Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 131


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Kedua pegawai yang telah mengerti akan tugas mereka pamit untuk undur diri karena harus pergi ke luar kota menggantikan Dimas yang tak ingin meninggalkan istri yang baru saja berbaikan dengan nya. Istri yang menemani suaminya untuk mengantar pegawai sampai teras rumah merasa aneh akan pandangan Ana pada Dimas yang sering mencuri pandang ketika lelaki dengan balutan piyama tidur itu menerangkan tentang pekerjaan. Ia berniat untuk mencari tahu pada Bi Ijah karena pandangan tak suka dari asisten rumah tangganya terhadap Ana tadi membuatnya sedikit kepikiran akan apa yang sudah terjadi.


" Mas, Aku ke dapur dulu ya mau buat rujak manis " pamit Rena usai mobil kedua pegawainya keluar dari halaman rumah.


" Kamu ngidam sayang? " tanya Dimas dengan ekspresi bahagia menatap istrinya seraya mengembangkan senyum di wajah tampannya.


" Engga mas, tadi Tyo telfon katanya Siska pengen rujak manis buatan Aku " jelas Rena seketika mengubah ekspresi bahagia lelaki di hadapannya menjadi sedikit kecewa.


" Aku pikir Kamu hamil lagi terus Ngidam " gumam Dimas lirih namun masih bisa terdengar oleh istrinya meski samar.


" Maaf ya mas, mungkin belum waktunya " ucap Rena menangkap kekecewaan dari wajah suami yang Ia raih tangannya untuk di genggam.


" Engga sayang, jangan minta maaf lagian juga masih ada anak anak dan Kita baru nikah lagi, Aku aja yang terlalu buru buru sayang" seru Dimas memeluk istrinya yang tengah merasa sedih dan bersalah.


" Ya udah Kamu buatin Siska dulu biar Aku jaga Brian ya " tambah Dimas melepas pelukannya dan tersenyum mengecup lembut kening istri yang mengangguk untuk menjawabnya.


Masih dalam rasa bersalah Ia meninggalkan suaminya di teras rumah, keinginan Dimas untuk kembali memiliki anak membuat Rena seakan terbebani karena belum bisa mewujudkan keinginan suaminya meski memang mereka baru saja kembali bersama setelah terpisah begitu lama. Dimas sendiri merasa tak enak telah menyinggung masalah kehamilan dan membuat istrinya tampak sedih hingga harus meminta maaf padanya.


Rena yang mulai menyiapkan bahan bahan untuk membuat Adik iparnya rujak yang akan di ambil Tyo setelah ini memulai pembicaraan dengan Bi Ijah yang kala itu juga ada di dapur membuatkan camilan kesukaan Aulia juga Brian.


" Bi, Aku boleh tanya gak? Bibi engga suka sama pegawainya Bapak ya? kenapa Bi? "tanya Rena lembut dan sopan pada asisten rumah tangga yang terkejut dengan perasaan tak enak.


" Maaf Bu, Bibi sudah lancang tadi " sahut Bi Ijah dengan nada bersalah.


" Engga Bi, memangnya kenapa sih? Bibi jujur aja sama Aku engga apa-apa, tolong ceritain semua yang Bibi tahu " jawab Rena yakin jika ada sesuatu yang berusaha untuk ditutupi darinya.


" Maaf Bu, tapi Bibi cuma merasa Mba Ana ada niat kurang baik saja, mungkin cuma perasaan Bibi " sahut Bi Ijah takut dan membuat majikannya terkejut akan perkataan asisten rumah tangga yang juga tengah Ia rasakan saat ini.

__ADS_1


" Tolong ceritain semuanya Bi " pinta Rena memegang tangan Bi Ijah dengan penuh harap.


Dengan rasa takut dan tak enak Bi Ijah memulai untuk menceritakan tentang Ana yang sering datang ke rumah waktu Rena dan Dimas tengah terpisah karena salah paham yang di buat oleh Natalie. Ana selalu berusaha mendekati Aulia dengan sering mengunjungi gadis kecil tersebut ketika Dimas tak ada di rumah karena memang Dimas lebih sering tak pulang ketika surat keputusan perceraiannya dengan Rena mulai Ia terima. Aulia yang ingin mengutarakan pada Papinya namun di larang oleh Bi Ijah karena emosi Dimas yang sering meledak dalam kesendiriannya tanpa Rena membuat Bi Ijah juga Bi Lastri takut jika Nona kecilnya akan mendapat amarah dari Papinya.


Ana yang selalu bertingkah layaknya Nyonya rumah tersebut tak pernah di sukai oleh kedua asisten rumah tangga yang begitu tak menyukai sikap Ana karena sering kali lancang untuk mengintip ke dalam kamar Dimas dan di marahi oleh Aulia yang kala itu memergoki Ana dan berdalih jika Ia salah kamar karena hendak ke kamar Aulia. Bahkan Bi Ijah juga pernah mendengar ucapan Ana jika Ia bersedia menggantikan Rena untuk menjadi Ibu Aulia ketika hari minggu Ia datang ke rumah saat Dimas di rumah. Majikan yang tak menyukai perkataan pegawainya itu dengan keras memperingatkan untuk tak pernah berusaha mendekati dirinya ataupun putrinya lagi dengan alasan jika Ia tak akan pernah mencari pengganti untuk istrinya. Namun karena Ana yang tak mendengarkan perkataan Dimas masih sering datang selama dua tahun saat Rena tak ada meski sering di tegur oleh Ayah dari dua anak tersebut.


