Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 19


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH.


Dengan sesegera mungkin Dimas turun menggunakan lift khusus CEO yang berada di lantai atas.


Sesampai nya di bawah Dimas segera meminta tolong seorang pegawai untuk mengambilkan mobil di parkiran khusus. Sambil menunggu kendaraannya sampai, Dimas berdiri di depan sambil menelfon seseorang yang telah dia percaya untuk mengurus Cafe milik nya.


"Mas, maaf ya kamu jadi harus kembali lagi ke sini." ucap perempuan tengah berdiri di samping suaminya itu, karena Rena mengira jika suaminya telah kembali untuk pulang lebih dulu.


Dimas dengan segera mematikan sambungan telfon begitu mendengar suara Rena dan menoleh.


"Engga kok, aku belum balik tadi masih terima telfon di sini dari tadi." jawab Dimas pada Rena seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana.


Tidak berapa lama, mobil milik Dimas telah sampai dan berhenti tepat di depan Dimas. Turun lah seorang berkemeja biru muda lengkap dengan dasi dan celana panjang hitam menghampiri Rena dan Dimas.


"Silahkan pak." seru pria berkaca mata itu sambil sedikit membungkukkan tubuh di hadapan Dimas. Rena yang sedari tadi melihat suaminya begitu sangat di hormati bahkan mulai setibanya mereka di kantor, hanya berfikir mungkin itu adalah cara pegawai kantor di sini memperlakukan setiap orang yang datang dengan menggunakan kendaraan.


"Ayo, kita pulang Ren biar kamu bisa cepat istirahat." ajak Dimas meraih tangan Rena dan membukakan pintu mobil lalu membantu nya masuk ke dalam mobil.


Dimas dengan perlahan membantu Rena untuk mengenakan sabuk pengaman, yang membuat Rena merasa sangat gugup dan wajahnya menjadi merah padam karena posisi Dimas sangat dekat. Setelah memasangkan sabuk untuk istrinya, Dimas pun menoleh ke arah istrinya yang sangat dekat hingga hidung mancung keduanya hampir saja menempel. Dimas tersenyum melihat Rena terlihat sangat gugup dengan wajahnya yang merah padam.


Lelaki masih terukir senyum pada wajahnya itu, segera memutar tubuh menuju pintu kemudi dan mulai masuk ke dalam, menyalakan mesin kendaraan lalu bergegas untuk kembali ke rumah.


"Kamu mau makan dulu enggak? kan tadi berangkat belum sempat sarapan dulu." ucap Dimas sambil sesekali melihat ke arah Rena dan fokus kembali ke jalan yang sedikit lenggang pada jam kerja.


"Engga usah mas, aku mau makan di rumah saja. Besok pagi Auli sudah harus berangkat ke Bali bersama om dan tante nya jadi aku mau habiskan waktu bersama Auli mas." sahut Rena tersenyum mengarah ke suaminya.


Dimas mengelus rambut istrinya bersama senyum yang mengembang tulus.

__ADS_1


"Oke." tersenyum Dimas masih mengusap rambut Rena.


Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya Dimas dan Rena pun sampai di halaman rumah yang tengah berada Auli dan tante nya bermain monopoli bersama bi Lastri di halaman rumah.


"Seneng banget anak mami ini? Tapi kok mainnya di lantai sayang?" tanya Rena yang sedari turun dari mobil tadi melihat putrinya tengah asik sambil tertawa bersama tante dan bi Lastri.


"Mami." sahut Auli memeluk tubuh Rena tengah berjongkok di sampingnya.


"Maaf mba, tadi Auli yang minta untuk main di sini mba" terang Siska.


"Iya engga apa kok dek, kalian semua sudah makan?" sahut Rena seraya bertanya.


"Sudah mba, tadi Auli begitu pulang merasa sangat lapar dan langsung minta makan sama bi Lastri." terang Siska kembali.


