Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 177


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Sambil tersenyum meletakkan masing masing dua tas belanjaan berisi mainan untuk Brian, Aulia serta kedua calon cucu yang tak mungkin langsung bisa memainkannya, Natalie mengembangkan senyum ke arah dua putranya. Puas dengan semua belanjaannya, Natalie mengajak semuanya untuk makan lebih dulu sekalian merilekskan pinggang. Siska juga Rena mengatupkan bibir menahan tawa dan hanya tersenyum melihat suami mereka yang sudah lelah bekerja seharian, harus rela membawa banyak belanjaan dan berjalan malas di belakang.


" Papi, Om.. " seru Aulia meledek dengan mengangkat dua jempolnya ke atas sambil tertawa puas.


Melihat Aulia meledek, ingin rasanya kedua lelaki itu mengejar dan menggelitik hingga menangis gadis yang sudah berjalan mendahului dengan di gandeng Neneknya. Mulut masih tak henti menggerutu dari kedua lelaki dengan merasa menyesal sudah datang dan berakhir sebagai pembawa barang.


Kursi food court yang terlihat kosong dari kejauhan, langsung membuat kedua lelaki tersebut berlari. Punggung lelah langsung mereka sandarkan dengan kaki lurus ke bawah meja, sambil tetap membawa belanjaan.


" Huh, lega.... " seru dua saudara itu bersamaan sembari memejamkan mata, merasakan punggung mereka sedikit nyaman bisa bersandar.


" Capek ya mas? " senyum Rena mengusap lembut wajah suaminya, dan mengambil belanjaan untuk Ia taruh di atas lantai, namun dilarang oleh Dimas dan meletakkan sendiri.


" Pijitin Aku " manja Dimas meregangkan otot dengan tangan Ia tarik tinggi ke atas, mengembangkan senyum gemas istri yang mencubit pipinya.


" Kasihan banget sih Kamu mas, iya nanti Aku pijit ya " lembut Rena masih tersenyum di balik wajah cantiknya.


" Plus plus " rengek manja Dimas ditertawakan Tyo yang duduk di dekatnya.


" Sayang, Aku juga... " rengek Tyo mengikuti ke arah istrinya.

__ADS_1


" Apaan sih? engga kreatif banget " gerutu Dimas melirik ke arah Adiknya.


" Orang Aku mau ngomong gitu, udah di duluin sama mas kok " protes Tyo tak mau kalah hanya di balas senyum oleh Siska.


" Iya sayang, nanti Aku pijit juga di rumah " sahut lembut Siska sudah duduk di samping suaminya.


Mendengar ucapan Siska memanggil Adiknya begitu lembut, langsung kembali membuat Dimas iri. Karena telah lama Ia meminta istrinya memanggil sayang, namun tak pernah dituruti.


" Tuh dengar Siska panggil Tyo sayang, Kamu kapan? " tatap Dimas ke arah istrinya masih berdiri di hadapannya tersenyum geli.


" Aku panggilnya beb aja ya " goda Rena ditertawakan suaminya karena geli.


" Beb, bebek gitu ya mba " tawa lepas Tyo menggoda, diiringi tawa ketiganya.


Tak ingin menjelaskan apapun pada gadis kecil yang tengah mendengus kesal melipat tangan di depan dada tersebut, keempatnya menghentikan tawa dan Dimas membantu kedua anaknya duduk, sementara Tyo membantu Natalie dengan menarik kursi.


" Eh Kakek telpon " ucap Natalie melihat ponselnya ada panggilan video masuk dari suaminya, dan meminta Aulia mengangkat.


Teddy yang tadi sempat menghubungi untuk menanyakan kabar istrinya, sewaktu wanita tersebut memesan makanan, langsung menghubungi kembali melalui sambungan video. Rasa rindu sudah mendera batinnya kuat akan kebersamaan keluarga, juga senyum kedua cucunya terus menghantui kala Ia sedang sendiri.


Hanya foto kebersamaan keluarga bahagia yang di ambil ketika di bandara, selalu menjadi pelipur lara pria yang kini masih sibuk di kantor tersebut. Teddy adalah duplikat watak dari Dimas yang rela tak pulang untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaan, agar bisa libur panjang di kemudian hari. Mengingat kedua menantunya akan melahirkan di waktu tak jauh berbeda.

