Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 12


__ADS_3

**STOP PLAGIAT, HARGAI SAYA JUGA KELUARGA SAYA KARENA INI KISAH MEREKA. **


Tepat di hari minggu, Rena libur dari magang dan merasa jenuh berada di rumah tanpa suami juga tawa ceria putrinya. Dimas dan Aulia tengah pergi ke bandara untuk menjemput adik serta adik ipar yang baru saja tiba dari Paris untuk menemui Aulia dan mengajak liburan bersama selama libur sekolah.


Rena sengaja tak ikut karena perut terasa kurang nyaman akan datangnya tamu bulanan. Ia memilih membantu pekerjaan asisten rumah tangga daripada begong dan membuat waktu lambat berjalan. Memastikan sendiri beberpa makanan yang hendak dihidangkan untuk mneyambut kedatangan dua orang tak pernah kembali sudah sangat lama


Selesai membantu pekerjaan dapur, Rena memilih ke depan untuk menyirami taman. Hari sudah sore, namun suami dan anaknya belum juga terlihat. Semua kegiatan dilakukan demi mengusir rasa jenuh juga kerinduan pada putri kecilnya.


Asik menyirami tanaman di halaman, terdengar klakson mobil dan cekatan Pak Adi berlari ke arah pagar untuk membuka. Terlihat mobil putih memasuk halaman rumah, Rena mematikan saluran air dan menunggu hingga mobil tersebut berhenti agar ia dapat melihat kembali putrinya.


"Mami!" teriak Aulia dari balik kaca jendela mobil terbuka lebar seraya melambaikan tangan dan mengeluarkan sedikit kepala keluar.


Senyum semakin merekah ditunjukkan, berjalan menghampiri mobil terparkir tepat di depan teras rumah. Aulia segera turun dan melompat pada gendongan perempuan berdaster batik tersebut, memeluk seperti orang lama tak berjumpa.


"Mami sudah baikan?" tanya Aulia, melingkarkan satu tangan di tengkuk perempuan mencium pipinya tadi.


"Sudah, sayang. Lihat Kamu sakitnya Mami langsung sembuh," lembut Rena menjawab, tetap dengan senyum cantik menghiasi paras cantiknya.


Lagi lagi Rena mendaratkan ciuman gemas pada putrinya, entah mengapa seharian tanpa kehadiran Aulia cukup membuatnya hampa. Hari yang biasa dilalui dengan segala kecerewetan juga tawa riang begitu dirindukan ketika putrinya tak ada di rumah.


"Auli, Kamu turun dulu dong. Perut Mami masih sakit itu," kata Dimas usai berbisik dengan dua orang dijemputnya tadi. Aulia menggelengkan kepala seraya mengeratkan pelukan.

__ADS_1


"Sudah enak kok, Mas. Lagian Aku kangen banget sama Auli, jadi biarin aja ya?" kata Rena, menarik tangan suaminya seraya membungkuk mencium tetap dengan menggendong putrinya.


Kedua orang di halaman itu terkejut melihat pemandangan langkah terjadi dihadapan mata mereka bersama saat ini, terlebih ketika mengetahui kedekatan Rena juga Aulia yang notabene hanyalah hubungan Ibu dan anak tiri. Namun tak dipungkiri dalam lubuh hati terdalam, Tyo adik kandung dari Dimas itu merasakan sebuah kebahagiaan melihat keharmonisan keluarga kecil kakanya.


"Oh ya, ini Tyo dan ini istrinya Siska." Dimas memperkenalkan adik dan adik iparnya pada sang istri.


Berjabat tangan untuk saling berkenalan, Rena menyebutkan namanya dalam nada bicara lembut dimiliki. Ia mengajak keduanya masuk dan dituruti dengan Dimas lebih dulu meminta Pak Adi membawakan barang barang adiknya ke dalam rumah.


Melanjutkan obrolan diruang tamu, Aulia sama sekali tidak mau turun dari pangkuan Maminya meski berulang kali dibujuk. Ia sangat nyaman terus bergelayut pada perempuan juga suka menciumi dirinya, tanpa pernah protes berapa berat badan Aulia saat ni yang menjadi semakin gemuk karena doyannya makan.


"Setiap hari Aulia kayak gini, Mas?" tanya Tyo masih memperhatikan tingkah keponakannya.


