
STOP PLAGIAT!
Di rumahnya, Tyo dan Siska masih duduk bersama dengan putra mereka mengamati video putrinya dan tak bisa berhenti tertawa. Sandra dengan mulut penuh makanan, terlihat lucu ketika bersaha mengunyah. Natalie sendiri memang tidk pernah mengijinkan anak ataupun cucunya membuang makanan, hingga melotot tajam saat Sandra ingin memuntahkan semua dalam mulutnya.
" Aku kok jijik banget sih lihat Sandra, lihatin tuh bibirnya udah kaya ulat jalan " seru Tyo memegang ponsel, masih memutar video kiriman Dimas dan bergidik sendiri.
" Aku juga sayang, itu nurun Kamu kayaknya " tawa Siska, di lirik suaminya.
" Kamu tuh, kalau Keno baru mirip Aku sama sama ganteng. Lah itu si Sandra udah jelas foto copy an Kamu sayang, bibirnya sama sama monyong " ucap Tyo lalu terbahak sendiri.
" Kalai Aku monyong terus Kamu apa?! " jengkel Siska melihat suaminya terbahak.
" Udah Keno Kita masuk, biarin Papa tidur di teras " tambah Siska menggendong putranya dan berjalan ke arah kamar, seketika Tyo gelagapan sendiri.
" Sayang bercanda gitu aja ngambek sih? masa Aku tidur di luar? " memelas Tyo mengejar istrinya.
" Bodo amat " sahut jengkel Siska.
" Kamu engga monyong, bibir Kamu seksi, Kamu cantik. Cuma kadang suka monyong kalau cerewet sama kaya Sandra " coba Tyo merayu.
" Kamu tuh ngerayu Aku tapi sekalian ngehina ya, mana pernah Aku cerewet sih? Kamu yang selalu cerewet " sahut Sisak sudah di depan pintu kamar siap membuka.
" Iya Kamu engga pernah cerewet, Kamu cantik, lucu, imut, nge gemesin deh " ucap Tyo tersenyum dengan wajah memohon.
__ADS_1
" Bodo amat " jawb kembali Siska lalu masuk ke dalam kamar.
" Sayang, bukain dong Aku kan engga bisa tidur kalau engga bau ketiak Kamu " memelas Tyo mencoba merayu dari depan pintu.
" Aku bau? sana tidur di luar " kesal Siska.
" Engga maksdunya... " seru Tyo tak melanjutkan bingung mau mengatakn apa.
" Ini sih senjata makan tuan, nyesel ngomong deh kalau kaya gini ujungnya. Istri paling pinter kalau suruh ngambek nyuruh tidur di luar, gak tahu banyak nyamuk apa? Sandra sih ajarin ngoming bodo amat terus, sekarang betah kan ngomong bodo amat " gerutu Tyo melangkah pergi dari depan kamarnya.
" Engga ada jatah berapa hari nih kalau udah ngambek kaya gini? buruk banget nasibku " memelas Tyo meratapi nasibnya sendiri.
" Nih juga mulut kalau ngomong lurus aja engga pernah ada rem, jadinya blong kan kaya Sandra " tambah kembali Tyo memeukul sendiri bibirnya.
Sedangkan Dimas dan lainnya sudah kembali ke penginapan, dengan Dimas menggendong Sandra karena tak bisa berjalan kekenyangan.
" Papi, Akiu mau mati " ucap Sandra sudah di letakkan tubuhnya di sofa duduk.
" Tapi Akiu masih hidup " sahut Dimas menirukan ucapan juga gerak bibir Sandra, di tertawakan Aulia yang tengah mengusap punggung Sandra.
" Kak Auli, tolong usapnya lembut sedikit ya, kulit Akiu sensitif " ucap Sandra dengan gerakan tangan melambai di atas bahunya, beriringan tubuh bergerak tak henti dengan gerakan sok cantik.
" Sini Papi usap pakai cangkur biar lembut. jengkelin banget jadi anak!" kesal Dimas tetap berjongkok di depan Sandra.
__ADS_1
" Oh jangan duong Papi, nanti inces kan syakit terus menangis dan merana. Nanti kalau Akiu terluka, pasti Kak Rendi menangis kan kasyihan " ucap Sandra lalu bersendawa cepat Dimas dan Aulia menutup hidung.
" Bau banget Kamu makan bangkai ya?! " protes Dimas beranjak dengan tatapan tajam pada Sandra.
" Upsi, Akiu kelepasan " tawa kecil Sandra menutup mulut dengan mata membulat.
" Kamu nih engga cantik banget tapi mulutnya bau " dorong Aulia pada punggung Sandra.
" Kakak, biasanya itu cantik cantik mulutnya bau " protes Sandra kembali meletakkan tangan Aulia pada punggung nya untuk mengusap kembali.
" Iya Kamu cantik, tapi kalau lihatnya habis Kita lihat sinar yang terang banget terus lihat Kamu baru cantik " protes Dimas sudah duduk tetap kesal.
" Buram dong Pi " tawa Aulia.
" Ya itu cantiknya Dia " sahut Dimas, tetap di tertawakan Aulia diiringi tatapan kesal Sandra.
Setia menemani keduanya di sofa, Dimas memperhatikan dengan kesal juga membuang napas kasar. Sandra tak berhenti protes ketika tangan Aulia harus berhenti karena tertawa akan ucapan Papinya yang menyela Sandra.
****
Puas menyelesaikan liburan, semuanya sudah kembali dengan sekolah sudah mulai aktif. Dimas dan Rena pun sudah kembali pada pekerjaan mereka masing masing, dan hanya bisa berkumpul ketika sore dan malam hari. Hari hari sudah berjalan seperti biasa, dengan Aulia tidak mau lagi mengingat akan ibu nya lagim Benar benar sudah tidak mau mengingat luka itu, dan membebani dirinya sendiri.
Setiap hari hingga bulan yang berganti, hanya di lalui Aulia bersama kebahagiaan. Keluarganya selalu ada untuk mendampingi Aulia setiap saat. Bahkan Brian, semakin gencar mengerjai Kakaknya itu. Hingga hanya ada kebahagiaan tanpa kebencian dalam keluarga mereka.
__ADS_1
( Di skip ya biar gak panjang banget, berapa tahun kemudian gitu ya) hahahahaha