Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 116


__ADS_3

STOP PLAGIAT


Langkah kaki Rena terhenti begitu melihat suaminya duduk dengan menundukkan wajahnya.


" Aku tahu Kamu orang baik mas dan Kamu menyayangi keluarga Kamu " batin Rena dalam hati dengan perasaan tak tega menatap suaminya.


Perlahan Ia mencoba mendekat dan duduk di samping suami yang tengah menguraikan air mata dalam kesendirian.


" Mas " lirih Rena mengusap punggung suami yang langsung merebahkan kepala di pundak Rena.


Tangan lembut penuh kasihnya mengusap lembut setiap air mata yang masih membasahi pipi suaminya. Hatinya tak kuasa melihat ayah dari kedua anaknya begitu tampak sedih hingga menitikkan air matanya.


" Apa Dia akan baik baik saja? " seru Dimas lirih dengan kepala di dekat oleh tangan Rena.


" Mama akan baik baik saja mas, apa mas tidak ingin melihat mama? " sahut Rena penuh kelembutan dan di balas gelengan kepala oleh Dimas dengan mengangkat kepala serta memalingkannya dari Rena.


Istri yang begitu tahu akan perasaan suaminya meski tanpa Ia mengatakan apapun mulai berjongkok di bawah suaminya seraya menggenggam kedua tangan pria yang mencoba kuat tersebut.


" Lebih baik mas pergi lihat mama, Aku akan jaga anak anak di sini. Aku tahu mas begitu ingin memastikan sendiri kondisi mama di sana " ucap Rena penuh dengan kelembutan.

__ADS_1


" Engga " singkat Dimas tegas dengan wajah masih berpaling dari istri yang mampu memahaminya bahkan hanya dari sorot mata saja.


" Apa Kamu yakin? apa Kamu tidak akan menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi? " tanya Rena menyentak perasaan Dimas yang memang takut jika Natalie tak akan kuat menghadapi penyakitnya.


Rena meraih wajah suaminya pelan agar Ia bisa menatap wajah dengan kekhawatiran juga kecemasan yang terlukis begitu jelas. Kedua tangan Rena letakkan pada kedua sisi wajah suaminya lalu mengecup lembut bibir lelaki di hadapannya dan memeluk tubuhnya erat.


" Pergi lihat mama mas, Aku sama anak anak akan baik baik saja di sini" seru Rena mendekap tubuh kekar yang melingkarkan tangan di pinggangnya seraya mengangguk.


" Maafkan mama, jangan menyimpan dendam di hati Kamu mas. Kita lupakan semuanya dan mulai lembaran yang baru bersama " tambah Rena.


" Terimakasih sayang " sahut Dimas akan pengertian istri yang telah mampu memaafkan setiap perbuatan buruk Natalie padanya.


Mereka berdua kembali menghampiri keluarganya di dalam dan mengatakan jika Dimas akan ikut bersama untuk pergi melihat Natalie yang membuat keluarganya bahagia dan berterimakasih pada Rena karena mampu meyakinkan Dimas yang mungkin akan berpengaruh begitu besar bagi kesembuhan Natalie jika Ia melihat putra kesayangannya datang menjenguk.


Usai mengatakan semua dan makan malam bersama, Dimas berpamitan untuk mengajak keluarganya pulang karena hari kian larut juga Aulia yang harus berangkat pagi esok hari. Selama perjalanan Dimas hanya diam dengan terus mengemudi bersama perasaan yang masih belum tenang memikirkan kondisi Natalie. Hingga sampainya di rumah, Dimas meminta ijin Rena untuk langsung masuk ke ruang kerja dan membiarkan istri yang begitu mengerti dirinya menemani anak anaknya tidur sendirian di kamar.


Dimas yang tak kunjung kembali hingga dua jam Ia menunggu memaksa Rena memindahkan Brian di kamar Aulia dan meminta tolong Bi Lastri menemani anak anaknya tidur sementara Ia menunggu suaminya di ruang tv yang dekat dengan ruang kerja suaminya. Ia tak ingin masuk dan mengganggu suami yang mencoba untuk menenangkan diri di dalam ruangan gelap seperti biasa Ia menghabiskan waktu ketika pikirannya begitu penuh akan permasalahan.