"Iya, memang kayak gitu kalau udah sama Maminya. Nih kayak ada lem kuat gitu, engga mau lepas. Semenjak punya Mami, dia lupa kalau masih punya Papi. Ngeselin banget," kata Dimas bercerita, seraya menggoda putrinya yang malah semakin menenggelamkan wajah pada leher Mmainya.


"Sama anak kecil tuh ngomongnya dijaga kali, Dek. Engga los kayak gitu," protes Dimas merasa tak enak akan pertanyaan adiknya dalam kewajiban belum pernah dijalani hingga saat ini.


Tyo terkekeh sembari menggaruk tengkuk, sikap jahilnya tidak pernah berubah untuk menggoda kakaknya. Entah itu bertemu langsung atau hanya mellaui sambungan telpon. Tyo lah yang menyimpan banyak rahasia juga menjadi saksi bisu dalam perjalanan hidup kakaknya.


Melihat suaminya segera memprotes, Rena mengira jika memang Dimas tak ingin membahas tentang anak. Padahal Dimas hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan, dimana ketika diladeni maka adiknya tidak akan berhenti menggoda hingga puas.


"Mami, Auli ngantuk. Auli mau tidur," rengek Aulia merasa mengantuk di pangkuan Rena, di usap lembut punggungnya untuk membantu tertidur.

__ADS_1


"Kalian bersih bersih badan dulu, Saya siapkan makan habis itu Kita makan bersama. Saya bawa Auli ke kamar dulu untuk tidur, kasihan dia capek." Ucap Rena pada adik dan adik iparnya seraya mengembangkan senyuman.


"Iya, Mbak. Itu daritadi juga udah ngeluh ngantuk tapi engga mau tidur soalnya mau tidur sama Mami katanya," jawab Siska, dibalas senyumn kakak iparnya.


Meninggalkan ketiga orang di ruang tamu, Rena membawa putrinya untuk masuk kedalam kamar agar dapat tidur nyaman. Sedangkan lainnya melanjutkan sedikit obrolan untuk melepas rindu sambil menunggu Pak Adi memasukkan barang dalam kamar tamu disiapkan untuk Tyo dan Siska selama menginap.


Dimas menceritakan semuanya pada Tyo ketika Siska sudah berpamitan ke kamar lebih dulu. Apa yang telah terjadi, setiap ucapan tak dikurangi sedikitpun oleh Dimas pada Adiknya. Namun suatu hal mencengangkan di dengar dari Tyo jika seseorang ingin dirinya berhenti menghubungi itu masih saja saling berhubungan baik dengan Siska juga Tyo dan keluarga lain.


Rasa kecewa tak dapat ditampik dalam diri Dimas, wajahnya tampak sendu namun segera dihibur oleh Tyo mengatakan jika semua baik baik saja dan orang yang meminta untuk dilupakan itu akan segera kembali dalam waktu dekat untuk mengunjungi Mamanya.


Dimas pun berpamitan pergi, menyuruh adiknya masuk ke kamar untuk mandi dan istirahat sejenak sampai waktu makan malam. Entah apa yang harus dilakukan pada seseorang yang tak pernah memberi kabar tersebut, semua seperti serba salah walau dirinya telah membuka hati lebar pada Rena,


"Auli sudah tidur?" tanya Dimas memasuki kamar putrinya perlahan.


"Sudah, MAs." Rena menjawab lirih seperti orang berbisik.


"kamu beneran udah baikan perutnya? kalau masih sakit, lebih baik kita ke Dokter." Dimas duduk di ranjang putrinya, menatap ke arah perempuan tengah menyelimuti tubuh lelap di ranjang.


"Engga perlu, Mas. Ini juga cuma tamu bulanan biasa aja kok," jawab Rena.


"Yaudah, Aku kebawah dulu ya. Mau bantu Bibi siapin makan malam," pamit Rena, dihentikan cepat oleh Dimas.

__ADS_1


Beranjak dari duduk, Dimas masih memegang pergelangan tangan istrinya lalu menarik dalam pelukan. rena tak tahu pasti apa yang tengah dilakukan suaminy, namun semua membuatnya semakin menggila dengan debaran tak menentu dalam jantung sekana ingin elompat keluar.


Pelukan baru dirasakan setelah berbulan bulan menikah, cukup memebuat Rena merasakan sebuah getaran baru yangtak sanggup dijelaskan melalui perkataan. Hanya rasa nyaman yang pasti untuk diucapkan karena dada bidang dalam aroma menyegarkan suaminya seperti siap memabukkan.


__ADS_2