Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Susah mengerti.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


Berulang kali mengedipkan mata seakan berpikir, Aulia belum juga memahami perkataan lembut laki laki di hadapannya. Melihat istrinya bingung, Dion tersenyum mencubit pipi Aulia gemas.


"Tidur aja yuk" ajak Dion masih tersenyum.


"Iya" senyum Aulia menjawab.


"Dia pintar dalam pelajaran, tapi kenapa masalah ini sangat susah di mengerti" gumam batin Dion seraya berjalan memutar untuk tidur.


Selimut sudah ditarik Aulia dan merebahkan diri di atas ranjang, Dion pun mulai naik dan tidur di sana menyelimuti dirinya bersama gadis merasa aneh dan gugup tersebut. Dion memiringkan tubuh ke arah istri yang juga memiringkan tubuh ke arahnya.


"Aneh" seru keduanya lalu saling memunggungi.


Belum terbiasa tidur saling menatap dan dalam selimut bersama, sepasang suami istri itu saling memunggungi menyisakan jarak lebar di antara mereka. Sama sama menggigit bibir bawah memegang dada yang berdegup kencang, mereka tak bisa memejamkan mata.


Dion memundurkan tubuh perlahan, dan berbalik dengan hati hati. Tangan langsung saja dilingkarkan pada perut gadis cepat membulatkan matanya terkejut. Napasnya seakan terhenti mendadak dengan tubuh depan suami yang menempel pada punggungnya. Perut ramping berhenti bergerak tersebut, membuat Dion mengangkat kepala mengintip.


"Napas dong" lirih Dion, melebarkan senyum paksa Aulia.


"Kamu kenapa dekat banget? aku kaget makanya berhenti napas" polos Aulia.


"Karena kita udah sah, makanya aku tidur kaya gini biar kita terbiasa" jelas Dion masih mengintip pada wajah Aulia.


Aulia mengubah posisinya pelan pelan, wajahnya kini sudah sangat dekat dengan Dion dan saling menatap. Hidung mancung keduanya menempel bersama, dengan Dion masih tetap pada posisi miring. Kepala masih terangkat mendekatkan keduanya begitu saja.

__ADS_1


Seolah ada dorongan dari jiwa lelaki dalam dirinya, Dion mendekatkan bibir pada bibir Aulia dan menikmatinya pelan. Membimbing istrinya untuk bisa membalas setiap ciumannya.


"Dion..." lirih Aulia berseru menahan tubuh suaminya.


"Percaya sama aku" senyum Dion menatap Aulia yang mengangguk lirih.


Kembali Dion menikmati bibir istrinya yang kini tangannya sudah berani untuk menari dengan bebas di atas tubuh gadis mencengkeram sisi bantal tersebut. Perlakuan lembut untuk pertama kali, membuat tubuh Aulia yang tadinya menegang berangsung rileks dan mampu menikmatinya.


"Eh, mau apa?!" terkejut Aulia dengan tangan suami mencoba membuang semua penghalang matanya.


Dion hanya tersenyum, meyingkirkan perlahan tangan Aulia yang mencoba menahan geraknya. Rasa takut dan gugup juga dirasakan Dion, yang belum pernah mengerti apapun. Tapi sebuah kewajiban harus dilakukannya, dan coba dijelaskan pada Aulia tanpa berhenti dengan tangannya.


Hubungan suami istri pertama mereka lakukan berdua. Rasa sakit itupun menitikan air mata pada ujung mata Aulia, dan coba di tenngkan oleh Dion dengan mengecup keningnya lembut. Sela sela jari diisi oleh laki laki yang kembali melanjutkan kewajibannya. Aulia meringis kesakitan dan menahan suaranya agar tak sampai terdengar keluar, mengingat Brian tidur di samping kamarnya bersama Rendi.


Dion pun tidak menyangka jika dirinya sudah berani melakukan hal itu, walaupun dalam hubungan sah. Sedangkan Aulia merasakan sakit yang aneh pada miliknya, llu perlahan melepas pelukan pada tubuh laki laki masih menempel di atasnya.


"Berat" polos Aulia berseru. mengembangkan senyum Dion di sisi wajahnya.


