Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 71


__ADS_3

Sampai nya di rumah, Aulia sudah menyambut Dimas dan Rena yang baru turun dari kendaraan.


" Sayang, mami mandi dulu ya badan mami lengket. Habis ini mami temenin Auli main " ucap Rena ke arah Aulia yang sudah berada di gendongan Dimas.


Dimas menatap lekat wajah Rena dengan perasaan yang bercampur, namun ia ingin memberikan Rena waktu untuk sendiri lebih dulu.


" Iya mami " jawab Aulia mencium pipi Rena yang berusaha tersenyum.


" Aku ke atas ya mas " pamit Rena tersenyum ke arah Dimas.


" Iya sayang, nanti aku susul " jawab Dimas.


Rena meninggalkan Dimas dan Aulia yang berjalan di belakang nya. Dengan segera ia menuju ke kamar dan memasuki kamar mandi lalu mengunci nya rapat dari dalam. Ia tak kuasa lagi menahan air mata yang seakan ingin tumpah dari tadi. Dalam kamar mandi ia menguraikan air mata merasakan sakit hati atas penolakan Mertuanya. Meski ia tahu jika memang pernikahannya dengan Dimas tak pernah mendapat restu hingga pada saat mereka menikah tak satupun keluarga Dimas yang datang. Namun Rena tak menyangka jika setelah lama mereka menikah, mama mertuanya masih tak bisa menerima dirinya sebagi bagian dari keluarga.


Dimas mulai merasa cemas dengan Rena yang tak kunjung turun meski sudah satu jam ia menunggu bersama Aulia.


" Auli sama bi Lastri dulu ya, papi mau lihat mami dulu" seru Dimas membelai rambut Aulia yang tengah bermain puzzle.


" Iya papi " sahut Aulia yang masih asik dengan mainan di tangan nya.

__ADS_1


Dimas beranjak menghampiri bi Lastri agar ia menemani putri kecilnya bermain lalu menemui Rena di kamar. Rena yang masih belum keluar dari kamar mandi membuat perasaan Dimas tak tenang dan mengetuk pintu kamar mandi pelan.


" Sayang mandi nya udah dong, aku juga mau mandi " seru Dimas dari balik pintu kamar mandi.


" Iya mas sebentar " sahut Rena yang dengan cepat menatap wajah nya di kaca memperhatikan mata nya yang memerah karena air mata serta terlihat sembab.


Perlahan Rena membuka pintu kamar mandi dan keluar menghampiri Dimas dengan hanya mengenakan kimono handuk serta kepala yang ia bungkus dengan handuk putih usai keramas.


" Udah mas " seru Rena menundukkan mata nya berusaha menyembunyikan dari tatapan Dimas.


" Kenapa kamu engga lihat aku? " tanya Dimas menarik dagu Rena ke atas.


" Mas, aku mau ganti baju dulu " saru Rena lirih.


" Sebentar aja sayang, biar kaya gini dulu " sahut Dimas tak ingin melepas pelukan erat dari tubuh wanita yang terus berusaha tegar di hadapan nya.


Rena merasakan dada Dimas seakan menahan isakan tangis dengan nafas panjang yang selalu Dimas tarik dan membuangnya pelan.


" Mas? " seru Rena berusaha melepas pelukan Dimas yang makin di eratkan Dimas karena air mata yang jatuh di atas pipi nya tak sanggup ia tunjukkan pada Rena.

__ADS_1


" Aku tahu kamu sedih, kamu nangis sayang. Kenapa kamu sembunyikan semua dari aku? " ucap Dimas lirih.


" Aku engga nangis mas, mata aku kena shampoo " kilah Rena yang masih berusaha tegar dan tak ingin menciptakan jarak anatar suami dan mertuanya.


Dimas melepas pelukan nya dan membimbing Rena duduk di atas ranjang dengan dia berjongkok di hadapan Rena memegang ke dua tangan Rena serta wajah yang ia hadapkan ke wajah Rena dalam.


" Apapun yang terjadi, kita bisa menghadapinya bersama. Jangan menanggung apapun sendiri karena kamu punya aku " ucap Dimas menatap lekat wajah Rena dengan mata yang sudah kembali berkaca kaca.


" Maafin aku mas " seru rena mulai menitikkan air mata nya kembali.


Dengan cepat Dimas beranjak dan duduk di samping Rena memeluk tubuh Rena dan membiarkannya menangis di dada nya hingga puas.


" Aku tahu aku memang engga pantas buat kamu, dan aku sadar semua itu dari awal kita menikah. Kalau memang mama ingin kamu tinggalin aku, aku ikhlas mas " ucap Rena yang sudah berpikir panjang di kamar mandi ketika ia mencoba memahami perkataan mertua nya.


" Engga, kita engga akan pernah pisah sayang. Cuma kamu yang pantas buat aku, aku engga mau kamu ngomong kaya gitu " sahut Dimas.


" Aku engga mau kamu bertengkar dan lawan mama kamu demi aku mas. Mungkin memang jalan yang terbaik hanya perpisahan kita, dan mas bisa menikah dengan wanita yang di inginkan mama " tambah Rena yang menginginkan Dimas tetap rukun dengan wanita yang mengandung nya selama sembilan bulan.


" Aku engga akan pernah mau berpisah sama kamu sampai kapanpun. Jangan ngomong kaya gitu, jangan terlalu banyak berfikir kamu harus ingat kandungan kamu sayang, anak kita " seru Dimas.

__ADS_1


* Mohon dukungan nya untuk karya baru author ya yang judul nya " Cinta Dalam Kebencian " biar author tambah semangat up karena ngerasa karya author kalian sukai, jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian karena itu sangat berarti untuk menyemangati author. Terimakasih *


__ADS_2