Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Gaun kejutan.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


Di tempat lain, Dimas dan Tyo juga Anggara memantau semua persiapan resepsi bersama. Mereka ingin memastikan sendiri jika semua sesuai dengan yang diharapkan, tanpa satupun kesalahan. Dimas sengaja mengatur segalanya untuk mewujudkan mimpi putri kecilnya dulu.


Aulia selalu bercerita pada Mami juga Papinya jika ia menginginkan sebuah acara pernikahan seperti dalam serial princess. Hal itu jelas masih terngiang dalam telinga Dimas. Semua gambaran yang pernah dilukiskan Auli kecil, tergambar indah dalam pemikirannya. Sehingga sangat mudah untuk bisa mewujudkannya saat ini.


Memang kerap kali Aulia bermimpi dan berkhayal menjadi seorang ratu semalam, dalam pesta yang menjadikan dirinya pusat perhatian. Saat itu, Dimas dan Rena hanya tersenyum dengan semua angan putri cantiknya. Bahkan angannya untuk menikahi pria seperti papinya, membuat sepasang suami istri itu menggelengkan kepala.


Rena sendiri telah lama mempersiapkan gaun yang juga menjadi impian putri kecilnya. Tangannya sendiri yang telah mendesain dan membuat gaun pernikahan yang akan dikenakan Aulia ketika resepsi. Gaun ataupun dekorasi gedung, tidak pernah mereka tunjukkan pada Aulia. Dan akan menjadi sebuah kejutan serta kado untuk putri mereka pada hari H nanti.


Kedua orang tua sangat menyayangi semua anak anaknya tanpa membedakan itu, ingin sekali selalu bisa mewujudkan mimpi serta angan anak anaknya. Untuk mereka, kebahagiaan anak anak adalah hal utama dalam hidup mereka. Rela melakukan apapun demi membuat keempat anaknya tersenyum bahagia.


Tiap hari semenjak pernikahan di tentukan, Rena tanpa lelah mengerjakan gaun pengantin putrinya. Terkadang hal itu membuat Dimas khawatir akan kesehatan istrinya. Namun Dimas juga sangat bahagia karena istrinya sangat mencintai juga menyayangi Aulia. Di mata orang lain, mungkin Aulia dan Rena hanya di anggap sebagai Ibu dan anak tiri. Tanpa mereka tahu, Rena dan Aulia tidak pernah memberikan jarak dengan sebutan tiri ataupun kandung dalam hubungan mereka.


***


Pukul 16.00, Dimas dan Tyo baru kembali dari mengurus semua hal untuk acara resepsi. Kedua laki laki tinggi tegap itu memasuki rumah beriringan. Dilihatnya semua anak anak mereka tengah mengaji bersama dengan Dion yang didampingi Aulia juga Siska di ruang tengah.


"Masha Allah" kagum Dimas melangkah memasuki rumah. mendengar ayat ayat suci merdu di serukan anak anaknya juga keponakannya bersama.


"Adem banget ya mas" ucap Tyo memegang dada tersenyum melihat semuanya mengaji.


"Adem dek lihat mereka, tapi lihat kamu panas lagi" goda Dimas melangkah duluan untuk menyapa orangtuanya.


"Lihat aku panas, dikiranya aku kompor nyala apa?" gerutu Tyo lalu mengikuti kakaknya.

__ADS_1


Dimas mencium tangan mertua juga orangtuanya yang diam menyimak cucu cucu mereka mengaji. Tyo mengikuti di belakang, keduanya tidak pernah lupa untuk mencium mama mereka. Begitu juga Natalie selalu mencium kening serta kedua sisi wajah putranya, walaupun sudah berusia.


"Dimas mandi sebentar ya" pamit Dimas pada semua orang yang menjawab anggukan dan senyum.


Dimas melangkah pergi, namun Tyo memilih duduk bersama mendengarkan suara mengaji. Matanya melihat ke arah Siska yang terlihat cantik dan sudah pantas dengan hijab putih, duduk bersama Aulia di atas karpet berwarna coklat. Tetap berharap jika istrinya bisa untuk mengenakan hijab terus, tanpa lagi melepasnya.


