Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 160


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


" Eh kok bisa bahasa jawa? bagus dong, jadi kalau nanti Mami ngomelin Papi bisa Kamu translate " senyum Dimas sambil memainkan kedua alisnya naik turun ke arah Aulia.


" Ih, wani piro? ( ih berani berapa?) " goda Aulia menggenggam menyisakan ibu jari yang Ia tengadahkan ke arah depan, kembali menggelakkan tawa Rena hingga terbahak.


" Auli! Papi ngerti ya kalau itu! " jengkel Dimas mengejar Aulia yang sudah lebih dulu kabur.


" Mas, mas tiap hari kok bertengkar terus sama anak " gumam Rena tertawa menggelengkan kepala sembari meraih Brian yang lebih dulu di taruh di atas sofa oleh Papinya.


Bi Ijah dan Bi Lastri iku mengembangkan senyum melihat majikan dan putrinya selalu saja melempar canda. Kejahilan Aulia pada Dimas memberikan warna ceria sendiri dalam rumah yang kini lebih terlihat penuh kebahagiaan. Terlebih ketika restu dari Natalie sudah di dapat oleh keduanya.


Rena ataupun Dimas tak begitu mempermasalah kan, tentang Natalie yang belum bisa menerima Rena. Karena Ia yakin jika Natalie memiliki alasan tersendiri, mengingat usia Rena lebih muda dari Dimas dan mungkin membuatnya ragu jika Rena mampu menjaga putra dan cucu pertamanya.


Perempuan yang kini masih duduk bersama putranya, menunggu Dimas masih terdengar ribut bersama Aulia hingga putrinya berteriak dan terbahak di atas, hanya bisa menunggu dan berdoa suatu saat Mama mertuanya akan menyayangi dan menerima dirinya. Karena Ia yakin tak ada doa yang sia sia dan pasti akan terkabul sesuai waktu yang tepat menurut sang Kuasa.


Sementara di rumah Tyo, Natalie sudah bersama dengan suami, papa mertua juga Erwin saling bicara tentang kedatangan tiba tiba Natalie. Tyo juga Siska menunggu mereka di ruang TV karena tak diijinkan Dedrick ikut bergabung. Kakeknya tak ingin jika Siska harus mendengar sesuatu yang buruk tentang Kakak iparnya dari mulut Natalie, dan pasti iju memikirkannya karena rasa sayang Siska pada Rena melebihi saudara kandung.


" Erwin, Aku mau minta maaf atas apa yang sudah Aku lakukan pada putrimu. Aku tahu semua memang tak sepantasnya Aku lakukan, karena bagaimanapun putrimu adalah alasan putraku bisa bahagia sekarang. Harusnya Aku berterimakasih karena Dia sudah menerima Dimas, meski Dia tahu Dimas seorang duda anak satu. Tapi Aku malah memperlakukannya dengan buruk " ucap Natalie panjang lebar ke arah Erwin dengan penuh penyesalan, mengejutkan ketiganya namun mereka juga bahagia.


" Natalie, jangan meminta maaf karena Kamu memang belum mengenal Rena dan wajar jika Kamu menjaga putramu dari banyak nya perempuan yang hanya mengejar harta. Tapi percayalah, Aku ataupun Rena sudah tidak pernah mempermasalahkan hal itu lagi, biarlah semua menjadi masa lalu. Dan Aku harap Kamu bisa menerima putriku dan menjaganya seperti anak kandungmu sendiri, tegurlah dengan baik jika putriku melakukan kesalahan " sahut Erwin begitu tenang dalam batinnya akan perubahan Natalie saat ini.


" Terimakasih banyak Erwin, Kamu dan putrimu memang sangat baik. Tapi Aku minta maaf karena Aku masih membutuhkan waktu untuk menerima Rena sepenuhnya. Bukan karena putrimu tidak pantas, tapi Aku melihat Nesa pada dirinya yang membuatku takut menerima dan dekat dengan Rena. Berikan Aku waktu untuk membunuh rasa bersalah ini " sahut Natalie dengan mata berkaca kaca.


" Aku mengerti dan tidak akan memaksamu untuk menerima putriku, restu mu sudah bisa membahagiakan putriku dan Aku sangat berterimakasih " jawab Erwin penuh ketulusan.


" Papa senang Kamu bisa membuka hati untuk Rena " sahut Dedrick mengungkapkan kebahagiaan dalam senyumnya.


" Iya Pa, maafkan Aku selama ini. Semua yang terjadi sudah banyak memberiku pelajaran " ucap wanita yang sudah di usap lembut punggungnya oleh Teddy, karena air mata sudah dikeluarkannya.

__ADS_1


Kepribadian juga sikap lembut Rena mampu meruntuhkan kerasnya hati Natalie. Kesabaran Rena yang bahkan tak oernah membalas setiap perbuatannya, semakin membuat Natalie malu dan merasa rak pantas untuk menjadi mertua dari Rena.


Natalie meyakini jika Rena memang jodoh yang di gariskan Tuhan pada putranya, karena perpisahan yang Ia lakukan pada keduanya masih berhasil membuat mereka bersatu kembali dan lebih bahagia, bahkan Rena kini mengandung lagi anak Dimas.


Dimas yang tak pernah menemuinya waktu di Belanda, juga membuat nya banyak berpikir dan berubah hingga memutuskan untuk menyatukan sendiri Rena dan Dimas. Dan juga menjadi salah satu alasannya datang jauh jauh dari Belanda, namun ternyata Dimas sudah lebih dulu kembali bersama Rena yang bahkan membuatnya tak mampu melihat ke arah menantu berhati baik itu selama di rumah Dimas.


****


Dirumah Dimas, Aulia sudah kembali dengan di panggul oleh Papinya menghampiri Rena dan Brian yang masih ada di depan TV.


