
STOP PLAGIAT!
Pagi hari Dimas lebih dulu mengajak istrinya jalan jalan untuk mempermudah proses persalinan. Tyo juga sudah mulai menggendong putrinya dan di ajaknya berjemur di teras rumah. Sedangkan Natalie sibuk mengurus Brian juga Aulia.
Semakin dekat kelahiran yang akan dihadapi Rena, makin membuat Dimas was was dan khawatir. Tanpa tahu pasti apa yang harus Ia lakukan saat istrinya nanti hendak melahirkan, karena Ia tak ingin mengulangi kesalahan Adiknya yang malah tertidur pulas dan pingsan.
Artikel tentang melahirkan tak pernah lupa selalu Ia baca dan pelajari. Diam diam Ia juga datang ke rumah sakit untuk melihat kantong darah yang akhirnya membuatnya berkunang dan mual.
Setiap hari Ia selalu mencoba melawan rasa takutnya, namun tak pernah berhasil hingga membuat dirinya sendiri merasa khawatir jika nanti malah membuat istrinya yang tengah berjuang menjadi khawatir.
" Sayang, kalau lahiran darahnya seberapa banyak sih? sakitnya kaya gimana? " tanya Dimas sambil berjalan jalan tanpa alas kaki di sekitar rumah Tyo.
" Ya engga tahu mas berapa banyak darahnya, Aku juga engga perhatiin waktu lahiran Brian. Kalau sakitnya sih kata orang rasanya kaya 20 tulang Kita patah dalam waktu yang sama " jelas Rena membulatkan mata suaminya terkejut.
" Bercanda deh, satu tulang patah aja sakitnya engga nanggung ini malah dua puluh. Jangan nakut nakutin deh Kamu " protes Dimas terkejut seketika melepas tangan yang sedari tadi setia melingkar pada pinggang istrinya.
" Beneran mas, masa nakut nakutin sih? tanya Mama deh mas nanti pasti dijelaskan " ucap perempuan dengan daster batik dan rambut tergulung ke atas tersebut.
" Sakit banget dong sayang, caesar aja ya " bujuk Dimas merasa takkan tega melihat istrinya kesakitan.
" Mas, mas orang itu kebanyakan mau lahiran normal kalau bisa, lah ini malah sutuh caesar gimana ceritanya " tak percaya Rena sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya.
" Makanya mas itu jangan berani sama Mama, harus bisa bahagiakan Mama. Orang melahirkan itu bertaruh nyawa loh Mas, ya masa udah lahirinnya sakit, dirawat penuh kasih sayang, eh besarnya malah berani bentak terus engga jadikan seorang Ibu prioritas utama. Gitu kan sama aja sakiti hati seorang Ibu mas, dosa loh. Lagian juga biarpun Kamu sudah menikah tetap Kamu itu milik Mama, kecuali anak perempuan kalau sudah menikah sepenuhnya milik suami " jelas Rena panjang lebar.
" Iya sayang, Aku paham " sendu Dimas mengingat berulang kali bertengkar hingga membentak Mamanya demi membela Rena dulu.
__ADS_1
" Udah ah Kita pulang, Kamu kan harus kerja mas " ucap kembali Rena karena hari sudah mulai siang.
" Aku libur sayang, capek badan Aku tiap hari lembut mau istirahat aja di rumah " keluh lelaki dengan tangan memegangi pinggang tersebut.
Dengan tersenyum, Rena melingkarkan tangan pada lengan suaminya. Namun baru beberapa melangkah rasa mulas dan kaku kembali di rasakan Rena hingga memaksa keduanya duduk sejenak pada kursi yang terdapat di depan rumah tetangga Tyo.
Sambil memejamkan mata, Rena mencoba mengatur napas. Sebuah kontraksi palsu memang kerap datang menghampiri Rena di kala Ia tengh beraktifitas. Rasa kaku pada perut juga punggung, terasa lebih kuat dibanding ketika Ia mengandung Brian dulu.
" Sayang " lirih Dimas tak tega melihat istrinya kesakitan.
