perceraian mereka dulu, jika saja itu terjadi pada saat mereka masih dalam ikatan pernikahan, mungkin Ia tak akan mau memaafkan keduanya.