
STOP PLAGIAT!
Hingga malam hari Rena masih diam karena Dimas juga tak menegurnya sama sekali semenjak perdebatan mereka siang tadi. Andre yang diminta datang kerumah oleh Dimas membawa beberapa dokumen dan harus ditanda tangani oleh lelaki yang duduk di ruang tamu bersama sekretarisnya itu. Sementara Rena membantu putrinya belajar sambil menjaga Brian karena putranya terus mengganggu Dimas yang tengah mempelajari dokumen membuat Rena terpaksa membawanya ke kamar Aulia untuk menemani kakaknya mengerjakan beberapa tugas rumah. Rasa lelah dan kantuk yang tak tertahan membuat perempuan cantik tersebut tanpa sadar telah terlelap bersama dua buah hatinya hingga pagi hari usai Ia membantu Aulia mengerjakan tugas semalam.
Pukul 5 pagi, Rena yang sudah bangun dan membersihkan diri juga melaksanakan ibadah di kamar Aulia mencoba untuk menghampiri suaminya di kamar untuk membangunkan lelaki yang tak bicara padanya sama sekali.
" Kamu udah bangun mas? Kamu mau kemana lagi? " tanya Rena mendapati Dimas mengemas beberapa pakaian di koper kecil berwarna merah.
" Keluar Kota " singkat Dimas merapikan pakaiannya.
" Kamu kan baru pulang kemarin mas, kok udah mau pergi lagi? " Tanya Rena kembali dan mendekat ke arah suaminya.
" Ya udah, Aku bantu ya mas " tambah Rena meraih pakaian di atas tempat tidur untuk Ia lipas dan memasukkannya ke koper.
" Kamu sama siapa ke luar Kota? sama Andre? " tambah Rena terus bicara meski tak mendapatkan jawaban apapun dari suaminya.
" Sama Ana juga " singkat Dimas sembari mengganti pakaian membuat istrinya membuang mapas kasar karena suami yang terus bernada singkat dan dingin terhadapnya.
" Mas pergi berapa hari kok banyak banget pakaiannya? " tanya Rena menutup koper yang sudah selesai Ia rapikan.
__ADS_1
" Kenapa sih Kamu banyak banget nanya? bukannya Kamu seneng kalau Aku engga pulang? " tegas Dimas mengejutkan Rena karena nada sedikit membentak suaminya.
Lagi lagi perempuan yang mengenakan daster kesukaannya itu menghela napasnya panjang mencoba untuk tetap sabar dan tenang menghadapi suaminya.
" Iya Aku minta maaf mas, Aku keluar aja biar Kamu bisa siap siap " ucap Rena masih dengan nada lembutnya dan beranjak meninggalkan Dimas yang langsung menarik tangannya kasar hingga tubuh Rena tersentak kaget dan memekik kesakitan karena genggaman Dimas begitu kuat Ia rasakan.
" Aku sengaja pulang karena Aku kangen sama Kamu dan anak anak, apa ini yang Aku dapat sekarang Rena? " tegas Dimas menatap dalam mata istri yang menatapnya heran penuh tanya.
" Kamu kenapa sih mas dari kemarin marah marah terus? " tanya Rena penuh keheranan pada sikap suaminya.
" Kenapa? Aku baru pulang dan Kamu malah sibuk urus pekerjaan Kamu bahkan Kamu engga tidur di kamar, Kamu tanya kenapa Rena? " seru Dimas yang semalam menunggu istrinya di kamar namun tak kunjung kembali.
" Maafin Aku mas, Aku memang salah " sahut Rena mencoba tetap sabar dengan amarah suaminya pagi ini.
" Apa sekarang Kamu menyesal mas? Kamu menyesal sudah minta Aku tinggal di sini dan menikah lagi sama Aku? " tanya Rena terluka akan perkataan suami yang begitu menyakiti hatinya.
" Aku engga sangka Kamu bisa ngomong kaya gitu mas. Kalau itu mau Kamu, baik Aku akan pergi dari sini juga dari kehidupan Kamu" tambah Rena tak kuasa menahan perasaan sakitnya dan pergi meninggalkan Dimas yang diam saja.