" Mami, Aku ada outbond ke Bali " ucap Aulia memberikan surat edaran dari sekolah yang Ia terima hari ini.


" Jauh banget, 4 hari lagi " gumam Rena membaca kertas berwarna putih dari putrinya.


" Mami ikut ya " tambah Rena tak tega mengijinkan putrinya pergi jauh.


" Mas, ikut ya entar Aku bayar sendiri deh. Aku engga tega sama Auli kalau pergi sendiri, Kamu kan bisa bilang ke sekolah " bujuk Rena memasang wajah memelas dan manja bersamaan ke arah suaminya.


" Engga usah ngarang deh, mana Aku ijinin Kmu pergi naik bis kondisi kaya gini. Engga ada " tegas lelaki dengan kembali memangku Brian dan membiarkan Aulia merebahkan kepala pada pahanya.


" Ya udah, Kita susul aja sekalian liburan sama Bibi juga. Lagipula Kita kan engga pernah kemana mana mas, honeymoon juga engga " melas Rena menunduk dengan bibir cemberut membuat Aulia tersenyum bersama Papinya melihat wajah Rena.


" Mami tuh lihatin kaya anak kecil " goda Dimas mengisyaratkan mata ke Aulia untuk melihat Maminya dengan tersenyum.


" Hayo Papi, Mami ngambek tuh " goda Aulia menunjuk wajah Papinya sambil menyeringai usai Rena pergi ke dapur untuk membuatkan susu kedua anaknya, karena sudah terlalu malam dan keduanya belum tidur.


" Kamu sih, tahu Mami lagi hamil suka ngambek malah ngomong mau ke Bali sekarang " gerutu Dimas ke arah putrinya.


" Ah engga ikut ikut ah, Aku mau tidur aja " seru Aulia melenggang pergi dengan mengembangkan senyum menggoda Papi yang masih menggerutu.

__ADS_1


" Brian, Kamu dari tadi diam aja sih? suka ya Mami marah sama Papi? " gerutu Dimas ganti ke putranya yang dari tadi hanya fokus ke arah TV tanpa memperdulikan ketiganya sibuk berbicara.


Dengan membuang napas kasar, Dimas menggendong Brian menyusul istri juga putrinya ke atas, usai memberikan susu pada Aulia. Dikamar, Rena masih membantu Aulia untuk mengganti pakaian usai membersihkan gigi serta kaki dan tangan. Dimas masuk perlahan melihat istri yang masih cemberut tak ingin menoleh ke arahnya.


Rena menemani Aulia untuk tidur di ranjangnya, sementara Dimas menemani Brian tidur pada ranjang bentuk mobil mobil an yang terletak tak jauh dari tempat tidur princess milik Aulia, hanya berbatas satu meja kecil dengan sebuah lampu tidur di atasnya.


" Yang udah udah kalau istri udah diam nih pasti lama ngambeknya " batin Dimas menghela napas panjang sambil terus menepuk lembut paha putra yang masih tak bisa jauh dari botol susu meski sudah diajari minum dari gelas.


Bagi pria yang akan memiliki tiga orang anak ini, akan lebih baik jika istrinya marah dengan omelan daripada diam. Karena saat Istrinya mulai diam, akan lebih menakutkan karena bisa bertahan sampai satu minggu, sementara jika mengomel pasti hanya setengah hari sudah capek sendiri.


" Sayang, Aku buatin susu buat Kamu sekalian panggil Bi Lastri ya " lirih Dimas mencari perhatian istri yang masih diam, usai Brian tertidur bersama Aulia setelah 30 di temani.


Dimas membuang napasnya panjang, ketika tak mendengar jawaban dari istrinya dan berlalu pergi ke bawah. Sampainya di dapur, Dimas langsung membuatkan susu kehamilan rasa coklat istrinya dan kembali mual ketika menghirup uap dari susu yang di seduh.


" Bapak kenapa? " tanya Bi Ijah melihat majikannya muntah muntah di wastafel dan tak langsung di jawab oleh lelaki yang terus mual itu.


" Biar Saya yang bawa ke Ibu ya Pak " ijin Bi Ijah tahu jika majikannya sensitif terhadap bau susu kehamilan yang tengah Ia buat.


Dengan mengangguk tanpa menoleh ke arah Bi Ijah, Dimas mengijinkan asisten rumah tangga nya membawa susu ke kamar dan di berikan pada Rena karena benar benar tak tahan dengan bau susu milik Rena ataupun Aulia.


" Huh sakit banget " gumam lelaki yang berjalan ke arah kotak obat dekat tangga dan mengambil minyak kayu putih, lalu duduk menenangkan perut sambil. menghirup botol minyak kayu putih.


" Ah, Bibi tolong temani Aulia sama Brian ya mereka sudah tidur terus minta Ibu buat tidur di kamar " seru Dimas melihat Bi Lastri kembali setelah mengunci pintu.


" Baik Pak " sahut Bi Lastri dan menggantungkan kunci pada dinding samping tangga, lalu naik ke atas.


Bi Lastri menghampiri majikannya yang masih minum susu bersama Bi Ijah di kamar Aulia. Ia menyampaikan dengan sopan pesan dari perempuan yang tertawa bersama Bi Ijah, karena asisten rumah tangga yang berdiri di depannya itu menceritakan jika Dimas tengah mual saat membuat susu.


Hal yang sama juga pernah di alami Rena waktu hamil Brian, namun tak separah ngidam nya Dimas yang terlalu cepat mual hanya karena sedikit bau. Meski tak tega, namun Ia juga bersyukur karena tak harus mengalami lagi rasa mual seperti kehamilan pertama, dn bisa makan apa saja tanpa memuntahkan kembali.

__ADS_1


__ADS_2