__ADS_1


Wajah serta tawa bahagia semua yang duduk dalam satu meja itu, mengembangkan kerinduan makin kuat pada diri Teddy. Serasa ingin segera terbang kembali dan menikmati kehangatan keluarganya saat ini. Ia begitu iri karena Natalie bisa berkumpul dan terus tertawa bersama lainnya, sementara dirinya hanya bisa sibuk dengan pekerjaan menumpuk dan tiap hari harus meninggalkan Dedrick bersama asisten rumah tangga tiap hari.


Dedrick memang tak ingin lagi mengurus bisnis, dan hanya sesekali datang ke perusahaan untuk sekedar mengecek perkembangan ataupun masalah perusahaan. Usia sudah terlalu tua, membuatnya harus lebih sering beristirahat tanpa beban apapun.


Puas dengan sambungan video call. semua orang sudah mulai menikmati pesanan mereka yang telah datang. Dengan Dimas membantu istrinya makan, juga Brian dan Aulia, karena memang dirinya tak merasa lapar hingga hanya meminta camilan saja pada Mamanya.


***


Pukul delapan malam, semua sudah kembali ke rumah Tyo, dimana Dimas dan kedua anaknya serta Rena diminta menginap di sana. Karena memang Natalie ingin tidur bersama cucunya. Kaki pegal juga pinggang, membuat Natalie langsung memutuskan istirahat menyusul kedua cucunya yang sudah tertidur lebih dulu sewaktu di jalan.


Dua pasang suami istri itupun juga langsung memasuki kamar masing masing karena sudah cukup lelah. Dimas seperti biasa lebih dulu menyegarkan diri, karena tak bisa tidur jika tak mandi lebih dulu. Sementara Rena hanya membersihkan gigi dan wajah saja langsung tidur. sebab mertuanya melarang keras dirinya untuk mandi malam.


Rambut basah, dengan wajah sudah segar mengiringi langkah Dimas sudah mengenakan celana panjang juga kaos menghampiri istrinya perlahan. Mata sudah terpejam dari wajah cantik tersebut, tak tega untuk di bangunkan. Selimut dengan hati hati Ia tarik menutupi tubuh dengan buah hati yang sudah sangat ingin Ia jumpai.


" Anak Papi, engga boleh nakal di dalam ya. Kasihan Maminya udah capek " lirih Dimas berbisik pada perut istrinya.


Bibir lembut mengecup perut besar dengan tubuh miring tersebut. Janin di dalam yang selalu bergerak aktif di malam hari, selalu membangunkan Rena karena tendangan terlalu kuat dari dalam perut. Hingga Dimas selalu ikut terbangun untuk mengajak mengobrol calon anaknya, sambil mengusap lembut.


Sengaja calon Papi dari anak ketiga itu tidur menghadap perut istrinya, agar Ia bisa dekat dengan calon buah hatinya. Wajah begitu dengan dengan perut besar itu, membuatnya tersenyum sendiri sambil tak henti berbicara, walau dirinya tahu jika janin sudah mulai bergerak tersebut takkan pernah bisa menjawabnya.


Pemandangan perut bergerak kesana kemari layaknya ombak, begitu terasa lucu dan menggemaskan diperhatikan Dimas. Senyum tak pernah luntur dari wajah tampan brewokan itu, merasa begitu bahagia seperti akan mendapatkan seorang anak baru pertama kali. Karena memang Ia tak pernah merasakan hal seperti saat ini.

__ADS_1


Penuh kelembutan dan kasih sayang, tangannya membelai perut istrinya yang semakin membuat calon buah hatinya bergerak hebat dan membangunkan Maminya yang tengah terlelap. Mata setengah sadar dengan tangan mengusap perut, menggemaskan lelaki yang juga memperhatikan wajah cantik istrinya itu. Setiap tingkah Rena ketika tidur selama hamil, tak pernah luput dari pandangan suami yang selalu merekam dalam diam dan berencana memberikannya ketika usai kelahiran anaknya. Walau terkesan usil, namun itu memberikan kebahagiaan sendiri bagi lelaki yang terus merindukan istrinya ketika bekerja, dan tak henti berulang memutar video dimana wajah lelap itu mengusap lembut perut yang tengah bergerak gerak.


__ADS_2