Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Pintar dulu.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


"Pinter dulu terus punya penghasilan baru lamar anak orang, sekolah belum tamat udah mau lamar lamar anak orang aja. Urusin tuh latihan piano biar dapat duit banyak" protes Dimas diiringi senyum istrinya.


"Kan udah dapat duit pi, duitnya dikasih ke mami semua. Lulus SMA lamaran ya pi, kan aku ganteng pi takut nanti di colong orang duluan" goda Brian mengedipkan mata berulang kali.


"Luna nya aja udah di colong orang, mau lamar siapa kamu?" celetuk Rena menggoda putranya.


"Ya kali aja jodoh mi, kalau jodoh kan engga ketukar kaya mami sama papi" cengengesan Brian menjawab dengan tetap memijat kaki maminya.


"Jodoh engga ketukar, tapi jodoh ketikung kalau kamu. Udah ah papi mau mandi, jagain mami bentar. Awas lecet" ucap Dimas mengacak rambut putranya.


"Ketikung kaya poin aja, tuh author sering mulung ketikung terus" gumam lirih Brian (curhat dikit, hahaha).


Dimas pergi melangkah ke rung ganti untuk mengambil pakaian sendiri, setelah itu langsung ke kamar mandi. Brian masih memijat kaki maminya dengan kasih sayang. Matanya sendu melihat wanita di sayangi juga dicintainya terlihat lemas dan pucat. Sayup sayup, mata Rena mulai terpejam dengan tetap dijaga putranya.


Setiap upah yang diperoleh Brian dari bermain piano, selalu di berikan penuh pada maminya. Tidak sedikitpun Brian mengambil uangnya, dan tidak menerima satu rupiah pun dari maminya dari gaji yang ia peroleh. Rena tidak pernah menyentuh uang hasil keringat putranya, dan menabungkannya sendiri. Kelak uang yang terkumpul dari putranya bermain piano tersebut akan dibelikan sebuah rumah, sebagai wujud nyata keringat putranya dari usia delpan tahun. Sebuah rumah yang akan ditempati Brian bersama keluarga kecilnya kelak.


Di luar, sudah ada Dion mewakili mertuanya untuk bertemu dengan Ayah Sisi bersama Rendi dan Teddi. Sedangkan Aulia mengajak Sandra dan Dinda untuk pergi bergabung bersama Keno di depan TV, di sana juga ada Natalie dan Siska. Sementara Erwin tengah di kamar tersambung panggilan video bersama sekretarisnya untuk membahas pekerjaan.


Sandra terlihat murung mengetahui Sisi datang, ia menyandarkan tubuh pada mamanya. Tetap saja Sandra tidak menyukai Sisi yang selalu dekat dengan Rendi dimanapun mereka ada. Entah sekolah atau tempat les. Meski masih kecil dan centil, sebenarnya dalam diri Sandra sudah terlihat sikap dewasa yang terkadang ditunjukkan. Sama hal nya Aulia waktu kecil, Sandra dan Dinda juga memiliki kedewasaan serta wawasan luas dibalik sikap manja anak seusia mereka.


"Kenapa sih?" tanya Siska mencubit gemas pipi Sandra yang bersandar pada sisi tubuh bagian kirinya.


"Kenapa sih yayang Rendi engga pernah suka sama aku ma?" sendu Sandra, ditatap semua orang tengah menikmati acara TV tersebut.

__ADS_1


"Sandra galau ya?" tanya Aulia yang duduk di karpet bulu di bawah sofa bed depan TV bersama Dinda.


"Bukan galau lagi kak, teriris hati Sandra" sambung Dinda berlebihan dengan gerakan tangan menyayat pada dadanya, berekspresi terluka, langsung di di tarik hidungnya oleh Aulia.


"Sayang, kamu masih kecil jangan dulu urusin cinta cinta. Mama dulu seusia kamu engga tahu tuh cinta apaan, lihat deh kak Auli dia juga engga tahu gitu gitu waktu kecil" ucap Siska membelai rambur putrinya.