Masih tetap memasang senyum, Dion turun dari tubuh istrinya. Bergegas Aulia menarik selimut munutupi seluruh tubuh hingga leher, menyisakan kepalanya saja. Wajahnya memerah dengan mata terus menatap ke arah langit langit kamar, bola matanya terus bermain ke kanan dan kiri langit langit kamar berwarna pink tersebut.


"Aulia, kamu cari apa sih di atas? aku di sini loh" goda Dion menutupi rasa gugupnya sendiri.


"Aku udah lihat semuanya, engga usah tinggi tinggi entar kamu kecekik sendiri" tambah kembali Dion berusah menarik selimut.


"Malu" lirih Aulia polos, merekah senyum Dion seketika.

__ADS_1


Mengangkat sedikit kepala gadis hanya menuruti suaminya itu, lalu meletakkannya di atas pundak. Dion sengaja mendekatkan tubuh dengan Aulia dalam selimut, agar istrinya tak lagi canggung ataupun malu dengan hubungan baru mereka.


Aulia tetap mendekap selimut dengan mata teetuju pada jakun di leher putih suaminya. Rambutnya tidak henti di belai lembut oleh jari jemari Dion, untuk membuat istrinya rileks juga dirinya sendiri.


"Terima kasih untuk tetap menjaga kesucian kamu, aku cinta sama kamu Aulia. Aku masih belum bisa percaya kalau bisa dapatin kamu sekarang, rasanya masih kaya mimpi" tulus Dion, membuat Aulia tersenyum tetap menatap jakun laki laki bersikap lembut padanya.


"Aku juga cinta sama kamu" tulus Aulia menjawab meski tangannya tetap memegang selimut di depan dadanya, tanpa membalas pelukan Dion.


"Masa? dari kapan?" goda Dion memundurkan tubuh menatap wajah Aulia.


"Dari dulu, waktu kamu bilang sama Papi buat engga biarin aku dekat sama cowok lain. Dari situ udah cinta sama kamu. Tepatnya pas pertama lihat kamu tanding basket waktu turnamen dulu" jelas Aulia panjang lebar mengejutkan Dion yang tak pernah tahu.


"Ha? serius? itu kita belum kenal loh" terkejut Dion dalam bahagia.


"Iya, udah kagum kagum aja sih sama kamu dari waktu itu, lama lama jadi suka cuma engga berani lanjutin cuma dipendam aja sampai kamu bilang sendiri sama papi, dan di situ aku seneng banget" panjang lebar kembali Aulia bercerita, membahagiakan Dion.


"Tahu gitu aku nikahin kamu dari SMA" ucap Dion dengan senyum terukir.


Aulia hanya memercingkan wajah bersama senyum mengembang akan ucapan suaminya. Perasaan pernah dikuburnya dalam, tidak pernah di sangka akan benar benar terbalaskan oleh laki laki idola sekolahnya tersebut.


Seperti sebuah taman bunga bermekaran hati Dion mendengar setiap perkataan Aulia yang jujur dan polos. Dion sendiri tidak pernah tahu jikalau Aulia juga mencintai dirinya. Awalnya ia kira Aulia hanya mau menikah karena Papinya, dan karena lelah untuk di kejar yang akhirnya menyerah untuk menerima.


Namun ungkapan hati Aulia membuatnya yakin jika memng mereka saling mencintai dari dulu. Hanya saja sama sama saling malu mengungkapkan, dan memilih untuk mencintai dalam diam. Ketika di sekolah pun, Dion tidak berani mendekati Aulia walau sudah mengatakan niatnya pada Dimas. Ia hanya memperhatikan melalui temannya yang merupakan sahabat dari Aulia.


Tidak pernah keduanya berbicara hanya berdua saja, dan baru kali ini mereka bisa berbicara berdua dan saling terbuka akan perasaan masing masing. Dion hanya akan menitipkan coklat ataupun boneka pada Aulia melalui Seva, dan tidak bisa ditolak Aulia karena tak ingin menyakiti. Pemberian Dion pun di berikan Aulia pada adik kecilnya, Dinda. Setiap apapun yang di berikan Dion selalu diberikan pada Dinda. Bukan tidak menyukai, karena Aulia memang tidak ingin menyimpan pemberian laki laki dalam kamarnya sendiri yang akan membuatnya berfantasi akan sebuah hubungan pacaran.

__ADS_1


__ADS_2