Mata calon Ayah tersebut mulai berkaca kaca tak sanggup melihat istrinya menahan rasa sakit. Ekspresi khawatir juga ditunjukkan jelas dalam wajah tampan Dimas sambil mengusap lembut perut istrinya.
Tak ingin membuat istrinya berjalan, Dimas menghubungi supir Tyo untuk menjemput mereka walau jaraknya tak terlalu jauh.
" Masih sakit? kuat gak sayang? " sendu Dimas menatap istrinya penuh khawatir.
Rasa mulasnya kini lumayan lebih lama di rasakan Rena, di banding sebelumnya. Perutnya juga semakin kencang dengan punggung sangat sakit. Mata Dimas tanpa sengaja menitikan bulir air mata. Karena memang rasa cinta begitu besar, membuatnya tak kuasa menatap istrinya begitu menahan rasa sakit.
Sebuah mobil sudah berhenti tepat di hadapan Dimas dan Rena. Perlahan dengan sangat hati hati, Dimas membimbing istrinya masuk ke dalam mobil dan meminta supir mengemudi lirih.
Sampainya di rumah, Natalie bergegas berlari ke teras begitu Ia tahu jika Dimas meminta supir menjemput melalui Tyo.
" Dimas kenapa? ada apa sama Rena? " khawatir Natalie begitu putranya turun dari mobil.
" Sakit Ma perutnya " jelas Dimas memutar untuk membantu istrinya turun.
__ADS_1
" Bukannya masih du hari lagi kan Dim? " tanya Natalie mengira jika menantunya akan melahirkan.
Natalie pun dengan khawatir membatu Rena berjalan masuk. Masih dengan menahan rasa sakit, langkah tertatih Rena makin membuat khawatir suaminya.
" Ma, apa mau lahiran ya? " khawatir Dimas menuntun istrinya masuk bersama Natalie.
" Mas engga usah khawatir, ini engga apa apa kok " seru Rena mencoba tersenyum walau rasa sakitnya belum juga hilang.
" Kita ke rumah sakit aja deh nak, Mama khawatir Kamu lahirannya maju " seru Natalie dengan nada cemas.
" Mama benar sayang, Aku engga mau Kamu kenapa kenapa " tambah Dimas berekspresi semakin khawatir.
Senyum dikembangkan Rena pada keduanya agar tak terlalu cemas. Meski memang rasa sakitnya sudah hilang namun kembali lagi dengan begitu cepat. Tak seperti kemarin kemarin yang hilang namun tak kembali lagi.
" Mba kenapa mas? " tanya Tyo masih menggendong putrinya berjalan memasuki rumah.
" Dek, toling Kamu hubungi rumah sakit deh sekarang. Mas mau bawa mba kesana " seru Dimas meminta tolong pada Adiknya.
Segera Tyo beralih masuk ke kamar memberikan putrinya pada Siska dan mengambil pinsel. Dengan cepat Ia menghububgi rumah sakit dan mengatakan jika Kakak iparnya hendak melahirkan.
Walau tak ada yang tahu pasti aakah memang Rena akan melahirkan hari ini atau tidak. namun untuk berjaga jaga sengaja Dimas membawa istrinya lebih awal ke rumah sakit, dan menunggu hingga melahirkan di sana.
Tak mau sesuatu buruk terjadi pada istri juga anaknya, Dimas tak lagi pikir panjang dan menunggu persetujuan Rena untuk membawa ke rumah sakit. Sebuah tas berisi perlengkapan Rena, dirinya juga anaknya sudah selalu tersedia di dalam mobil tanpa sekalipun keluar.
Memang sengaja Dimas menyiapkan segalanya untuk berjaga jaga, kalai saja Rena melahirkan sewaktu waktu dan tak perlu lagi repot. Apa yang terjadi pada Tyo kemarin sudah benar benar menjadi pelajaran Dimas untuk sellu lebih siaga. Karena kemarin Adiknya lupa membawa tas berisi perlengkapan anak juga istrinya hingga harus bolak balik.
__ADS_1
Meskipun rumah sakit juga menyediakan pakaian bayi, namun Dimas tak ingin jika anaknya mengenakan pakaian dari rumah sakit dan memilih menggunakan pakaian yang sudah Ia beli dan di cuci dengan antiseptik.