Dimas menyusul anak dan istri nya yang tengah berbincang bersama bi Lastri dan adik ipar nya sambil memainkan permainan di bawah mereka.


" lKamu kan belum sarapan mas, makan dulu sebelum pergi." sahut Rena seraya bangkit dari posisi jongkok.


"Ya sudah kamu temani aku makan ya, kan kamu juga belum makan." jawab Dimas yang sebenarnya harus buru buru berangkat.


"Auli ayo makan sama mami sama papi." ajak Dimas sambil mengelus rambut putrinya yang juga ikut berdiri bersama maminya tadi.


"Auli sudah makan papi, Auli mau main." jawab Auli dengan nada cempreng imut khasnya, di cubit gemas pipinya oleh Dimas.


"Ya sudah mami sama papi makan dulu ya sayang." ucap Dimas lagi, merangkulkan tangan melingkar di pinggang istrinya menuju meja makan.


"Malu mas.." seru Rena sedikit menjauhkan tubuh dari suaminya, namun dengan cepat Dimas manarik kembali tubuh Rena mendekat.

__ADS_1


Bi Lastri dan Siska memperhatikan mereka berdua pun tersenyum bahagia.


"Mas sayang banget sama mba Rena ya, Bi." ucap Siska pada bi Lastri dengan tersenyum dan matanya masih tertuju pada Dimas dan Rena.


" Iya Non, bibi ikut bahagia lihat Bapak bahagia." sahut bi Lastri tulus.


Sesampainya di meja makan Dimas menarik kursi untuk Rena dan mengambilkan makanan di piring, lalu memberikannya pada Rena. Setelah mengambilkan makan untuk istrinya Dimas pun mengambil duduk di dekat perempuan menatapnya aneh.


"Kok cuma satu mas, mas engga sarapan?" tanya Rena heran kenapa Dimas tidak mengambil makan untuk dirinya sendiri.


"Ini kan udah." sahut Dimas yang menarik piring di hadapan Rena dan memakannya, bergantian dengan dirinya menyuapi istri tengah terkejut dengan perlakuan Dimas, namun selalu menerima suapan yang di berikan setelah Dimas memakan lebih dulu.


"Mas engga jijik berbagi sendok sama aku?" tanya Rena menatap lekat suaminya.


"Engga, kamu kan istri aku kenapa aku jijik?" sahut Dimas menyuapkan makanan ke mulut Rena.


Dimas dan Rena memakan habis sarapan mereka bersama. Lalu Dimas beranjak pergi ke kamar meninggalkan Rena di meja makan, untuk mengambil obat. Setelah mengambil obat untuk istrinya, Dimas memberikan obat yang telah ia buka lebih dulu kepada Rena dengan tangannya langsung ke mulut Rena dan memberikan minum sembari tersenyum.


"Yasudah aku jalan dulu ya." pamit Dimas membelai rambut di ujung kepala istrinya, lalu mencium keningnya.


Lagi lagi perlakuan Dimas yang sangat manis pagi ini kepada dirinya membuat Rena terkejut. Pasalnya memang ini adalah pertama kali Dimas bertingkah sangat romantis dan penuh perhatian padanya. Rena kemudianmengantar suaminya ke depan rumah.


"Kamu jangan lupa makan dan minum obat ya, terus istirahat." ucap Dimas sebelum menaiki mobil.


"Iya mas, kamu juga jangan lupa makan siang dan hati hati di jalan." sahut Rena mencium tangan suaminya.


Sebenarnya hari ini Dimas ingin menjaga Rena dan menghabiskan waktu dengan Rena dan putrinya, namun karena memang harus mengurus beberapa hal di cafe langsung, terpaksa Dimas harus pergi. Berat hati, Dimas mulai melajukan kendaraan meninggalkan istri yang masih berdiri di teras rumah dengan melebarkan senyum.

__ADS_1


Matanya terus mengamati dari arah spion mobil, tersenyum mendapati wajah cantik juga tersenyum melambaikan tangan.


__ADS_2