Lelaki yang menyadari akan ucapannya itu langsung mengejar Rena yang hendak mengemas pakaiannya juga pakaian Brian yang ada di almari miliknya. Dimas menarik koper yang di ambil Rena dan membuangnya ke lantai begitu keras. Istri yang masih tak memahami akan kemarahan suaminya sekuat tenaga menahan air matanya karena tak ingin membuat matanya sembab yang akan menghadirkan banyak pertanyaan Aulia, karena putrinya sudah bisa memahami segalanya sekarang.
__ADS_1
Perasaan rindunya terhadap Rena membuat Dimas begitu tak masuk akal hingga harus marah marah hanya karena pekerjaan istrinya yang dari awal Ia sudah mengijinkan Rena untuk mengerjakannya di rumah, terlebih ketika Rena tak kembali ke kamar membuat Dimas melontarkan kata kata menyakitkan pada istrinya tanpa Ia sadari. Dimas menutup keras pintu almari Rena dengan sekuat tenaga hingga perempuan yang terhempas ke pintu almari sebelahnya itu memejamkan mata saking terkejutnya.
Tatapan penuh amarah Dimas karena Rena yang langsung ingin pergi hanya karena ucapannya itu benar benar menakuti istri yang masih Ia genggam kuat pergelangan tangannya dengan tubuh yanhmg Ia dekatkan.
" Kamu benar benar mau pergi? " tegas Dimas menatap dalam mata Rena dengan penuh amarah.
" Jawab! Kamu mau pergi? " Teriak Dimas seraya memukul pintu almari dengan tangan mengepal karena emosi.
Perempuan yang begitu merasa takut akan emosi suaminya hanya diam tanpa menjawab apapun, sementara Dimas tak ingin kehilangan istrinya menyampaikan semua dalam emosi begitu Ia tahu Rena handak mengemasi pakaian. Menyadari istrinya tengah begitu ketakutan hingga menggenggam kuat kedua sisi bagian bawah dasternya sembari mata yang terpejam dengan begitu kuat, Dimas pun meraih tubuh Rena dan memeluknya erat.
" Maaf, Aku cuma kangen sama Kamu. Aku engga tahu kenapa bisa sampai semarah ini" seru Dimas merasa bersalah pada istri yang tak membalas pelukannya itu.
" Maafin Aku, jangan nangis " tambah Dimas merasakan isakan begitu kuat dari dada Rena.
" Aku engga menyesal atas pernikahan Kita, Aku bahagia bisa bersama Kamu lagi. Tolong maafin Aku, Aku cuma kecewa karena semalam Kamu engga balik ke kamar dan Aku nunggu Kamu semalaman " tambah Dimas menjelaskan pada istrinya yang masih menangis dengan terisak dalam dekapan yang tak di balas oleh Rena.
" Badan Aku capek dan ketiduran di kamar anak anak bukannya Aku sengaja engga mau ke kamar" sahut Rena lirih.
" Maafin Aku sayang, Aku terlalu egois " ucap Dimas menyesal dan membawa istrinya untuk duduk di sofa kamar mereka.
__ADS_1
" Aku harus seperti apa lagi mas? " batin Rena dalam hati.
Sikap kasar yang ditujukan pada Rena dan membuat istrinya ketakutan hingga menangis membuat lelaki yang berusa menyeka air mata istrinya tersebut amat menyesal. Ia begitu merindukan Rena dan ingin menghabiskan waktu bersama istrinya tanpa menyadari kelelahan istri yang mengurus dua anak dari pagi hingga malam yang membuatnya harus tertidur ketika menemani anak anaknya tidur. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa lagi pada Dimas agar suaminya tahu jika Ia tak menginginkan karis dan hanya ingin berkumpul bersama suami juga anak anaknya, pekerjaan yang tak bisa Ia lempar begitu saja karena perjanjian kontrak demgan klien dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan waktu di Paris yang masih harus Ia selesaikan atas permintaan klien yang tak ingin itu di kerjakan orang lain.