Di dalam kamar, Dimas melihat Rena tengah melipat mukenah dan menghampiri mencium tangannya.


"Kok baru sholat? kamu pucat banget?" tanya Dimas berdiri di depan istrinya.


"Aku baru bangun mas, tadi kepalaku sedikit pusing terus minum obat jadi telat sholatnya" jelas Rena menyentak Dimas khawatir.


"Sini duduk dulu" ajak Dimas duduk di tepi ranjang.


"Engga apa apa mas, cuma flu aja jadi engga perlu khawatir. Kamu mandi dulu, aku siapin pakaian buat kamu" lembut Rena memegang sisi wajah kiri pria duduk di sampingnya.


"Engga usah, kamu istirahat aja biar aku ambil sendiri. Aku panggil Dokter buat kamu, sekarang kamu di dalam aja engga usah kemana mana. Gitu juga gak hubungi aku loh kalau sakit" ucap Dimas meraih ponsel, di cegah oleh Rena.


"Mas, jangan panggil Dokter nanti Auli cemas. Aku istirahat aja ya, tadi juga udah minum obat kok" lembut wanita masih memangku mukenah tersebut menyentuh punggung tangan suaminya.


"Jangan bilang engga ada yang tau kalau kamu sakit?! kenapa sih kamu tuh engga pernah berubah?! aku engga pernah larang kamu urus butik, urus rumah, urus anak anak, tapi aku cuma minta satu aja, urus juga kesehatan kamu! kalau sakit tuh ngomong jangan di sembunyikan! nanti kalau kamu kenapa kenapa, yang urus aku sama anak anak siapa?!" kesal Dimas, karena Rena selalu menutupi kesehatannya dan terus melakukan semua tanggungjawabnya.


"Kita semua lagi repot buat persiapan resepsi Auli mas, aku engga mau mereka malah khawatir nanti. Kamu jangan malah marah marah dong, masa istri sakit di marahin sih" sahut Rena memelas, membuat suaminya menarik napas dalam.


"Bukan marah sayang, tapi aku engga mau kamu kenapa kenapa. Ya udah kalau kamu engga mau Dokter ke rumah, Kita yang ke Dokter. Udah titik engga ada protes lagi!" ucap pria memegang kedua tangan istrinya, dan menatapnya tulus.

__ADS_1


"Iya mas" singkat Rena tersenyum.


"Rebahan dulu ya, aku mandi sebentar habis itu kita berangkat" ucap Dimas, di jawab anggukan kepala istrinya.


Meraih mukenah di atas pangkuan istrinya, dan meletakkan di atas meja dalam kamar. Dimas kemudian meraih pundak istrinya dan dibantu untuk berjalan, lalu merebahkan istrinya dan menutupi dengan selimut sampai batas perut.


"Makasih mas" lembut Rena berucap, pada suami masih membungkuk di atasnya.


"Masuk!" teriak Dimas mendengar ketukan pintu dari luar.


Tak lama, Brian masuk ke dalam untuk memanggil Papinya agar karena ada tamu menunggu di depan. Langkah di percepat Brian melihat Maminya merebahkan diri dengan di selimuti papinya.


"Mami kenapa?" khawatir Brian berdiri di belakang tubuh papinya.


"Mami engga apa apa sayang, ada apa?" lembut Rena tersenyum.


"Ada yang cari papi di luar, ayahnya Sisi. Mami sakit?" jawab Brian seraya bertanya khawatir.


"Kamu sih gak jagain mami, sakit kan?!" tegas Dimas menoleh putranya.


"Mami engga apa apa kok, kamu lanjutin ngaji sama kakak sana" ucap Rena.


"Brian udah, sekarang mau temani mami aja" sahut lelaki bersuara serak tersebut duduk di samping kaki maminya.


"Mami jangan sakit sakit dong, nanti yang bantuin Brian lamar Luna siapa?" goda Brian memijat kaki maminya, cepat di acak rambutnya oleh Dimas diiringi senyum Rena.

__ADS_1


__ADS_2