Mendengar semua penjelasan Bi Ijah, Rena merasakan takut jika suaminya lama lama akan tergoda oleh sekretarisnya yang cantik dan seksi tersebut, apalagi kesempatan yang terbuka lebar karena pekerjaan memaksa keduanya untuk sering menghabiskan waktu bersama bahkan tak jarang untuk pergi keluar kota dan menginap.


" Sayang, Aku mandiin Brian dulu ya Dia udah basah semua ini " tegur Dimas menghampiri istrinya yang melamun dengan mengupas beberapa buah setelah bumbu yang Ia buat jadi.


Bi Ijah yang mendengar ucapan Dimas lalu menyentuk lembut pundak majikan yang langsung tersadar dari lamunannya itu.


" Iya Bi kenapa? "sahut Rena terkejut dan menatap ke arah Bi Ijah yang merasa bersalah telah membuat majikannya banyak berpikir atas cerita yang Ia lontarkan tentang Ana.


" Di panggil Bapak Bu" seru Bi Ijah lembut menyadarkan Rena jika ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan sorot penuh tanya.


" Bi tolong lanjutin sebentar ya, Aku mandiin Brian dulu " pinta Rena dan sanggupi oleh Bi Ijah.


Dengan tatapan penuh tanya Dimas mengikuti langkah istrinya menuju ke kamara Aulia untuk membersihkan putranya yang sudah basah kuyup karena ikut Bi Lastri memandikan kelinci meski telah di larang.


" Kamu kenapa sih sayang? Kamu pikirin apa? " tanya Dimas yang ikut memandikan Brian.


" Engga ada mas " sahut Rena tersenyum.


" Aku engga nuntut Kamu buat cepat hamil kok sayang jadi jangan terlalu dipikirkan " ucap Dimas dengan nada bersalah.


" Engga mas bukan itu, Aku cuma ada kepikiran hal lain aja kok " sahut Rena membilas tubuh Brian dari busa sabun dengan bantuan suaminya.


" Nanti aja ya sekalian ada yang mau Aku omongin sama Kamu" tambah Rena ingin menanyakan sendiri tentang Ana pada suaminya karena yang Ia ingat jika suaminya pernah mengatakan jika tak ada perempuan yang pernah datang ke rumah ketika mereka terpisah.

__ADS_1


" Iya sayang " jawab Dimas memaksakan senyum karena tak ingin kembali ada masalah dengan Rena dan tak tahu akan apa yang hendak di katakan oleh istrinya di balik wajah serius namun tenang tersebut.


Karena rasa penasaran dan ingin segera tahu apa yang telah mengganggu pikiran istrinya, Dimas dengan cepat mengganti pakaian Brian lalu mengantar bocah kecil tersebut untuk di temani makan oleh Bi Ijah sementara meminta istrinya menunggu di kamar agar bisa cepat berbicara tanpa mengulur lagi yang akan membuat masalah lagi dalam rumah tangganya. Lelaki yang masih berbalut kimono tersebut berjalan cepat kembali ke kamar dan menghampiri Rena yang tengah merapikan tempat tidur. Karena hanya tinggal berdua saja, Dimas yang merasa gerah dengan kimono nya melepas kimono tersebut dan menghampiri istrinya dengan dada bidang yang terbuka.


" Ada apa sih ?" tanya Dimas lembut memeluk tubuh istrinya dari belakang.


" Ana sering ke rumah mas? " tanya Rena tanpa basa basi lagi dengan menghentikan kegiatannya.


Lelaki yang masih melingkarkan tangan di perut istrinya itu terkejut mendengar pertanyaan Rena dan membalikkan tubuh istrinya untuk saling berhadapan.


" Kenapa nanya gitu sayang? " tanya Dimas kembali dengan mengajak istrinya untuk duduk agar lebih enak ngobrol.


" Aku dengar dari Bibi kalau Dia sering kesini waktu Aku engga ada selama dua tahun mas, benar? " jelas Rena membuat suaminya menghela napas panjang dan membuangnya kasar.


" Dia suka sama Kamu? Dia mau jadi pengganti Aku itu benar mas? " tambah Rena kembali.


" Iya sayang " lirih Dimas mengejutkan Rena.


" Bukannya Kamu bilang engga ada perempuan yang datang ke rumah waktu Kita pisah? " tanya Rena mengingat ucapan suaminya waktu di Jogja.


" Maaf sayang Aku bohong sama Kamu karena Aku engga mau Kamu pergi lagi waktu itu dan Kita baru ketemu. Dia memang dekati Aku sama Auli tapi Aku udah sering larang Dia, sebisa mungkin Aku menghindar dari Dia dan kalau bukan karena pekerjaan Aku juga engga mau ketemu Dia. Aku udah bilang semua sama Kakek waktu di Belanda dan semua sedang di urus Kakek untuk pemindahan Dia karena Kita engga bisa pecat karyawan karena masalah pribadi. Aku cuma cinta sama Kamu dan engga akan ada yang akan gantikan Kamu " jelas Dimas panjang lebar menggenggam tangan Rena dan menatap dalam mata istrinya yang penuh kekhawatiran.


" Aku takut Kamu lama lama tergoda sama Dia mas, apalagi Kita sering bertengkar akhir akhir ini " lirih Rena dalam perasaan penuh kekhawatiran.


" Engga akan pernah sayang, cuma ada Kamu dan selamanya cuma Kamu dalam hidup Aku juga anak anak. Jangan pikirkan apa apa lagi, Kamu percaya sama Aku engga ada perempuan lain " sahut Dimas mencoba menenangkan istrinya.


" Jangan khianati Aku mas " pinta Rena memeluk erat suaminya dengan penuh perasaan.


" Engga sayang, Aku cinta sama Kamu dan engga ada pikiran untuk itu " sahut Dimas membelai rambut Rena lembut.

__ADS_1


__ADS_2