"Lagian kamu gimana ceritanya bisa suka sama Rendi coba? Rendi kaya kutub gitu di sukai, suka tuh model model kak Brian gitu" sahut Natalie tertawa kecil.


"Ah mama sama nenek ini engga tau apa kalau cinta itu engga bisa memilih, tapi kita yang dipilih sama cinta" sahut Sandra memainkan kedua tangan ketika bicara.


"Hm mulai deh" ucap Aulia tertawa lalu meletakkan kepala di atas pangkuan neneknya.


Natalie tertawa kembali dengan mengusap lembut kepala cucunya. Keluarganga tetap saja belum bisa memahami perasaan Sandra yang betah bertahan mengagumi si cuek dan dingin Rendi dari kecil. Padahal tidak sekalipun Rendi menghiraukan perasaan Sandra, yang memang terlalu kecil untuk memikirkan hal semacam itu.


"Manja banget, adik kamu mana?" tegur Tyo berdiri di balik sofa.


"Tadi di sini, kayanya pergi ke kak Dion di depan" santai Sandra menjawab.


"Kayanya, jadi kakak kok engga tanggung jawab gini" pungkas Tyo berlalu pergi mencari putranya.


Dion masuk ke dalam setelah Tyo keluar, Keno tengah asik bermain bola di depan bersama Rendi juga Sisi. Dion langsung menghampiri istrinya di ruang TV dan berpamitan untuk mandi sebentar di kamar. Aulia mengikuti suaminya pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian.


"Ria tadi ngapain telpon kamu?" tanya Aulia sembari mencarikan pakaian, begitu mereka masuk ke dalam kamar.


"Oh tadi dia di toko terus aku engga ada, makanya telpon aku katanya mau cari furniture di suruh mamanya" santai Dion menjawab dengan melepas kaos.

__ADS_1


"Oh" singkat Aulia, di hampiri oleh Dion.


"Cemburu?" goda Dion tersenyum sudah berdiri di samping Aulia.


"Engga, udah kamu mandi dulu sana" lembut Aulia menyerahkan satu setel pakaian sudah di ambilnya untuk Dion.


"Mandi bareng yuk" ajak Dion dengan bercanda.


"Udah kamu mandi aja, aku mau beres beres kamar" jawab Aulia melangkah melewati tubuh suaminya untuk membereskan kamar, di tahan pergelangan tangannya oleh Dion.


"Sayang, kalau cemburu ngomong aja cemburu aku seneng kok kalau kamu cemburu. Muka kamu kelihatan banget tuh engga enaknya" ucap Dion seraya menggoda dengan menatap wajah lesu istrinya.


"Engga, aku cuma kaget aja kok kalian masih hubungan, tadi aku pikir ada apa" sahut Aulia melebarkan senyum.


"Ya kan emang nomor nya engga ganti makanya dia tau. Dia sering kok beli di toko, udah gitu aja engga ada lainnya. Aku selain urusan kerjaan juga engga pernah angkat telpon atau balas pesan cewek lain" jelas Dion.


"Iya, aku percaya" senyum Aulia.


"Gemes banget kalau udah cemburu gini. bawaannya pengen cium sama peluk terus" genit Dion mencubit pipi istrinya.


"Dimana nyambungnya coba?" tersenyum Aulia menggelengkan kepala.


Dion meraih mendekat pinggang Aulia dan memeluknya, masih tetap membawa pakaian di tangan. Ria adalah seorang gadis yang terang terangan menyatakan cintanya pada Dion sewaktu di SMA, bahkan dia juga sempat memperingatkan kasad Aulia agar tidak lagi dekat dekat dengan Dion. Namun Aulia kala itu hanya menjawab dengan senyum semua kata kata dari Ria.


Mengingat semua perkataan Maminya untuk tidak membalas siapapun yang menyakiti, Aulia selalu membalas setiap orang yang berbuat buruk padanya dengan senyum juga tutur kata yang baik. Meski emosi labil dari seorang remaja juga sering membuatnya terpancing, namun bisa di atasi sendiri oleh Aulia untuk tetap bisa menahan diri tanpa adanya keributan.

__ADS_1


__ADS_2