Meski rasa lelah juga kantuk sudah mendera dirinya tanpa sadar memejamkan kedua mata yang sudah berusaha begitu kuat untuk terjaga. Pukul tiga dini hari, Dimas baru keluar dari zona nyamannya dan beranjak untuk menyusul istri juga anak anaknya yang mungkin sudah begitu lelap di kamar. Namun langkahnya terhenti saat melihat perempuan dengan balutan setelan piyama satin hitam duduk dengan kepala bersandar pada sandaran tangan sofa bersama mata yang sudah begitu lelap.

__ADS_1


Langkahnya menghampiri sofa panjang di depan tv tersebut lalu berjongkok mengusap lembut pipi halus Rena dan menatap lekat wajah cantik yang sudah begitu lelap di hadapannya.


" Tidak akan pernah ada lagi istri seperri Kamu di dunia ini " seru Dimas lirih merasakan kesabaran, pengertian, cinta juga kasih sayang serta perhatian Rena yang begitu besar terhadapnya juga seluruh keluarganya tanpa sedikitpun merasakan sakit hati atau membenci atas semua perlakuan buruk yang Ia terima.


Bibirnya begitu lembut penuh perasaan menempel pada bibir istrinya sebelum Ia mengangkat tubuh sintal tersebut ke kamar dan merebahkannya di atas ranjang mereka berdua. Mata yang masih terjaga terus menatap lekat setiap senti wajah cantik di hadapannya sembari ibu jari membelainya lembut. Senyumnya mengembang dengan perasaan bangga memiliki Rena juga cintanya yang begitu besar padanya.


Tanpa Ia sadari pagi telah datang dengan sinar mentari yang menyusup di sela sela jendela kamarnya. Mata yang tak pernah mampu terpejam ketika pikiran begitu banyak mendera kepalanya. Ia tak ingin membangunkan istri yang masih begitu lelap dan memilih menyegarkan diri di kamar mandi sebelum Ia menghampiri kedua anaknya.


Aulia juga Brian yang tengah di mandikan oleh Bi Lastri mempersiapkan keduanya sebelum melakukan aktifitas mereka masing masing. Sementara Bi Ijah masih sibuk di dapur menyiapkan makan sarapan.


" Hari ini sama Papi ya, Mami lagi tidur kasihan jangan di ganggu" ucap Dimas yang sudah tiba di kamar Aulia dan melanjutkan untuk memakaikan pakaian pada Brian setelah Bi Lastri meninggalkan kamar tersebut atas permintaan Dimas.


" Mami sakit Pi? " tanya Aulia yang tengah memakai seragam sekolahnya.


" Engga sayang, Mami kecapekan aja. Kamu berangkat sama Pak Adi ya, Mami harus jaga Adik " sahut Dimas.


" Iya Pi " sahut Aulia yang di raih tubuhnya oleh Dimas untuk mengikat rambut putrinya tersebut usai Ia mempersiapkan Brian lebih dulu.


Setelah semua anaknya siap, Dimas mengajak keduanya untuk sarapan yang dengan sabar Ia menyuapi keduanya penuh kasih sayang diiringi senyuman kedua asisten rumah tangganya melihat Dimas begitu sabar menggantikan tugas Rena dan membiarkan istrinya tersebut terlelap di kamar tanpa sedikitpun ingin mengganggunya.

__ADS_1


Usai sarapan, Dimas mengajak Brian untuk mengantarkan Kakaknya ke depan rumah yang sudah ada Pak Adi menunggu di sana. Aulia mencium tangan Dimas, di sambung Brian mencium tangan Kakaknya seperti ajaran Rena setiap hari. Setelah mencium ke dua lelaki yang mengantarnya hingga depan, Aulia pergi meninggalkan mereka sembari melambaikan tangannya.


__ADS_2